Erupsi Anak Krakatau Batalkan 5 Penerbangan di Bandara SSK II Pekanbaru
Lima penerbangan di Bandara SSK II Pekanbaru dibatalkan akibat abu vulkanik erupsi Anak Gunung Krakatau.
Harianjogja.com, JOGJA – Konsep ekohidrologi dinilai dapat menjadi solusi atas potensi krisis air bersih yang menimpa wilayah DIY, terutama pasca realisasi atas keluarnya izin pembangunan ratusan hotel baru di wilayah ini.
Hal itu mengemuka dalam diskusi dengan para pakar ekohidrologi dunia yang menggelar acara Konferensi Internasional Ekohidrologi (International Conference on Ecohydrology/ICE) di Hotel Royal Ambarrukmo, Jogja, Senin (10/11/2014).
Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Prof. Iskandar Zulkarnain mengungkapkan konsep dasar ekohidrologi adalah pendekatan pengelolaan sumber daya air dan biodiversitas dalam kesatuan.
Dalam konsep ekohidrologi, lanjutnya, penyediaan air bersih dilakukan dengan memanfaatkan ekosistem yang terdapat di lingkungan. “Pendekatan-pendekatan yang dilakukan itu berbasis ekosistem,” ujarnya.
Hal tersebut, ujarnya, tidak hanya berlaku di wilayah pegunungan atau pedesaan yang relatif lebih kaya akan ekosistem, melainkan juga di wilayah perkotaan yang lebih rentan terhadap persoalan krisis air bersih.
“Contohnya air yang telah digunakan dan menjadi limbah, di-treatment atau dialirkan melalui ekosistem yang disebut wetline atau wilayah basah yang ditanami tanaman-tanaman penyerap polusi. Sehingga kemudian, setelah keluar dari ekosistem, air itu menjadi bersih,” jelasnya.
Konsep ekohidrologi, ujarnya, dapat diterapkan di DIY. Tidak hanya di wilayah pegunungan, lanjutnya, melainkan juga di Kota Jogja. “Masalah air kan kebanyakan justru di kota,” ujarnya.
Professor Maciej Zalewski, penemu konsep ekohidrologi sekaligus Direktur Pusat Ekohidrologi Kawasan Eropa, mengemukakan dengan pemanfaatan konsep ekohidrologi dalam menghadirkan air bersih dapat menekan potensial biaya secara signifikan.
“Efisiensinya dapat berbeda-beda. Namun sebagai gambaran, kita bisa mengeluarkan biaya 10 kali lipat lebih tinggi untuk menghadirkan air bersih melalui teknologi jika dibandingkan dengan menggunakan konsep ekohidrologi. Sangat efisien,” katanya.
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekda DIY Sulistyo mengakui perlu ada upaya harmonisasi keadaan antara pertambahan jumlah penduduk dengan ketersediaan air.
Apalagi, problem DIY tidak hanya terkait dengan pertambahan jumlah penduduk melainkan juga pertambahan jumlah hotel yang menyerap banyak air bersih setiap hari.
“Tadi disampaikan bahwa di Jogja sudah banyak dibangun hotel. Untuk mencari air perlu ke bawah. Sehingga perlu ada solusi agar masyarakat tetap dapat menggunakan air itu untuk kehidupan,” katanya.
Oleh karena itu, lanjutnya, pemerintah saat ini telah mulai melakukan upaya untuk menghidupkan kembali sumber mata air (umbul) yang berada di sekitar DIY.
“Kami sudah mulai menghidupkan kembali umbul-umbul atau dam-dam kecil, seperti di Gunungkidul. Di Kota [Jogja] juga dulu pernah ada umbul dan jadi bangunan-bangunan, ini kamu kita hidupkan kembali,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Lima penerbangan di Bandara SSK II Pekanbaru dibatalkan akibat abu vulkanik erupsi Anak Gunung Krakatau.
DPRD Jogja mendorong layanan shuttle dari berbagai titik menuju Teras Malioboro untuk meningkatkan kunjungan dan menggerakkan UMKM.
Erupsi Anak Krakatau berdampak pada pariwisata Jogja. Sekitar 5%-10% wisman menunda dan membatalkan kunjungan ke DIY.
Trump memerintahkan produk Kanada dihapus dari daftar pengadaan federal AS di tengah perang dagang yang kian memanas dengan Ottawa.
Dua kelompok disabilitas Kulonprogo mendapat bantuan InJourney Airports berupa fasilitas, pelatihan, dan pemberdayaan untuk menopang kemandirian.
Aldila Sutjiadi dan Erin Routliffe terhenti di perempat final US Open 2026 setelah kalah dari Ashlyn Krueger/Robin Montgomery.