KEKERINGAN GUNUNGKIDUL : Warga Tepus Bisa Habiskan 13 Tangki Air Bersih

Kusnul Isti Qomah
Kusnul Isti Qomah Selasa, 30 September 2014 23:20 WIB
KEKERINGAN GUNUNGKIDUL : Warga Tepus Bisa Habiskan 13 Tangki Air Bersih

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL-Kekeringan yang dialami warga Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus, Gunungkidul masih berlangsung. Bahkan, saat musim kemarau berlangsung panjang, satu keluarga bisa memerlukan lebih dari 10 tangki air bersih.

Salah satu warga Kotekan, Purwodadi, Tepus, Sudarmo mengatakan tak jarang ia menghabiskan hingga 13 tangki air bersih. Air tersebut ia gunakan untuk keperluan sehari-hari seperti mandi, mencuci, membuat tempe dan memasak.

“Satu tangki air saya beli dengan harga Rp60.000 hingga Rp70.000,” ujar dia, Minggu (28/9/2014).

Sudarmo menambahkan ia harus membeli hingga 13 tangki air jika musim kemarau berlangsung hingga enam bulan. Menurutnya, pengeluaran untuk air besih selama musim kemarau sangat besar mengingat hasil dari bertani dan membuat tempe tidak banyak.

Namun, Sudarmo mencoba berhemat. Ia menyewa sebuah lahan di dekat sumber air Mendolo, kira-kira 50 meter. Ia pun mendirikan sebuah gubug untuk beristirahat dan beraktivitas di siang hari. Ia juga memakai gubug itu untuk membuat tempe. Ia mengatakan sudah menempati lahan tersebut selama empat tahun.

"Saya menyewa dari warga. Satu tahun Rp400.000. Lebih irit air karena saya bisa mengambil sendiri di sumber air," ungkap dia.

Setelah memusatkan aktivitas di dekat sumber air, Sudarmo setidaknya bisa menghemat pengeluaran untuk membeli air. Sebelumnya, ia harus menggunakan hasil menjual tempe dan bertani untuk membeli air di musim kemarau.

"Modal untuk membuat tempe sekitar Rp500.000, hasilnya Rp700.000. Itu hasil produksi sekitar 10 hari. Kalau untuk membeli air, sangat mepet," ujar dia.

Ia mengatakan, ketika musim kemarau, debit air dari Mendolo pun menurun. Biasanya, ada air di tampungan Mendolo. Namun, ketika musim kemarau seperti sekarang, tampungan air pun mengering.

“Saya mengambil air dari aliran Mendolo di bawah tampungan itu. Ada airnya walaupun sedikit,” ujar dia.

Berbeda dengan Sudarmo, warga Dusun Duwet, Desa Purwodadi. Dia memilih berjalan agak jauh untuk mengambil air.

Salah satunya, Rono, 80, yang berjalan sekitar 300 meter dari rumah ke sumber air Wonosari di Dusun Duwet.

Rono membawa jeriken berukuran sekitar 10 liter yang dia gendong menggunakan selendang. Setiap hari, Rono selalu mengambil air di sumber Wonosari. Ia mengatakan, satu jeriken air itu harus cukup untuk keperluan sehari.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Nina Atmasari
Nina Atmasari Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online