PASIR BESI KULONPROGO : Luas Lahan Pabrik Menyusut, Durasi Penambangan Bisa Sampai 40 Tahun

Rabu, 12 November 2014 12:20 WIB
PASIR BESI KULONPROGO : Luas Lahan Pabrik Menyusut, Durasi Penambangan Bisa Sampai 40 Tahun

Harianjogja.com, KULONPROGO—Luas lahan pabrik pengolahan pasir besi (pig iron) di Desa Karangwuni, Kecamatan Wates menyusut dari 225 hektare menjadi 50 hektare.

Hal ini berdampak pada penambahan waktu operasional penambangan pasir besi di pesisir selatan, dari perkiraan semula 20 tahun menjadi sekitar 30 sampai 40 tahun.

Direktur Sumber Daya Manusia (SDM) dan Community Development PT Jogja Magasa Iron (JMI) Heru Priyono menuturkan JMI berkomitmen penuh untuk mempercepat pembangunan pabrik pig iron sehingga salah satu langkah yang diambil adalah menyesuaikan pabrik dengan pembangunan bandara baru.

“Dari hasil penyesuaian lahan yang aman dan diperbolehkan pemerintah untuk pembangunan pabrik hanya seluas 50 hektare,” ujarnya di sela-sela sosialisasi perubahan rencana pembangunan pabrik dan pemagaran lokasi pabrik pig iron di Rumah Kepala Dusun Kebonan, Karangwuni, Wates, Selasa (11/11/2014).

Kendati demikian ia menegaskan perubahan yang dilakukan oleh PT JMI dalam mendirikan pabrik merupakan bagian dari pembangunan bertahap, sehingga sekalipun luas lahan pabrik menyusut namun produksi akan mengalami peningkatan berkala.

“Produksi semula ditargetkan satu juta ton per tahun, namun untuk awal diturunkan menjadi 340.000 ton per tahun,” urainya.

Konsekuensi lain dari penyusutan luas lahan dan penurunan target produksi, sebutnya, waktu operasional proyek ini menjadi lebih lama dan bertambah dua kali lipat dari waktu semula, yakni dari 20 tahun bisa menjadi 40 tahun.

Diungkapkannya, persoalan dengan pembangunan bandara di Kulonprogo membuat PT JMI harus menyesuaikan lokasi dan gambar rancangan pabrik. Hal itu memakan waktu lama yang juga berdampak pada peletakan batu pertama pabrik tak kunjung dilakukan.

“Seharusnya peletakan batu pertama pada akhir 2013, tetapi sampai sekarang masih menunggu hasil penyesuaian disetujui,” imbuhnya.

Terkait sisa lahan yang dimiliki, kata Heru, PT JMI akan membuat integrated farming atau pertanian yang terintegrasi dengan peternakan dan perikanan.

Harapannya, lahan tersebut dapat menjadi kajian penelitian yang diakses banyak orang untuk mengetahui dampak penambangan terhadap pertanian.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Nina Atmasari
Nina Atmasari Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online