Bursa Mineral Prabowo Didukung APNI, Ini Syaratnya
APNI mendukung BMKS gagasan Prabowo. Bursa mineral dinilai bisa mengubah posisi Indonesia dari price taker menjadi market maker.
Foto Kejung Gunungkidul JIBI/Harian Jogja/Gilang Jiwana
http://www.harianjogja.com/?attachment_id=399684" rel="attachment wp-att-399684">http://images.harianjogja.com/2013/04/24_Kepiting1-210x310.jpg" alt="" width="210" height="310" />GUNUNGKIDUL—Musim hujan menjadi berkah bagi warga Dusun Winangun, Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus. Mereka bisa mendapatkan bahan makanan kaya protein tanpa harus mengeluarkan banyak tenaga. Berkantong-kantong plastik anakan kepiting bisa mereka kumpulkan untuk diolah menjadi lauk pauk bagi keluarga.
Ketika Harian Jogja mengunjungi Pantai Jogan di Desa Purwodadi, Selasa (23/4), sekelompok warga tampak sibuk di sela-sela ceruk batu. Mereka membawa kantong plastik dan mulai mengambil sesuatu dari ceruk itu. Mereka tengah menangkap anak kepiting air tawar atau yang mereka sebut kejung.
Bagi mereka, menangkap kejung ceperti mengambil air. Dalam ceruk batu itu, terdapat ribuan kejung yang berkumpul menjadi satu, sehingga warga tinggal meraup kejung yang jumlahnya ribuan dan memasukkannya ke dalam kantung plastik.
Mantoyo, 64, salah satu warga dusun Winangun yang ikut mengambil kejung mengatakan, anak kepiting itu biasa ada hanya pada akhir musim hujan. Saat itu, kepiting-kepiting dewasa memasuki masa kawin dan bertelur sehingga jumlah kejung melimpah.
Biasanya, kejung terdapat pada ceruk batu di aliran air sungai yang berudara dingin. Pada musim seperti ini, warga beramai-ramai berburu anakan kepiting yang ukutannya tak lebih dari dua milimeter ini.
Cara menangkapnya menurut Mantoyo tak sulit. Warga tinggal meraup saja sesuai kebutuhan. Uniknya, meski kerap diambil, kejung-kejung itu tak tampak berkurang jumlahnya.
“Kadang ada yang mengambil satu plastik, kadang ada yang cuma mengambil segelas. Tapi kalau sedang musim diambil seberapa pun tetap saja banyak,” tutur Mantoyo.
Mantoyo mengatakan, biasanya kejung-kejung itu diolah warga menjadi makanan ringan, tetapi ada pula yang mengolahnya menjadi campuran sayur. “Rasanya gurih-gurih, tidak keras karena masih anakan,” ujarnya.
Lain Mantoyo, lain pula Salim, 33. Warga Winangun ini juga mengumpulkan kejung tetapi tidak untuk dikonsumsinya. Menurutnya, kejung-kejung itu memiliki nilai ekonomis yang lumayan.
Salim mengaku, dia biasa mengumpulkan kejung dalam ukuran cangkir dan menjualnya seharga Rp2.000 per cangkir.
Peminatnya menurut Salim adalah warga-warga pedesaan yang ingin variasi lauk pauk yang berbeda. Selain itu, menurutnya, warga meyakini kejung memiliki kandungan protein yang tinggi dan baik unutk dikonsumsi.
“Beberapa ada juga yang pesan. Kalau musim seperti ini mudah mencarinya, tapi kalau mulai masuk kemarau sudah langka,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
APNI mendukung BMKS gagasan Prabowo. Bursa mineral dinilai bisa mengubah posisi Indonesia dari price taker menjadi market maker.
Gempa magnitudo 3,5 di Bantul menyebabkan dua rumah warga di Sorosutan, Kota Jogja, mengalami retak pada bagian tembok ruang tamu.
Setelah memperkenalkan logo dan moto baru “Dare to Be”, HONOR memperkuat kehadirannya di Indonesia melalui HONOR Tour.
The Script konser di Indonesia Arena 3 April 2027. Pre-sale tiket Jumat 21/8 mulai Rp650 ribu. The Calling bintang tamu spesial.
Hampir tujuh dekade, Astra tumbuh bersama Indonesia melalui inovasi, kolaborasi, dan kontribusi yang diharapkan terus memberikan manfaat bagi masyarakat.
Tiga PNS Pemkab Gunungkidul maju dalam Pilur 2026. Seluruhnya telah mengajukan cuti sesuai aturan sebelum ditetapkan sebagai calon lurah.