Kodim Gunungkidul Siagakan Mobil Tangki untuk Atasi Krisis Air Bersih
Kodim 0730/Gunungkidul menyiagakan mobil tangki air untuk membantu penyaluran air bersih di wilayah terdampak kekeringan. BPBD telah menyalurkan 184 tangki air
Foto ilustrasi ikan tuna - Freepik
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Tingkat kegemaran masyarakat Gunungkidul dalam mengonsumsi ikan terus mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Meski demikian, capaian tersebut masih belum mampu mengejar rata-rata konsumsi ikan di tingkat Daerah Istimewa Yogyakarta maupun nasional.
Data Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Gunungkidul menunjukkan angka konsumsi ikan masyarakat pada 2026 mencapai 32,89 kilogram per kapita per tahun. Angka tersebut meningkat dibandingkan capaian tahun sebelumnya yang berada di level 32,26 kilogram per kapita per tahun.
Kepala Bidang Perikanan Tangkap DKP Gunungkidul, Noor Ichsan, mengatakan tren konsumsi ikan di wilayahnya memang terus bergerak naik dari tahun ke tahun.
Ia menjelaskan pada 2024 tingkat konsumsi ikan masyarakat tercatat sebesar 31,53 kilogram per kapita per tahun. Setahun kemudian naik menjadi 32,26 kilogram per kapita per tahun, sebelum kembali meningkat pada 2026.
“Untuk data terbaru di 2026, angka gemar makan ikan di Gunungkidul naik menjadi 32,89 kilogram per kapita per tahun,” kata Noor, Kamis (6/8/2026).
Kenaikan tersebut menunjukkan adanya perbaikan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya konsumsi ikan sebagai sumber protein dan nutrisi. Namun secara kuantitatif, angka tersebut masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan capaian wilayah lain.
Masih Tertinggal dari DIY dan Nasional
Menurut Noor, konsumsi ikan masyarakat Gunungkidul masih berada di bawah rata-rata DIY maupun nasional.
Berdasarkan data yang dimiliki DKP, tingkat konsumsi ikan masyarakat DIY telah mencapai 36,48 kilogram per kapita per tahun. Sementara itu, angka nasional bahkan hampir dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan Gunungkidul.
“Kalau tingkat nasional lebih tinggi lagi karena mencapai 58,91 kilogram per kapita per tahun,” ujarnya.
Jika dibandingkan dengan rata-rata nasional, konsumsi ikan masyarakat Gunungkidul masih terpaut sekitar 26 kilogram per kapita per tahun.
Perbedaan tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah daerah dalam mendorong perubahan pola konsumsi masyarakat agar lebih banyak mengonsumsi sumber protein dari ikan.
Pola Konsumsi Keluarga Jadi Tantangan
Noor menilai masih rendahnya konsumsi ikan di Gunungkidul dipengaruhi oleh beberapa faktor.
Salah satunya adalah kebiasaan makan dalam keluarga yang lebih memilih sumber protein lain dibandingkan ikan. Selain itu, sebagian masyarakat masih menganggap harga ikan relatif lebih mahal dibandingkan bahan pangan hewani lainnya.
“Kami tetap terus berupaya agar gemar makan ikan di Gunungkidul bisa terus ditingkatkan,” katanya.
Padahal, menurut pemerintah daerah, tidak semua jenis ikan memiliki harga tinggi. Terdapat banyak komoditas perikanan budidaya yang harganya cukup terjangkau bagi masyarakat.
Ikan Air Tawar Dinilai Lebih Terjangkau
Kepala DKP Gunungkidul, M Johan Prasetyo, mengatakan masih terdapat persepsi yang kurang tepat di tengah masyarakat terkait harga ikan.
Menurutnya, banyak warga hanya melihat harga ikan laut yang memang relatif lebih mahal. Padahal, ikan air tawar seperti lele dan nila memiliki harga yang tidak jauh berbeda dengan daging ayam.
“Ada persepsi yang salah di masyarakat karena menganggap konsumsi ikan butuh biaya mahal,” katanya.
Ia menegaskan ikan air tawar dapat menjadi alternatif sumber protein yang lebih ekonomis sekaligus memiliki kandungan gizi yang baik bagi tubuh.
“Bahwa memenuhi gizi tidak harus mengkonsumsi daging merah atau ayam, tapi bisa lewat ikan yang lebih murah harganya,” ujarnya.
Selain menjadi sumber protein berkualitas, ikan juga dikenal kaya akan asam lemak omega-3, vitamin, serta berbagai mineral yang penting untuk mendukung tumbuh kembang anak dan menjaga kesehatan masyarakat.
Edukasi dan Diversifikasi Olahan Ikan Diperkuat
Untuk meningkatkan minat masyarakat mengonsumsi ikan, DKP Gunungkidul terus menjalankan berbagai program edukasi dan sosialisasi.
Program tersebut menyasar keluarga, sekolah, hingga kelompok masyarakat dengan menekankan manfaat konsumsi ikan bagi kesehatan dan kecerdasan anak.
Menurut Johan, peningkatan konsumsi ikan tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan gizi, tetapi juga investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Selain edukasi, pemerintah juga mendorong pengembangan produk olahan berbasis ikan agar lebih mudah diterima oleh masyarakat.
“Kami juga mengembangkan diversifikasi olahan ikan agar minat masyarakat untuk mengkonsumsinya terus meningkat,” katanya.
Beragam produk olahan seperti bakso ikan, nugget ikan, abon ikan hingga aneka camilan berbahan dasar ikan dinilai mampu menarik minat konsumen yang selama ini kurang menyukai ikan dalam bentuk segar.
Dengan berbagai upaya tersebut, pemerintah berharap tingkat konsumsi ikan masyarakat Gunungkidul dapat terus meningkat dan secara bertahap mendekati rata-rata DIY maupun nasional dalam beberapa tahun ke depan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kodim 0730/Gunungkidul menyiagakan mobil tangki air untuk membantu penyaluran air bersih di wilayah terdampak kekeringan. BPBD telah menyalurkan 184 tangki air
Jadwal SIM Keliling dan Samsat Keliling malam di SSA Bantul Agustus 2026 lengkap dengan syarat perpanjangan SIM dan layanan PKB tahunan.
Jadwal perpanjangan SIM Sleman Agustus 2026 di Satpas, MPP, SCH, dan SIMMADE lengkap dengan syarat, lokasi, dan jam pelayanan.
Jadwal perpanjangan SIM Jogja Agustus 2026 melalui SIM Keliling, Drive Thru MPP, dan Satpas lengkap dengan syarat, biaya, serta lokasinya.
Kemiskinan DIY turun menjadi 9,70% pada Maret 2026, tertinggi penurunannya di Jawa. Penduduk miskin berkurang menjadi 408.870 jiwa.
Ingin tahu apakah HP Anda sudah mendukung jaringan 5G? Simak cara cek spesifikasi, IMEI, pengaturan jaringan, hingga kompatibilitas frekuensi operator.