Anggaran Paskibraka Jateng Dipangkas, Kuota Tetap 45 Orang
Anggaran Paskibraka Jateng 2026 turun menjadi Rp500 juta-Rp600 juta. Kuota 45 peserta tetap dipertahankan untuk upacara HUT RI.
Harian Jogja/Kusnul Isti Qomah Supardiono, Warga Desa Monggol menunjukkan tumpukan tanaman jagung dan kacang sisa-sia serangan monyet ekor panjang di desa itu, Selasa (14/1).
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Petani di Desa Monggol, Saptosari, Gunungkidul mengeluhkan serangan monyet ekor panjang (Macaca Fascicularis) yang semakin liar dan merusak tanaman pertanian warga. Di Kecamatan Ponjong, monyet merusak puluhan hektare lahan pertanian warga.
Salah satu petani yang memiliki lahan di Dusun Ngelo, Monggol, Sukamto menuturkan tanaman ketela yang ia tanam di lahan seluas 40x50 meter ludes. Sukamto sengaja tidak memanen ketela tersebut terlebih dahulu dengan maksud ukurannya agar lebih besar.
“Saya dapat kabar dari tetangga. Begitu saya cek ternyata ketela saya sudah dicabuti semua. Batangnya juga sudah disusun berjajar di galengan, tidak jadi panen,” tutur dia kepada harianjogja.com di Desa Monggol, Selasa (14/1/2014).
Hal serupa dialami Supardiono yang harus merelakan tanaman kacangnya. Serangan monyet ekor panjang hanya menyisakan kacang sekitar tiga kilogram. Supardiono mengaku kaget begitu mengeetahui ladangnya sudah diporak-porandakan monyet. “Padahal kalau bisa panen paling tidak saya bisa membawa pulang empat sak. Satu sak seberat 27 kilogram. Sekarang harga kacang sedang bagus, bisa mencapai Rp10.000 setiap kilogramnya,” tutur dia.
Warga pun harus waspada 24 jam menjaga ladangnya. Terlena sebentar saja monyet-monyet tersebut akan menyerang. Tak jarang petani histeris mengetahui ladangnya sudah hancur. “Biasanya ibu-ibu itu yang histeris. Mereka menangis di ladang. Apalagi sebentar lagi panen. Petani harus menanam dan merawat tanaman, tapi ketika hendak dipanen harus berhadapan dengan monyet,” papar dia.
Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Gunungkidul Supriyadi mengaku sampai saat ini cara untuk mengusir kera hanya dengan memberi sumber makanan ke monyet dengan tanaman buah di habitatnya. “Harus nunggu berbuah dulu. Kalau belum berbuah monyet pasti mencari makanan ke ladang,” kata dia.
Langkah darurat yang harus dilakukan petani, kata Supriyadi, dengan mengusir hewan jenis mamalia tersebut baik secara langsung maupun mengunakan kentongan secara bersama-sama. Dia mengimbau untuk tidak membunuhnya karena monyet merupakan hewan yang dilindungi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Anggaran Paskibraka Jateng 2026 turun menjadi Rp500 juta-Rp600 juta. Kuota 45 peserta tetap dipertahankan untuk upacara HUT RI.
Upaya melestarikan bahasa dan aksara Jawa terus dilakukan di tengah perkembangan teknologi digital.
BSSN mengingatkan AI membuat serangan siber ke sektor keuangan makin otomatis, personal, dan sulit dibedakan dari komunikasi asli.
Wayang Jogja Night Carnival (WJNC) 2026 tak lagi sekadar menjadi acara puncak HUT Kota Jogja. Perayaan yang memasuki tahun ke-10 itu dikemas menjadi WJNC Festiv
PSEL Piyungan diproyeksikan mengolah 1.000 ton sampah per hari. DIY menyiapkan pasokan dari Gunungkidul, Kulonprogo hingga Jateng.
Taman Budaya Yogyakarta (TBY) akan menggelar Lomba dan Pameran Fotografi Rana Budaya #4 dengan tajuk FYP (For Your People), sekaligus pameran arsip