PAD Wisata Gunungkidul Lampaui Target di Tengah Sorotan Kebocoran
PAD sektor wisata Gunungkidul mencapai Rp43,3 miliar hingga akhir Juli 2026 dan melampaui target di tengah evaluasi penarikan retribusi.
Warga Jerukwudel, Kecamatan Girisubo memanfaatkan air Telaga Wotawati untuk keperluan mencuci dan mandi. foto diambil Selasa (3/6/2014). (JIBI/Harian Jogja/David Kurniawan)
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Mayoritas telaga di Gunungkidul mengalami kekeringan tiap tahun. Dari 280 telaga, hanya 70 telaga yang dapat dimanfaatkan warga. Sisanya sekitar 210 telaga mengering. Kekeringan di telaga banyak disebabkan karena proses sedimentasi, sehingga berdampak pada debit air.
Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Gunungkidul Syarief Armunanto mengatakan memasuki musim
kemarau, banyak telaga di Gunungkidul mengalami kekeringan. Sementara, telaga yang dapat digunakan hanya seperempatnya.
“Kami sudah melakukan pendataan. Hasilnya, dari 280 telaga hanya 70 telaga yang bisa dimanfaatkan,” katanya saat ditemui di
Kantor Pemerintahan Kabupaten Gunungkidul, Jumat (12/9/2014).
Syarief menjelaskan proses sedimentasi diperparah dengan penguapan air di musim kemarau. Namun, tak jarang kekeringan terjadi
dikarenakan ulah manusia.
“Kekeringan disebabkan karena faktor alam atau pun ulah manusia. Ke depan, kami berusaha untuk mengatasi kekeringan itu,” ungkap dia.
Lebih jauh dikatakan Syarief, telaga yang mengalami pendangkalan sebanyak 232 telaga. Upaya pengerukan pernah dilakukan di Telaga Mongol, Saptosari. Namun, hasilnya tidak sesuai dengan harapan. Pasalnya, saat proses pengerukan selesai, air di telaga itu malah cepat mengering.
“Kami sedang mengkaji untuk menggunakan metode geomembran untuk mengatasi kekeringan di telaga. Mudah-mudahan teknologi tersebut bisa berhasil,” kata dia lagi.
Metode geomembran merupakan adopsi teknologi pembuatan embung di Nglanggeran. Rencana, area embung atau telaga akan diberikan lapisan plastik sehingga mampu mempertahankan debit air yang ada. Teknologi ini akan diterapkan di dua embung, yakni di Gunungpanggung, Ponjong dan Telaga Pilangrejo, Nglipar.
“Kami belum bisa menjangkau keseluruhan telaga karena keterbatasan anggaran. Namun, dibandingkan dengan melakukan revitalisasi, penggunaan geomembran lebih murah,” ungkap dia.
Terpisah, Wakil Bupati Gunungkidul Immawan Wahyudi mengatakan pembangunan telaga harus melibatkan peran masyarakat sekitar. Namun, yang tak kalah penting pembangunannya harus tetap memerhatikan nilai-nilai kearifan lokal di wilayah tersebut.
Telaga di Gunungkidul tersebar di sepuluh kecamatan, yakni Paliyan ada sepuluh telaga, Saptosari 21 telaga, Purwosari 31 telaga, Panggang 22 telaga. Sementara, sisanya di Kecamatan Tepus ada 32 telaga, Tanjungsari 27 telaga, Semanu 42 telaga,
Ponjong 21 telaga, Rongkop 48 telaga, dan Girisubo 27 telaga.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
PAD sektor wisata Gunungkidul mencapai Rp43,3 miliar hingga akhir Juli 2026 dan melampaui target di tengah evaluasi penarikan retribusi.
AZ Alkmaar menjuarai Johan Cruyff Shield 2026 setelah mengalahkan PSV Eindhoven 4-0. PSV bermain dengan 10 pemain sejak menit kesembilan.
KKB menyerang pekerja proyek jalan PT SHJ di Tolikara, Papua Pegunungan. Lima orang dilaporkan meninggal dunia dan proses evakuasi berlangsung.
Basarnas menyebut 122 korban KMP Mutiara Sentosa II telah tiba di darat. Menhub akan mengevaluasi operator usai investigasi KNKT selesai.
BMKG memprakirakan hujan ringan mengguyur Jakarta Barat, Timur, dan Selatan pada Senin sore hingga malam. Simak juga prakiraan cuaca Jogja.
Ledakan di kantor polisi Kota Kabal, Swat, Pakistan menewaskan 14 orang. Aparat menyelidiki pelaku di tengah meningkatnya kekerasan di wilayah itu.