Jalan ke Gua Pindul Gunungkidul Rusak Parah, Wisatawan Terancam Kabur
Jalan rusak menuju Gua Pindul Gunungkidul dikeluhkan warga. Perbaikan dijadwalkan Juli-Agustus namun belum menyeluruh.
Ilustrasi kloset untuk jamban keluarga sehat. (JIBI/Harian Jogja/Antara)
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL— Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gunungkidul menargetkan pada 2016 mendatang, seluruh desa sudah menerapkan program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). Salah satunya, tiap keluarga diharapkan memiliki jamban secara mandiri.
Meski demikan, tantangan mewujudkan program tersebut tidaklah mudah. Sebab, hingga saat ini, baru ada 25 desa yang menerapkan program kesehatan lingkungan itu. Padahal jumlah total desa di Gunungkidul mencapai 144 desa.
Kepala Bidang Penanggulangan dan Pencegahan Penyakit Dinas Kesehatan Gunungkidul Sumitro mengakui untuk mencapai target tersebut tidaklah mudah. Sebab, selain peran serta dari pemerintah, juga butuh partisipasi dari masyarakat.
“Tantangan berat untuk bisa menyukseskan program kesehatan lingkungan berbasis masyarakat. Meski baru ada 25 desa yang menerapkan program itu, namun kami tetap optimistis bisa selesai tepat waktu,” kata Sumitro kepada Harian Jogja, akhir pekan lalu.
Dia menjelaskan, program STBM terdapat lima pilar di dalamnya. Namun, pemerintah lebih memfokuskan di dua pilar, yakni stop buang air besar sembarangan (BABS) dan cuci tangan dengan sabun.
“Pengelolaan makanan dan minuman yang sehat; pengolahan sampah dengan benar; serta pengolahan limbah cair yang aman merupakan bagian penting dalam program STBM. Namun, pada praktiknya lebih menekankan pada stop BABS dan cuci tangan dengan sabun,” ucap Sumitro.
Menurut dia, dua pilar sangat penting karena keduanya merupakan hal mendasar untuk kesehatan. Untuk menunjang program tersebut, pemerintah terus menggulirkan bantuan kloset kepada masyarakat. “Tahun ini ada 520 kloset yang dibagikan ke masyarakat,” ungkapnya.
Sumitro berharap pemberian bantuan dapat memberikan stimulan kepada masyarakat untuk lebih sadar terhadap kesehatan lingkungan, salah satunya dengan memiliki jamban sendiri. Menurut dia, ada dua faktor penghambat dalam program itu. Pertama, tingkat kesadaran masyarakat yang masih kurang, di mana warga masih sering buang air sembarangan. Kedua, tingkat kemampuan finasial masyarakat juga ikut berpengaruh dalam keberhasilan program STBM.
“Sosialisasi akan terus kami lakukan. Selain itu, kami juga memberikan stimulan berupa pemberian kloset kepada warga. Tidak bisa dipungkiri, ada sebagian warga sudah ingin memiliki jamban sendiri, tapi dari sisi kemampuan ekonomi belum bisa mewujudkannya,” papar Sumitro.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jalan rusak menuju Gua Pindul Gunungkidul dikeluhkan warga. Perbaikan dijadwalkan Juli-Agustus namun belum menyeluruh.
KDMP Tamanmartani menggunakan dana LPDB untuk operasional awal klinik pratama sambil menunggu kerja sama BPJS Kesehatan.
Erina Gudono resmi lulus S2 University of Pennsylvania sambil menjalani peran sebagai ibu bagi Bebingah bersama Kaesang Pangarep.
Jungkook BTS buka lowongan videografer dan editor untuk BTS WORLD TOUR ARIRANG. Simak kriteria dan peluang langka bergabung dengan tur dunia BTS di sini.
FIFA memperkenalkan lagu Dai Dai dari Shakira dan Burna Boy untuk Piala Dunia 2026. Berikut sejarah anthem resmi Piala Dunia.
Bojan Hodak dikabarkan meninggalkan Persib Bandung setelah membawa Maung Bandung meraih tiga gelar Liga Indonesia beruntun.