Lengkap! Jadwal KRL Solo-Jogja 23 Mei 2026 dari Palur ke Tugu
Cek jadwal lengkap KRL Solo–Jogja terbaru 23 Mei 2026. Tarif Rp8.000, rute Palur–Tugu, cocok untuk komuter dan wisata.
Harianjogja.com-Mungkin Anda tak percaya kalau penyandang disabilitas mampu menciptakan sebuah film. Tapi itulah faktanya. Dua film garapan penyandang disabilitas video diary di mana baik aktor hingga proses produksinya dilakukan penyandang disabilitas. Kok bisa?
Banyak penonton yang terkagum nan haru usai pemutaran film bertajuk video diary yang diproduksi oleh 19 orang dengan disabilitas penglihatan, pendengaran dan fisik pada Rabu (11/12/2013) di Bioskop Empire XXI Jogja.
Ada dua judul film, “Di mana akses Kami?” dan “Job (un) Fair”, yang dipertontonkan kekhalayak. Masing-masing film berdurasi 30 menit.
Film “Di mana akses Kami?” disutradarai oleh Anindya Chiptasami (tuna daksa), Anto, Jejen Juanda (tuna netra), Maria Theresia Lanina (disabilitas fisik), Puti Irra Puspasari (tuna daksa), Sri Puriyanti (disabilitas fisik), Toto Sugiharto (tuna rungu) dan Yudhi Hermawan (tuna netra).
Film ini menyoroti belum ramahnya tata kota terhadap kaum tuna daksa, sedikitnya guiding block di trotoar bagi tuna netra dan tidak ramahnya fasilitas publik bagi pengguna kursi roda.
Sementara, Film “Job (un) Fair” disutradarai oleh Aris Yohanes (tuna netra), Abdul Rauf (disabilitas fiksik), Fajar, Kezia Agata Oktavia (tuna netra), Lifiana (disabilitas fiksik), Laura Lesmana (tuna rungu), dan sejumlah penyandang disabilitas lainnya.
Laiknya aktor dan aktris pada sinetron, mereka memeragakan perannya masing-masing. Mereka menggunakan kata-kata, pilihan gambar mereka sendiri. Film tersebut merekam keseharian, perjuangan, perjalanan dan harapan para penyandang. Sebelum membuat film tersebut, mereka mendapat pelatihan dan pendampingan selama satu bulan (Oktober).
“Selama satu bulan itu, mereka secara mandiri mengidentifikasi pengalaman, kesulitan, harapan dan aspirasi menggunakan metode video diary,” ujar Ketua Yayasan Kampung Halaman Dian Herdiany saat peluncuran film.
Wawan misalnya, meski memiliki keterbatasan pada kedua matanya, mengambil posisi sebagai kameraman. Hasil garapannya pun sangat muaskan penonton. Bagaimana dia bisa mengambil gambar film? Selain memaksimalkan indera pendengaran, saat mengambil gambar Wawan memanfaatkan cahaya hitam dan putih saja pada layar pada kamera.
“Kalau sudah objek hitamnya terlihat jelas, baru di shoot . Saya masih memiliki sedikit penglihatan. Tapi, untuk kamera harus pilih-pilih, jangan terlalu bagus atau jelek,” canda Wawan.
Nuning Suryaningsih, Direktur Ciqal dan penyandang tuna daksa mengatakan, untuk bisa memfasiltasi kalangan disabilitas dalam mengakses pekerjaan, yang perlu dilakukan pertama kali adalah mengubah pola pikir yang selama ini salah memperlakukan kalangan disabilitas.
Keterampilan penting, tetapi etos kerja dan mental juga harus diprioritaskan. Di internal penyandang disabilitas, ini perlu dibenahi juga. Kalau mau bekerja, harus mampu dan bersaing dengan pihak luar,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Cek jadwal lengkap KRL Solo–Jogja terbaru 23 Mei 2026. Tarif Rp8.000, rute Palur–Tugu, cocok untuk komuter dan wisata.
DPD DIY dorong percepatan pengesahan RUU Masyarakat Adat demi kepastian hukum dan perlindungan hak masyarakat adat.
Penelitian terbaru ungkap pola tulisan tangan bisa jadi indikator awal penurunan fungsi kognitif pada lansia.
Rupiah melemah ke Rp17.800, DPR tegaskan kondisi bukan krisis 1998. Sektor perbankan dinilai masih stabil.
Tren wisata 2026 berubah, turis kini cari pengalaman emosional, healing, dan perjalanan bermakna ke Jepang, Korea, hingga China.
Peringatan 20 tahun gempa Jogja jadi momentum penguatan kesiapsiagaan bencana berbasis teknologi, kolaborasi, dan edukasi masyarakat.