Kehancuran Ekologi RI di Balik Transisi Energi Disuarakan di COP30
Nasib banyak Masyarakat Adat justru kian terancam oleh ambisi transisi energi global.
Ilustrasi kekerasan (JIBI/Harian Jogja/Dok.)
Harianjogja.com, BANTUL—Siswa yang mengalami trauma karena kekerasan yang dilakukan guru tak hanya satu kasus. Kini ada lagi siswa yang telah lama berhenti sekolah karena trauma setelah mengalami kekerasan psikologis dari guru.
Sebelumnya satu siswa berinisial LY, trauma setelah dilempar penghapus oleh guru mata pelajaran Agama, bernama Budi Gunawan. Siswa kelas III SD Kanggotan, Wonokormo, Pleret, Bantul ini tidak masuk sekolah hampir dua pekan setelah dilempar guru agamanya dengan penghapus papan tulis.
Kasus yang baru saja ditemukan Harian Jogja, menimpa LRM, 10. Siswa kelas IV ini telah berhenti sekolah sejak Agustus 2013 lalu. Nurofiq, 45, orangtua LRM menuturkan anaknya diduga menjadi korban kemarahan guru SD berinisial H yang tidak lain adalah wali kelasnya.
LRM memang tidak mengalami kekerasan fisik seperti dilempar dengan penghapus. Dia diduga mengalami kekerasan psikologis karena dimarahi oleh guru H. Sayangnya kata Nurofiq, anaknya itu sangat tertutup. Ia tidak pernah menceritakan apa yang menyebabkan dirinya tidak mau sekolah.
Kecurigaan bahwa LRM mengalami kekerasan psikologis dari gurunya setelah mendengar cerita dari rekan-rekan LRM dan anak tetangganya yang juga trauma tidak masuk sekolah karena dimarahi oleh guru H. Menurut teman-teman anaknya, guru H terkenal garang.
Kasus anak tetangganya juga trauma karena dimarahi oleh guru H. “Anak tetangga saya itu sampai enggak masuk selama sepuluh hari, gara-gara trauma,” ungkap Nurofiq, Selasa (25/2/2014).
Lantaran tidak mau masuk sekolah berbulan-bulan, Kepala SD Kanggotan dan Guru H akhirnya menyambangi rumah Nurofiq. Mereka membujuk agar LRM kembali sekolah. Kepala Sekolah bahkan menawarkan akan memindahkan guru H menjadi wali kelas III agar anaknya mau sekolah.
Namun LRM tetap tidak bisa dibujuk, ia bahkan tidak berani bertemu guru H tersebut saat mereka bertamu. Nurofiq berinisiatif mencarikan sekolah baru untuk LRM, namun yang bersangkutan tetap tidak mau sekolah.
“Mau tidak mau mulai ajaran baru nanti baru saya sekolahkan lagi, sepertinya sudah mau dia untuk masuk. Sekarang anaknya hanya di rumah saja, kan ketinggalan pelajaran,” tuturnya.
Harus Dipanggil
Ihwal, trauma yang dialami sejumlah murid SD Kanggotan, Kepala SD setempat Sutini belum mau diwawancari saat media ini mencoba mengonfirmasi. Sutini mengaku tengah sibuk rapat. “Saya lagi sibuk rapat sekarang,” katanya.
Sementara itu Jupriyanto, Sekretaris Komisi D DPRD Bantul yang membidangi masalah pendidikan menyatakan, akan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Dasar Bantul mengenai dugaan tindak kekerasan yang dialami sejumlah siswa SD Kanggotan.
“Guru yang bersangkutan harus dipanggil, kalau bisa dibina ya dibina untuk tidak mengulangi kalau tetap tidak bisa dibina ya dikantorkan [dipindah ke bagian pelayanan pendidikan bukan sebagai guru],” terangnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Nasib banyak Masyarakat Adat justru kian terancam oleh ambisi transisi energi global.
Pengadaan TKD pengganti YIA di Palihan dan Glagah masih stagnan. Warga khawatir dana ganti rugi hangus jika tak segera direalisasikan.
Penelitian terbaru menunjukkan AI mampu memperpanjang usia baterai mobil listrik hingga 23 persen tanpa memperlambat pengisian daya.
Penyandang disabilitas saat ini telah menjadi bagian dari kelompok masyarakat yang memainkan peran yang sama pentingnya dengan masyarakat umum dalam sektor
Libur panjang Kenaikan Yesus Kristus mendongkrak kunjungan wisata Gunungkidul hingga 145 ribu orang dengan PAD mencapai Rp1,7 miliar.
Menyapa konsumen setia Honda, Astra Motor Yogyakarta kembali hadir dengan Honda Premium Matic Day (HPMD)