PERTANIAN GUNUNGKIDUL : Sistem Ijon Hantui Petani Durian

David Kurniawan
David Kurniawan Jum'at, 20 Februari 2015 19:40 WIB
PERTANIAN GUNUNGKIDUL : Sistem Ijon Hantui Petani Durian

Pertanian Gunungkidul, terutama bagi petani durian tergiur sistem ijon untuk mendapatkan uang lebih awal.

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Praktik jual beli ijon mulai menghantui petani durian di Kecamatan Patuk. Meski tetap mendapatkan untung, sistem ini justru merugikan petani. Keuntungan yang diperoleh banyak lari ke tengkulak yang berani membeli durian lebih awal.

Camat Patuk Haryo Ambar Suwadi mengaku prihatin ada parktik jual beli buah durian dengan sistem ijon. Pasalnya, keuntungan yang diperoleh petani dengan tengkulak tidak seimbang.

“Memang petani juga mendapatkan untung, tapi tidak banyak. Masak beberapa pohon dijual Rp2 juta. Padahal saat masak harga bisa mencapai Rp7 juta lebih,” kata Ambar, Kamis (19/2/2015).

Awalnya, Ambar mengetahui informasi soal tengkulak durian sebatas desas-desus di masyarakat. Namun, saat mengecek ke petani ternyata benar. Banyak petani menjual durian saat masih setengah matang.

“Dorongan mendapatkan uang lebih awal menjadi godaan para petani. Padahal kalau mau bersabar, keuntungan yang didapat pasti akan lebih besar lagi,” paparnya.

Dia mengaku tidak bisa berbuat banyak, dan berharap petani yang belum menjual agar mau lebih bersabar. Jangan sampai terjebak dengan sistem ijon yang ditawarkan spekulan. Ada baiknya, buah itu dijual saat sudah benar-benar matang.

“Jujur saya sangat gregetan mendengarnya,” ungkapnya.

Dia mengakui, buah durian Patuk memiliki karakteristik dan kelebihan tersendiri dibanding dengan durian dari daerah lain. Rasa manis yang dihasilkan lebih khas, sehingga harga jualnya lebih mahal.

“Harus sabar, dan tidak mudah goyah dengan iming-iming uang yang diberikan tengkulak," lanjut Camat yang pernah meraih Kalpataru ini.

Hal senada diungkapkan Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Gunungkidul Supriyadi. Menurutnya, sistem ijon sangat merugikan petani, karena keuntungan yang diperoleh banyak masuk ke tengkulak.

Mantan Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura itu menegaskan, Pemkab berusaha semaksimal mungkin menggenjot potensi buah durian di Kecamatan Patuk. Petani juga harus merawat dengan benar, dan bukan sekadar menunggu panen berlangsung.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online