Mahasiswa UGM Kreasikan Cemilan dari Kembang Sepatu

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Rabu, 05 Juni 2013 07:27 WIB
Mahasiswa UGM Kreasikan Cemilan dari Kembang Sepatu

Kembang sepatu atau hibiscus rosa-sinensis l bukan sekadar bunga hias. Mahkota kembang sepatu yang mengandung anti-oksidan tinggi dapat diolah menjadi obat herbal yang mujarab.

Di tangan lima mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), potensi alam ini sepatu diolah menjadi camilan ringan dan sehat.

Adalah Venni Winta Pratiwi, Dita Hanna dan Masmur Kristi Pamuji dari program studi keperawatan UGM serta Abigail Christine dan Rizqi Mahanani dari Farmasi UGM yang tergelitik mengembangkan potensi kembang sepatu.

Menurut Venni ketertarikan tim pada hibiscus rosa-sinensis l dimulai saat jurnal luar negeri mencantumkan kandungan tanaman tersebut.

“Mahkota kembang sepatu kaya zat-zat yang dibutuhkan manusia. Seperti polifenol dan flavonoid sebagai anti oksidan, mineral dan vitamin C yang dapat menyembuhkan sakit batuk, mimisan, disentri, infeksi saluran kencing, haid tidak teratur dan memperlancar metabolisme tubuh,” jelasnya saat ditemui di Fakultas Kedokteran (FK) UGM, Selasa (4/6/2013).

Sebagai negara tropis, lanjutnya, Indonesia berpotensi mengembangkan tanaman tersebut. Sayang, kekayaan alam ini belum dimanfaatkan sepenuhnya.

Sebut saja Dusun Randu Desa Hargobingangun di Sleman Utara, tanaman dengan nama lain kembang worawari ini tumbuh subur tetapi hanya dimanfaatkan sebagai pagar hidup.

Melihat potensi ini, tim akhirnya memberanikan diri mengolah kembang sepatu sebagai cemilan sehat dengan mengirimkan proposal penelitian pada Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) kategori kewirausahaan.

Beruntung inisiatif ini disambut positif DIKTI Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan mendapat limpahan bantuan dana sebesar Rp9,5 juta.

Selama tiga bulan, kelimanya berusaha mempersiapkan olahan kembang sepatu dengan mendapatkan suplai dari Dusun Randu. Tiap minggu tim mendapatkan kiriman bahan baku sebanyak 1kg dengan harga Rp7.500 per kg.

Tanaman tersebut akhirnya diolah menjadi tiga produk seperti kue kering, permen jelly dan puding. Menurut Rizqi 1kg bahan baku cukup untuk dikembangkan. Sebab produk yang berukuran terbesar kue kering sebanyak 1kg hanya membutuhkan seperempat kg mahkota kembang sepatu.

Tim sengaja mempertahankan keasliaan bahan alam sehingga tidak menambah bahan pengawet. Atas alasan ini produk hanya dapat bertahan selama 20-30 hari. Dalam dua bulan terakhir, tim berhasil memproduksi 805 bungkus kue kering ukuran kecil, 354 puding dan 397 permen jelly dan memperoleh omzet sebanyak Rp3,5 juta dan laba bersih Rp1,6 juta.

“Kami memberikan nama 'Bang Sulam' kependekan dari kembang sepatu untuk olahan makanan terkini. Selain itu, Bang Sulam sendiri adalah nama tokoh dalam sebuah sinetron yang sekarang naik daun. Dengan nama itu, kami berharap merek kami lebih cepat diterima dan diingat,” jelas Dita.

Mengenai pemasaran, sambung Abigail, tim memilih menggunakan jejaring sosial untuk berjualan. Selain itu, tim juga menitipkan dagangan di swalayan sekitar UGM serta Sleman.

Agar dapat terjangkau, kelimanya memberikan patokan harga yang ringan. Seperti kue kering kecil seharga Rp3000 per bungkus, berukuran besar Rp14.500 per bungkus, sedangkan permen dan puding Rp1.500 per bungkus.

Kedepan, tim Bang Sulam ini berencana lebih detil dalam proses produksi. Seperti mengajak lebih banyak masyarakat di Dusun Randu menanam kembang sepatu di pekarangan sehingga hasil produksi dapat ditingkatkan. Kebetulan, imbuh Masmur, tim juga sudah mendapat dukungan dari ketua RT setempat.

Disamping itu, tim berencana menambah produk olahan untuk memberikan variasi pilihan kepada konsumen. Namun sampai saat ini kelimanya belum memutuskan varian produk anyar yang bakal dipilih.

Yang jelas, tegas dia, produk tetap mengedepankan ciri khas 'Bang Sulam' panganan ringan yang menyehatkan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Maya Herawati
Maya Herawati Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online