Anak Muda Diajak Menghidupkan Gagasan Keadilan Sosial Islam

Sunartono
Sunartono Sabtu, 07 November 2026 19:07 WIB
Anak Muda Diajak Menghidupkan Gagasan Keadilan Sosial Islam

PKB Sleman menggelar dialog sosialisme Islam bersama tokoh NU, Muhammadiyah, dan FKUB untuk membahas keadilan sosial serta persoalan anak muda. /Istimewa.

Harianjogja.com, SLEMAN—Persoalan kesejahteraan guru, pekerja kreatif, hingga pengemudi ojek online menjadi bagian dari pembahasan dalam dialog sosialisme Islam yang digelar Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kabupaten Sleman, Sabtu (7/11/2026).

Forum yang melibatkan anak muda dan sejumlah tokoh tersebut membahas relevansi pemikiran Hadji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto dan Ali Syariati dalam menjawab persoalan sosial masyarakat saat ini. Kegiatan bertajuk Srawung Kawruh - Dialog Anak Muda Terkait Sosialisme Islam, Inspirasi untuk Generasi Muda itu berlangsung di Omah Dahar Mbah Wanto, Berbah, Sleman.

Diskusi yang dikemas dalam bentuk bedah buku tersebut diselenggarakan atas arahan langsung Ketua Umum DPP PKB Muhaimin Iskandar. Buku setebal 289 halaman karya Eko Supriyadi yang menjadi bahan pembahasan mengulas pemikiran Tjokroaminoto dan Ali Syariati.

Tiga narasumber dari kalangan organisasi keagamaan dan akademisi dihadirkan dalam forum tersebut. Mereka adalah KH Aguk Irawan MN mewakili Nahdliyin, Mutiullah mewakili Muhammadiyah, serta aktivis Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Hastho Bramantyo.

Kegiatan itu juga dihadiri Ketua DPC PKB Sleman Tri Nugroho, Sekretaris Rahayu Widi Nuryani Bendahara Wanto, serta jajaran anggota Fraksi PKB DPRD Kabupaten Sleman.

Empat Gagasan Sosialisme Islam

Ketua DPC PKB Sleman Tri Nugroho mengatakan pemikiran sosialisme Islam memiliki landasan moral dan politik yang masih relevan dengan kebutuhan masyarakat. Salah satu nilai yang ditekankan adalah keadilan sosial agar setiap warga memperoleh perlakuan setara.

"Di dalam dasar-dasar sosialisme Islam ini ada rasa keadilan dan politik keadilan sosial bagi kita untuk setidaknya mendapatkan perlakuan yang adil," ujar Tri.

Dia kemudian menguraikan empat prinsip utama yang menjadi intisari gagasan sosialisme Islam. Pertama, persamaan derajat, yakni setiap individu memiliki kedudukan setara di hadapan Allah SWT tanpa membedakan latar belakang.

Kedua, kepedulian sosial yang diwujudkan melalui dorongan kolektif untuk mendampingi dan membantu kelompok rentan, termasuk warga miskin dan anak yatim.

Ketiga, pemerataan ekonomi. Prinsip ini menekankan agar pembangunan dan kesejahteraan dapat dirasakan bersama secara adil.

Keempat, keberpihakan nyata, yaitu tindakan konkret partai politik dan masyarakat dalam merespons berbagai persoalan sosial di daerah.

Tri berharap pembahasan pemikiran Tjokroaminoto dan Ali Syariati melalui buku karya Eko Supriyadi tersebut dapat menumbuhkan kepedulian generasi muda Sleman terhadap persoalan keumatan dan kemanusiaan.

Pemikiran Ali Syariati dan Perlawanan terhadap Ketertindasan

Dalam pembahasan buku tersebut, KH Aguk Irawan mengulas pemikiran Ali Syariati, tokoh intelektual Islam revolusioner asal Iran. Menurut Aguk, Syariati memandang agama bukan semata-mata sebagai kumpulan ritual maupun teologi formal, melainkan juga memiliki peran dalam pembebasan sosial.

"Islam tidak dilihat sekadar dari segi fikih ibadah atau muamalah, tetapi sebagai gerakan revolusioner yang berpihak kepada mustadhafin," kata Aguk.

Dia menjelaskan gagasan sosialisme yang berlandaskan Tauhid dapat menjadi instrumen untuk membendung kapitalisme dan neokolonialisme. Selain itu, pemikiran Syariati mengenai kepemimpinan (al-imamah), umat (al-ummah), dan gerakan sosial dinilai tetap penting untuk dipelajari generasi muda.

Partai Politik Diminta Mengawal Perubahan Struktural

Sementara itu, Dr Mutiullah dari kalangan Muhammadiyah mengapresiasi ruang diskusi yang dibuka partai politik untuk membahas persoalan ideologi secara mendalam. Menurutnya, pembahasan pemikiran Tjokroaminoto dan Ali Syariati di lingkungan partai menunjukkan adanya persoalan mendasar dalam kehidupan bernegara yang belum tuntas dan perlu diadvokasi.

Dia menilai perubahan struktural membutuhkan keterlibatan partai politik, terutama melalui fungsi legislasi dan penyusunan kebijakan publik. Peran tersebut disebutnya sebagai bentuk "jihad konstitusi".

Pandangan mengenai pentingnya penerapan gagasan dalam tindakan nyata juga disampaikan Hastho Bramantyo. Dia mengingatkan agar pemikiran teologi tidak berhenti pada pembahasan konseptual, tetapi diwujudkan melalui gerakan yang memberikan dampak langsung kepada masyarakat.

Hastho mendorong anak muda mengambil peran di lingkungan masing-masing, mulai dari desa, masjid, hingga komunitas tempat mereka beraktivitas. Menurutnya, partai politik juga dapat mendukung gerakan tersebut agar aspirasi masyarakat memperoleh perhatian pemerintah.

“Yang muda-muda ini jadi penggerak di tingkatnya masing-masing, desa, di masjidnya, di lingkungan, bagaimana memikirkan ini. Nanti didukung partai juga. Kalau akademisi, enggak didengar pemerintah. Tapi kalau yang ngomong partai, dan saya senang ada partai yang mulai memikirkan ideologi ini dipakai di partai untuk sebuah gerakan,” katanya.

Dia juga menekankan perlunya keberanian untuk mewujudkan amar ma'ruf nahi mungkar dalam kehidupan sosial. Sejumlah persoalan yang menurutnya membutuhkan perhatian dan pengawalan kebijakan konkret antara lain kesejahteraan guru, pekerja kreatif, serta pengemudi transportasi daring atau ojek online.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online