Kembangkan AI untuk Masyarakat, Dhomas Hatta Raih Profesor di Usia 40 Tahun

Sunartono
Sunartono Kamis, 22 Oktober 2026 19:37 WIB
Kembangkan AI untuk Masyarakat, Dhomas Hatta Raih Profesor di Usia 40 Tahun

Dhomas Hatta Fudholi menjadi profesor UII ke-49 pada 2026. Kepakarannya meliputi penambangan data, AI, dan riset teknologi untuk masyarakat. /Istimewa.

Harianjogja.com, SLEMAN—Universitas Islam Indonesia (UII) menambah jumlah profesor aktif menjadi 49 orang pada 2026. Jabatan akademik tertinggi tersebut kini diraih Dhomas Hatta Fudholi, dosen Program Studi Informatika, Fakultas Teknologi Industri UII, dengan kepakaran di bidang Penambangan Data dan Penemuan Pengetahuan.

Surat keputusan kenaikan jabatan akademik Dhomas diserahkan secara simbolis oleh Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah V Profesor Setyabudi Indartono kepada Rektor UII Profesor Hari Purnomo. Selanjutnya, rektor menyerahkan surat keputusan tersebut kepada Dhomas dalam acara di Gedung Prof. Dr. dr. Sardjito, M.D., M.P.H., Kampus Terpadu UII, Kamis (22/10/2026).

Penambahan profesor ini memperkuat sumber daya akademik UII dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Kampus tersebut juga masih memiliki peluang menambah jumlah profesor seiring peningkatan kualifikasi pendidikan dan jabatan akademik dosen.

Saat ini, UII memiliki 773 dosen, dengan 211 di antaranya bergelar doktor. Sebanyak 129 dosen telah menduduki jabatan akademik lektor kepala, sedangkan 58 dosen memenuhi syarat untuk diusulkan menjadi profesor.

UII juga mengintensifkan pendampingan melalui program percepatan di tingkat universitas dan fakultas. Selain itu, terdapat lima dosen yang masih menunggu hasil penilaian pengajuan jabatan akademik profesor.

Rektor UII Profesor Hari Purnomo menyampaikan ucapan selamat kepada Dhomas atas pencapaian tersebut. Menurut dia, raihan jabatan profesor dalam bidang Penambangan Data dan Penemuan Pengetahuan menjadi prestasi yang membanggakan sekaligus memperkuat kapasitas akademik dan riset UII.

"Harapan kami dapat menginspirasi dosen UII lainnya untuk terus meningkatkan kinerja akademik dan kontribusi keilmuan bagi kemajuan masyarakat, bangsa, dan umat. Pak Dhomas ini baru berusia 40 tahun," katanya.

Profesor sebagai Amanah Akademik

Bagi Dhomas Hatta, jabatan profesor bukanlah akhir perjalanan akademik. Ia memandang pencapaian tersebut sebagai amanah baru untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Di tengah perkembangan kecerdasan buatan, tanggung jawab akademisi juga mencakup ketelitian dalam berpikir, pemahaman terhadap keterbatasan teknologi, serta kebiasaan memverifikasi informasi.

“Profesor bukan puncak, melainkan amanah untuk memastikan ilmu terus bermanfaat dan diwariskan,” katanya Dhomas.

Perjalanan akademik Dhomas dimulai melalui pendidikan sarjana di Universitas Gadjah Mada pada 2003. Ia kemudian menempuh pendidikan magister di King Mongkut’s Institute of Technology Ladkrabang, Thailand, pada 2008–2010.

Pada 2016, Dhomas meraih gelar doktor di bidang ilmu komputer dan rekayasa komputer dari La Trobe University, Australia, sebelum kembali mengabdi di UII.

Karier akademiknya berlanjut dengan meraih jabatan lektor pada 2018, lektor kepala pada 2022, dan profesor pada Oktober 2026. Pengalaman mengajar, meneliti, menulis, mengabdi, serta mengelola program studi turut membentuk pandangannya tentang pentingnya konsistensi dan kemauan untuk terus belajar.

Ia juga mengakui peran keluarga, rekan kerja, dan mahasiswa dalam perjalanan akademiknya. “Pengetahuan yang baik tumbuh dari kerja bersama dan dari kesediaan untuk saling mengoreksi,” ujarnya.

Mengembangkan AI yang Dapat Dipercaya

Kepakaran Dhomas berfokus pada pengolahan data dalam jumlah besar menjadi pengetahuan bermakna yang dapat mendukung pengambilan keputusan. Bidang kajiannya mencakup ontologi, sains data, pembelajaran mendalam, pemrosesan bahasa alami, serta pengelolaan data dan pengetahuan.

Menurut Dhomas, kecerdasan buatan generatif memperluas kemampuan mesin dalam menghasilkan teks, kode, gambar, dan suara, sekaligus menyusun serta merangkum informasi. Namun, teknologi ini juga memiliki risiko halusinasi, yakni menghasilkan jawaban yang terdengar meyakinkan meskipun tidak benar.

“Tugas kita bukan sekadar menambang data, melainkan memastikan pengetahuan yang dihasilkan dapat ditelusuri, dapat dipertanggungjawabkan, dan berpihak pada fakta serta kebenaran,” katanya.

Ke depan, Dhomas ingin mengembangkan AI yang merujuk pada sumber tepercaya melalui pendekatan Retrieval-Augmented Generation (RAG). Ia juga ingin mengembangkan kemampuan AI dalam memahami kearifan lokal melalui penyesuaian model atau fine-tuning.

Selain itu, ia mendorong pemanfaatan model berbobot terbuka yang dapat dijalankan secara mandiri. Pendekatan ini memungkinkan institusi mengolah data sensitif, termasuk rekam medis dan dokumen internal, di lingkungan mereka sendiri.

Untuk memperluas akses terhadap pengetahuan, Dhomas bersama sejumlah dosen juga tengah menyiapkan karya tulis berbahasa Indonesia mengenai kecerdasan buatan generatif. Karya tersebut diharapkan dapat menjembatani pemahaman teori dan praktik.

Riset AI untuk Kebutuhan Masyarakat

Dhomas mengarahkan penelitiannya untuk mengubah data menjadi solusi yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Sejumlah riset dikembangkan untuk bahasa Indonesia, sementara sebagian lainnya menggunakan model ringan yang dapat dijalankan melalui ponsel agar lebih terjangkau di wilayah dengan sumber daya terbatas.

Bersama mahasiswa dan rekan peneliti, ia mengembangkan sistem yang mengubah gambar menjadi deskripsi lisan berbahasa Indonesia untuk membantu penyandang tunanetra.

Dalam bidang kesehatan, penelitiannya meliputi prediksi kesehatan mental berdasarkan media sosial, deteksi kelainan toraks, klasifikasi penyakit kulit berbasis perangkat bergerak, pengenalan nama obat dalam teks, analisis umpan balik pengguna telemedisin, serta mitigasi pneumonia dengan memperhitungkan faktor iklim.

Di sektor infrastruktur publik, riset pindAI dimanfaatkan untuk mendeteksi kerusakan jalan secara otomatis.

Sementara itu, di bidang pendidikan, Dhomas meneliti respons publik terhadap Kurikulum Merdeka menggunakan IndoBERT. Ia juga mengembangkan pemodelan faktor yang memengaruhi prestasi belajar siswa berdasarkan Data Pokok Pendidikan (Dapodik), yang dapat menjadi masukan bagi pengambil kebijakan.

Penelitian lainnya mencakup deteksi ujaran kebencian dan misinformasi Covid-19, rekomendasi dan perencanaan wisata, analisis ulasan hotel, serta pemantauan ketersediaan produk di rak ritel.

Dhomas juga mengembangkan LDAViewer untuk membantu peneliti, khususnya peneliti muda, memetakan topik mutakhir dari ribuan artikel ilmiah secara otomatis.

Dalam pengembangan berbagai teknologi tersebut, ia menekankan pentingnya pengukuran yang jelas, pengawasan manusia, perlindungan data pribadi, dan pelaporan hasil penelitian secara jujur.

“Teknologi ini pada akhirnya dinilai dari dampaknya bagi masyarakat, bukan dari kecanggihannya,” ujarnya.

Tiga Kemampuan Penting di Era AI

Perkembangan model dan aplikasi AI yang berlangsung cepat membuat kemampuan manusia dalam memahami dan memeriksa informasi tetap penting. Dhomas menyoroti tiga kemampuan yang perlu terus dibangun, yakni merumuskan masalah secara jelas, berpikir kritis terhadap keluaran mesin, dan menguasai bidang ilmu secara mendalam.

Ketiganya menjadi dasar untuk menentukan pertanyaan yang relevan, memeriksa informasi, dan menilai ketepatan jawaban yang dihasilkan AI.

“AI boleh jadi semakin pandai menghasilkan, tetapi hanya orang yang menguasai bidangnya yang mampu menilai apakah hasil itu benar,” katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online