SOLO, 24/11 - JOB MARKET FAIR. Pengunjung Job Market Fair melihat lowongan kerja dalam bursa kerja di Graha Wisata, Solo, Jateng, Selasa (24/11). Bursa kerja yang diadakan oleh Disnas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Kependudukan Jawa Tengah yang berlangsung selama 2 hari tersebut menyediakan berbagai lowongan kerja dari sejumlah perusahaan dan bertujuan untuk mengurangi angka pengangguran. Foto ANTARA/Hasan Sakri Ghozali/ss/nz/09
Harianjogja.com, JOGJA-Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kota Jogja menyatakan bahwa persentase pengangguran tertinggi merupakan sarjana lulusan perguruan tinggi.
Hal tersebut diungkapkan Sri Hartati, Pengantar Kerja Madya Dinsosnakertrans Kota Jogja. Ia menyebutkan berdasarkan data Biro Pusat Statistik (BPS) hingga akhir 2013, terdapat 187.205 pengangguran di Kota Jogja, dengan 16.097 di antaranya merupakan pengangguran usia produktif, serta mayoritas lulusan sarjana.
Persentase pencari kerja (pencaker) yang terdata Dinsosnakertrans saat ini, terdiri dari 0,24% pencaker lulusan Sekolah Dasar, 1,68% lulusan Sekolah Menengah Pertama, 26,89% Sekolah Menengah Atas, 5,05% lulusan Diploma dan 60,14% lulusan Strata.
“Selain kami bantu penyebaran mereka di dunia kerja di sektor formal, kami juga memberikan pemberdayaan dan program kewirausahaan, di sektor informal,” ungkap perempuan yang disapa Ati tersebut, pada Senin (23/6/2014)
Ia menambahkan, meski terjadi penyerapan sebesar 3.000 tenaga kerja di tiap tahunnya, jumlah pengangguran di Kota Jogja mengalami masa fluktuatif. Penurunan jumlah pengangguran, katanya, diiringi kembali dengan jumlah kenaikan dari lulusan-lulusan baru.
Kendala lain masih tingginya angka pengangguran dari lulusan sarjana, adalah sulitnya bagi perusahaan menemukan tenaga kerja yang berkualifikasi, dipertemukan dengan kesulitan para sarjana dalam meraih pekerjaan di perusahaan impian.
“Tidak sedikit yang masih idealis, ingin sesuai jurusan, dan kemauan. Tapi perusahaan juga sulit, untuk menemukan, apakah para pelamar tersebut sesuai dengan kualifikasi yang dibutuhkan. Maka, itu juga yang perlu dipahami oleh para pencaker,” imbuh Ambar Kusuma Astuti, kepala Pusat Penempatan Kerja dan Pengembangan Kewirausahaan Universitas Kristen Duta Wacana.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Tags: