Jogja Butuh Rusunawa Lebih dari 3

Bhekti Suryani
Bhekti Suryani Rabu, 30 Januari 2013 17:35 WIB
Jogja Butuh Rusunawa Lebih dari 3

Ilustrasi (google.news)

http://images.harianjogja.com/2013/01/7kantor-tinom1-370x277.jpg" alt="" width="370" height="277" />JOGJA -- Kota Jogja yang memiliki kepadatan penduduk tinggi, butuh rumah susun sederhana sewa (rusunawa) lebih banyak. Sayangnya, kota ini baru memiliki tiga rusunawa.

Kepala Seksi Permukiman Bidang Permukiman dan Saluran Air Limbah Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah (Kimpraswil) Kota Jogja, Hanida Yuswahadi menyebutkan, tak ada pembangunan rusunawa untuk Kota tahun ini. Kendati kebutuhan permukiman jenis ini sangat mendesak.

Pemkot Jogja sengaja tak mengajukan pembangunan rusunawa ke pemerintah pusat. Sebab membangun permukiman minimal seluas 1.000 meter persegi itu bukan perkara mudah. Persoalan ketersediaan lahan bakal jadi hambatan utama.

Ia menceritakan sulitnya membebaskan lahan untuk pembangunan rusunawa. Pembangunan rusunawa di daerah Juminahan misalnya, Pemkot harus memaksa penduduk untuk pindah lantaran permukiman di sekitar sungai tersebut sudah begitu padat dan kumuh.

Selama pembangunan digarap, Pemkot harus menyediakan rumah kontrakan untuk 10 Kepala Keluarga (KK) yang tergusur sebelum mereka menempati hunian baru.

Padahal kata Hanida, lahan di sekitar sungai tersebut sedianya tanah Kraton atau wedi kengser alias tanah negara, seharusnya lebih mudah untuk dibebaskan.

Dari tahun ke tahun permukiman padat makin bertambah dan kekumuhan semakin menyebar. Kimpraswil mencatat, kantong kekumuhan terutama berada di sepanjang sungai seperti Code, Gadjah Wong dan Winongo.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Laila Rochmatin
Laila Rochmatin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Artikel Penulis