ANGKUTAN UMUM GUNUNGKIDUL : Trayek Desa Mati Suri, Ini Alasannya

David Kurniawan
David Kurniawan Kamis, 09 April 2015 13:40 WIB
ANGKUTAN UMUM GUNUNGKIDUL : Trayek Desa Mati Suri, Ini Alasannya

Sebuah bus angkutan umum tampak masih beroperasi melayani penumpang di depan Pasar Condongcatur, Depok, Sleman, Rabu (19/11/2014) pagi.(Rima Sekarani/JIBI/Harian Jogja)

Angkutan umum Gunungkidul seperti trayek desa mati suri lantaran warga lebih memilih kendaraan roda dua.

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Sejumlah trayek angkutan pedesaan mati suri. Sepinya penumpang membuat pengusaha angkutan desa lebih memilih untuk sering berhenti beroperasi.

Jalur-jalur yang mati antara lain rute Gedangsari-Wonosari; Sokoliman-Wonosari; Nglipar-Sambi dan Wonosari-Baron. Di hari-hari tertentu, seperti hari raya agama ataupun pasaran, angkutan desa di
jalur itu baru beroperasi.

Kepala Bidang Transportasi Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Gunungkidul Kuncoro Budi Santoso mengatakan penyebab matinya transportasi pedesaan dikarenakan tingginya permintaan kendaraan roda dua. Dampaknya, peminat angkutan umum menjadi berkurang karena lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi saat beraktivitas.

“Meningkatnya jumlah kendaraan dua membuat angkutan umum jadi tersisihkan. Tidak salah jika di beberapa trayek, pengusaha angkutan memilih berhenti beroperasi karena minimnya penumpang,” kata Kuncoro kepada wartawan, Rabu (8/4/2015).

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online