Tim Gabungan Tangani Karhutla di Kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani
Meski api telah berhasil dikendalikan, petugas tetap melanjutkan proses mopping up atau penyisiran lokasi
Harianjogja.com, JOGJA-Warga DIY berdesak-desakan untuk memperebutkan gunungan hasil bumi yang digelar Kraton di halaman Majid Gede Kauman, Jogja, Minggu (5/10/2014).
Tradisi tahunan untuk memperingati Hari Raya Idul Adha atau hari kurban diawali dengan iring-iringan lima gunungan dari Kraton sekitar pukul 10.00 WIB. Lima gunungan yang dinamai gunungan Lanang, Wadon, Pepak, Darat, dan Pawuhan itu dikawal oleh ratusan prajurit kraton dengan pakaian adat berbagai macam warna.
Sementara di Alun-alun Utara, ribuan masyarakat sudah menanti iring-iringan gunungan tersebut untuk menyaksikan dari jarak dekat. Sejumlah warga bahkan ingin mengabadikan gunungan melalui kamera maupun kamera ponsel. Riuhnya warga membuat petugas keamanan kraton berkali-kali harus menertibkan warga karena menghalangi jalannya iring-iringan Gunungan dari dalam Kraton menuju Masjid Gede Kauman.
Sampai halaman masjid, kelima gunungan tersebut kemudian dibacakan doa-doa. Namun diakhir penutup doa, warga terlihat tak sabar langsung berebut gunungan. Bahkan, terlihat beberapa warga berusaha memanjat gunungan untuk mengambil hasil bumi.
Sementara warga lainnya berdesak-desakan di sekeliling gunungan. Ada juga yang menunggu sisa-sisa rebutan dari bawah utamanya warga yang sudah sepuh.
Pemandangan tersebut tak lain karena bagi sebagian masyarakat Jogja meyakini gunungan hasil bumi sebagai simbol kemakmuran tersebut akan membawa berkah bagi yang mendapatkannya.
Sambung Sudiwiharjo, 49, salah satunya. Warga Pandak, Bantul ini sengaja datang dari rumah bersama istrinya sejak pagi hari hanya ingin mendapatkan hasil bumi dari gunungan Grebek Besar. Hasil berdesak-desakan dengan warga lainnya, Sambung berhasil mendapatkan kacang panjang, cabe dan beberapa butir jajanan pasar. "Sebagian saya makan, sebagian lagi akan saya simpan di rumah," kata Sambung.
Sambung mengaku hasil bumi bekas Grebek Besar tahun lalu dia masih menyimpannya. "Biar dapat berkahnya Kraton," ucap Sambung
Rukiyah, 55, warga Sewon, Bantul pun demikian. Meski hanya berhasi mendapatkan hasil bumi gunungan dari sisa-sisa. Namun, dia mengaku masih beruntung. "Ya bersyukur masih dapat jajanan pasar yang pada jatuh di bawah," kata Rukiyah.
Sebelumnya, Kepala Bagian Humas Pemda DIY Iswanto dalam keterangannya kepada wartawan, selain lima gunungan yang diperebutkan warga di halaman Masjid Gede Kauman, ada dua gunungan lainnya, yaitu satu gunungan diarak ke Kepatihan dan satu gunungan dibawa ke Pura Pakualaman.
Gunungan yang dibawa ke Kepatihan diserahkan ke Sekda DIY, kemudian dibagikan kepada para pegawai dan masyarakat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Meski api telah berhasil dikendalikan, petugas tetap melanjutkan proses mopping up atau penyisiran lokasi
Akses Tol Jogja-Solo di sekitar Pasar Kalasan akan dilengkapi dua U-turn. Dishub DIY menegaskan fasilitas itu bukan bundaran.
Presiden Prabowo memimpin ratas membahas dampak erupsi Gunung Anak Krakatau, gempa NTT, dan karhutla pada Senin (7/9/2026).
Erupsi Gunung Anak Krakatau berdampak pada 108 penerbangan di Bandara Ngurah Rai Bali dan sekitar 13.000 penumpang.
Anggaran infrastruktur 2027 ketat. Pemerintah menargetkan pembangunan 13,5 km tol melalui dukungan APBN di tiga ruas yang sedang dikonstruksi.
WJNC 2026 bergeser ke Malioboro hingga Titik Nol Kilometer. Pemkot Jogja menargetkan 60.000 pengunjung dan memperpanjang lama tinggal wisatawan.