Pemerintah Kejar Target 96 Juta Keluarga Masuk Perlinsos Digital
Perlinsos Digital telah mencatat 18,2 juta keluarga. Pemerintah menargetkan 96 juta keluarga terdaftar pada akhir 2026.
Di usia 55 tahun, Dewi Handayani menyelesaikan S1 Psikologi UMBY setelah 30 tahun mengabdi sebagai akademisi bidang teknik. /Istimewa.
Harianjogja.com, JOGJA—Usia 55 tahun tidak menyurutkan semangat Dr. Ir. Dewi Handayani, ST., MT., IPU. untuk kembali menempuh pendidikan tinggi. Setelah berkarier selama 30 tahun sebagai akademisi bidang teknik, dosen Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta tersebut berhasil menyelesaikan pendidikan S1 Psikologi di Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY).
Dewi yang kini menjabat sebagai Kepala Program Studi S1 Terapan Manajemen Konstruksi Sekolah Vokasi UNS itu merupakan penerima Penghargaan Satyalancana Karya Satya 30 Tahun Pengabdian.
Keputusannya mengambil pendidikan psikologi di UMBY didasarkan pada pertimbangan kualitas akademik dan akreditasi program studi.
"UMBY saat itu adalah satu-satunya perguruan tinggi dengan Program Studi S1 Psikologi terakreditasi A yang menerima Kelas Karyawan. Bagi saya sebagai akademisi, akreditasi adalah pertimbangan utama," ungkap sosok yang akrab disapa Dewi tersebut.
Memahami Manusia Lewat Ilmu Psikologi
Selama ini, Dewi dikenal sebagai akademisi yang menekuni bidang teknik. Pengalaman tersebut membuatnya terbiasa dengan prinsip bahwa seorang engineer harus mampu menjadi pemecah masalah atau problem solver.
Namun, ketertarikannya terhadap psikologi justru tumbuh dari keinginan mempelajari sisi lain kehidupan manusia. Menurutnya, psikologi merupakan ilmu yang unik karena mempelajari sesuatu yang tidak kasatmata, yakni jiwa manusia.
Sebagai pendidik, Dewi merasa pengetahuan psikologi dibutuhkan untuk membantu mengembangkan potensi mahasiswa sekaligus memahami karakter generasi muda yang tumbuh dalam lingkungan dan zaman berbeda.
"Sebagai pendidik, saya merasa memerlukan ilmu psikologi untuk mengembangkan potensi anak didik serta memahami jiwa-jiwa muda di era yang berbeda. Namun lebih dari itu, ilmu ini penting untuk memahami diri sendiri dan lingkungan," jelasnya.
Dewi juga menaruh perhatian terhadap persoalan kesehatan mental pada kelompok usia senior. Menurutnya, tidak sedikit orang lanjut usia yang membutuhkan pendampingan secara emosional, tetapi enggan mengungkapkan kesedihan atau kelemahan karena merasa harus selalu terlihat kuat di hadapan keluarga.
"Banyak dari kita lansia yang sebenarnya perlu ditemani jiwanya, tetapi malu atau dianggap tidak layak untuk sedih dan lemah karena harus selalu tampak tegar bagi keluarga. Melalui psikologi, kita belajar memahami dan menerima kondisi tersebut."
Kuliah Bersama Mahasiswa yang Lebih Muda
Menjalani dua peran sekaligus sebagai dosen UNS dan mahasiswa S1 Psikologi UMBY menghadirkan tantangan tersendiri bagi Dewi. Salah satu hal yang harus dikelola ialah pembagian waktu antara pekerjaan dan kegiatan perkuliahan.
Meski demikian, pengalaman belajar bersama mahasiswa yang usianya jauh lebih muda justru menjadi bagian menyenangkan selama menjalani pendidikan.
Dewi mengaku menikmati interaksi dengan teman-teman kuliahnya, termasuk ketika harus mengerjakan tugas kelompok. Sesekali, kebiasaannya sebagai dosen terbawa saat menghadapi rekan satu kelompok yang belum segera menyelesaikan tugas.
"Senang dan seru, saya merasa disayang oleh teman-teman. Tapi kadang terbawa mental dosen juga, suka gemes kalau ada tugas kelompok yang tidak segera diselesaikan," kelakarnya.
Dari berbagai kegiatan perkuliahan, praktikum dan Kuliah Kerja Nyata (KKN) menjadi pengalaman yang paling membekas baginya. Dewi juga mengapresiasi dukungan dosen dan teman-teman seangkatannya selama menempuh pendidikan.
Ia mengakui, ada masa ketika dirinya hampir menyerah. Namun, dorongan dari lingkungan kampus membantunya bertahan hingga berhasil menyelesaikan studi.
"Tanpa dukungan teman-teman dan dosen, ada saatnya saya ingin menyerah. Khususnya kepada Dosen Pembimbing Skripsi sekaligus Kaprodi S1 Psikologi UMBY, Santi Esterlita Purnamasari, M.Si., Psikolog, yang terus memberi dorongan semangat hingga saya berhasil menyelesaikan studi," tutur Dewi.
Ilmu Baru untuk Memperluas Pengabdian
Setelah meraih gelar Sarjana Psikologi, Dewi berkomitmen memanfaatkan pengetahuan yang diperolehnya untuk pengembangan diri. Ia juga ingin memperluas kontribusinya sebagai pendidik, terutama dalam membina dosen-dosen muda dan mahasiswa.
Bagi Dewi, proses belajar tidak semestinya dibatasi usia maupun keadaan. Pengalaman menyelesaikan pendidikan psikologi di tengah kesibukan sebagai dosen menjadi bukti bahwa kesempatan untuk menambah pengetahuan selalu terbuka.
Di akhir wawancara, ia menyampaikan pesan kepada generasi muda maupun masyarakat luas agar tidak ragu melanjutkan pendidikan hanya karena persoalan usia atau keterbatasan keadaan.
"Jangan ragu untuk bercita-cita dalam belajar apa pun. Jangan kalah sama jargon Gojek: Pasti Ada Jalan. Dan ingat, be careful with what you wish for," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Perlinsos Digital telah mencatat 18,2 juta keluarga. Pemerintah menargetkan 96 juta keluarga terdaftar pada akhir 2026.
Kemendikdasmen merevitalisasi 1.277 SMK pada 2026, terdiri atas 553 sekolah negeri dan 724 swasta untuk memperkuat pembelajaran vokasi.
Sejumlah Pengurus Kapanewon Golkar Gunungkidul meminta musda digelar demokratis sesuai AD/ART dan menolak penunjukan Plt.
PSIM Jogja kalah 1-2 dari Dewa United pada pekan ke-9 Super League 2026/2027. Gol injury time tim tamu sempat diprotes pemain tuan rumah.
Pemerintah menyampaikan belasungkawa atas gugurnya tiga prajurit TNI AD dalam kecelakaan helikopter saat menjalankan misi pemadaman karhutla di Seruyan.
Sebanyak 51 pelajar mengikuti Kejurkab Panjat Tebing Kulonprogo 2026. FPTI berharap dukungan fasilitas latihan untuk mengejar target tiga medali PORDA DIY 2027.