DIY Temukan 25 Kasus Kusta, Skrining Aktif Kini Diperkuat

Anisatul Umah
Anisatul Umah Minggu, 12 Juli 2026 13:57 WIB
DIY Temukan 25 Kasus Kusta, Skrining Aktif Kini Diperkuat

Ilustrasi gatal-gatal. - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA— Pemerintah Daerah (Pemda) DIY memperkuat upaya skrining dan penemuan kasus aktif setelah mencatat 25 kasus kusta hingga triwulan II 2026. Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari percepatan eliminasi kusta melalui deteksi dini, pengobatan lebih cepat, serta peningkatan edukasi kepada masyarakat agar penularan dapat ditekan dan stigma terhadap penyintas kusta semakin berkurang.

Data tersebut menjadi perhatian Pemda DIY karena angka penemuan kasus masih berada di bawah target nasional. Kondisi itu dinilai bukan menunjukkan rendahnya kejadian penyakit, melainkan menjadi sinyal perlunya memperluas upaya pencarian kasus sehingga penderita dapat segera memperoleh pengobatan sebelum mengalami komplikasi.

Pemda DIY Perkuat Deteksi Dini dan Surveilans

Komitmen tersebut ditegaskan melalui kehadiran Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam X bersama Kepala Dinas Kesehatan DIY dr. Gregorius Anung Trihadi dalam Konferensi Nasional Kusta 2026 bertema Percepatan Eliminasi Kusta: Komitmen Indonesia, Kolaborasi Global yang digelar di Jakarta, Jumat (10/7/2026).

Forum tersebut mempertemukan pemerintah pusat, pemerintah daerah, organisasi masyarakat, komunitas penyintas, hingga mitra internasional guna memperkuat sinergi menuju Indonesia bebas kusta.

Usai penandatanganan komitmen bersama dalam konferensi tersebut, dr. Gregorius Anung Trihadi mengatakan Sri Paduka memberikan arahan agar berbagai program yang selama ini dijalankan Dinas Kesehatan DIY terus diperkuat.

Langkah tersebut mencakup surveilans aktif, pemantauan kasus, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan di puskesmas dan rumah sakit, hingga penguatan layanan pemeriksaan laboratorium kesehatan.

Menurut Anung, pemerintah pusat saat ini menaruh perhatian pada masih rendahnya penemuan kasus kusta di berbagai daerah. Karena itu, pemerintah daerah didorong lebih aktif melakukan skrining dan deteksi dini agar penderita segera mendapatkan pengobatan sekaligus mengurangi risiko penularan.

"Semakin cepat ditemukan, semakin cepat diobati. Itu yang menjadi fokus pemerintah pusat saat ini. Jangan sampai pasien datang ketika penyakit sudah berkembang dan menimbulkan kecacatan," kata Anung.

Edukasi Masyarakat Jadi Prioritas

Selain memperkuat layanan kesehatan, Sri Paduka juga meminta peningkatan literasi masyarakat mengenai penyakit kusta.

Dinas Kesehatan DIY diminta menjalin kolaborasi dengan Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) DIY untuk menyusun strategi komunikasi publik yang lebih efektif. Melalui langkah tersebut, masyarakat diharapkan mampu mengenali gejala kusta sejak dini sekaligus menghilangkan anggapan bahwa penyakit tersebut merupakan penyakit yang menakutkan.

Anung menjelaskan gejala awal kusta kerap luput dikenali karena umumnya hanya berupa bercak putih, bercak kemerahan, mati rasa, maupun keluhan ringan lainnya. Kondisi itu menyebabkan banyak penderita baru datang ke fasilitas kesehatan ketika penyakit telah berkembang lebih lanjut.

Padahal, menurutnya, kusta merupakan penyakit yang dapat disembuhkan apabila ditangani sejak tahap awal.

"Hingga triwulan II 2026, jumlah kasus kusta yang ditemukan di DIY tercatat sebanyak 25 kasus. Angka tersebut masih jauh di bawah target penemuan kasus yang ditetapkan secara nasional."

Ia menilai kondisi tersebut justru menjadi pengingat agar skrining dan penemuan kasus aktif semakin diperkuat di masyarakat. Dengan adanya komitmen bersama antara pemerintah pusat dan daerah, upaya penanganan kusta diharapkan semakin optimal melalui dukungan seluruh perangkat daerah.

"Ini bukan hanya tugas sektor kesehatan, tetapi membutuhkan kolaborasi seluruh pihak agar edukasi, deteksi dini, dan pendampingan masyarakat dapat berjalan lebih optimal," lanjutnya.

Menkes: Temukan Kasus Sebanyak Mungkin dan Obati Secepatnya

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan kusta merupakan penyakit akibat infeksi bakteri Mycobacterium leprae yang dapat disembuhkan. Pengobatan penyakit tersebut juga tersedia secara gratis di fasilitas pelayanan kesehatan.

Menurut Menkes, tantangan terbesar saat ini bukan pada pengobatannya, melainkan masih banyak penderita yang belum terdeteksi sehingga baru datang berobat setelah mengalami kecacatan.

"Strateginya sederhana, temukan sebanyak-banyaknya dan obati secepat mungkin. Begitu mulai minum obat, pasien tidak lagi menularkan penyakit. Karena itu jangan takut menemukan kasus, justru semakin banyak ditemukan, semakin banyak yang bisa disembuhkan," ujar Menkes.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online