Longsor Clongop Gunungkidul Belum Tertangani, Ini Kendalanya
Longsor tebing di Tanjakan Clongop Gunungkidul belum diperbaiki. Warga berharap penanganan dipercepat sebelum musim hujan tiba.
Monyet Ekor Panjang - ilustrasi/Antara
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Serangan monyet ekor panjang kembali menjadi keluhan petani di Padukuhan Kelor, Kalurahan Kemadang, Kapanewon Tanjungsari, Gunungkidul. Kawanan primata yang jumlahnya mencapai ratusan ekor itu disebut kerap merusak tanaman pertanian hingga menghancurkan gubuk milik warga. Kondisi tersebut membuat petani berharap pemerintah segera menghadirkan langkah penanganan yang efektif agar konflik antara manusia dan satwa liar tidak terus berulang.
Salah seorang warga Padukuhan Kelor, Tukadi, mengatakan gangguan dari monyet ekor panjang telah berlangsung cukup lama. Hampir setiap musim kemarau, kawanan satwa tersebut mendatangi area pertanian untuk mencari makanan.
"Tidak hanya merusak tanaman dengan menjarah isinya seperti singkong dan lainnya, tapi juga merusak gubuk milik petani," kata Tukadi kepada wartawan, Rabu (5/8/2026).
Menurutnya, jumlah monyet yang datang bisa mencapai ratusan ekor. Bahkan, di dalam kawanan tersebut kerap terjadi perkelahian antarmonyet saat berebut makanan.
"Biasanya saat pagi atau sore hari, kawanan datang untuk merusak di area pertanian," katanya.
Jaring Pelindung Belum Mampu Menghalau Kawanan Monyet
Berbagai cara telah dicoba warga untuk mengurangi kerusakan di lahan pertanian. Salah satunya dengan memasang jaring sebagai pelindung tanaman.
Namun, upaya tersebut belum memberikan hasil yang diharapkan karena kawanan monyet tetap berhasil masuk dan merusak tanaman milik petani.
"Mudah-mudahan ada solusi untuk penanggulangan dari pemerintah. Kami tidak berani membunuh karena takut melanggar aturan," katanya.
Serangan Meningkat Saat Musim Kemarau
Dukuh Kelor, Budi Sukarno, membenarkan bahwa serangan monyet paling sering terjadi ketika musim kemarau. Menurutnya, berkurangnya sumber pakan di habitat alami diduga menjadi penyebab kawanan monyet berpindah ke lahan pertanian warga.
"Puncak serangan terjadi saat kemarau. Mungkin stok pangannya menipis sehingga mendatangi area pertanian milik warga," katanya.
Pihak kalurahan telah melaporkan persoalan tersebut kepada Pemerintah Kabupaten Gunungkidul. Harapannya, ada langkah penanganan yang mampu mengurangi konflik sehingga petani tidak terus mengalami kerugian.
"Kalau terus dijarah, maka petani tidak jadi panen karena habis diambil kawanan monyet," katanya.
DLH Gunungkidul Gandeng UGM Cari Solusi
Sebelumnya, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Gunungkidul, Edy Basuki, mengatakan pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk menekan konflik antara monyet ekor panjang dan masyarakat. Salah satunya melalui penyediaan pakan di sejumlah lokasi, meski hasilnya dinilai belum signifikan.
Menurut Edy, Pemkab Gunungkidul juga bekerja sama dengan akademisi, termasuk tim dari UGM, guna merumuskan langkah penanganan yang lebih efektif.
"Yang jelas populasi monyet harus ditekan akan potensi konflik tidak semakin meluas," katanya.
Saat ini populasi monyet ekor panjang di Gunungkidul diperkirakan mencapai lebih dari 1.000 ekor. Koloni satwa tersebut tersebar di hampir 80 kalurahan di wilayah Bumi Handayani.
Vasektomi Menjadi Salah Satu Alternatif
Edy menegaskan pengendalian populasi tidak dapat dilakukan dengan membunuh monyet karena bertentangan dengan aturan dan berpotensi memunculkan persoalan baru.
"Membunuh monyet dilarang karena malah akan menimbulkan masalah baru," ungkapnya.
Berdasarkan hasil koordinasi dengan tim UGM, salah satu alternatif yang mengemuka ialah melakukan vasektomi atau sterilisasi pada monyet, terutama terhadap pemimpin koloni. Meski demikian, opsi tersebut masih memerlukan kajian mendalam karena prosesnya melibatkan penangkapan satwa dan tahapan teknis lainnya.
"Vasektomi pada monyet hanya salah satu opsi karena masih ada beberapa alternatif lain. Yang jelas, untuk menekan potensi konflik, maka populasi monyet harus ditekan. Makanya muncul, vasektomi karena mengurangi dengan membunuh monyet merupakan pelanggaran," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Longsor tebing di Tanjakan Clongop Gunungkidul belum diperbaiki. Warga berharap penanganan dipercepat sebelum musim hujan tiba.
Investigasi Reuters mengungkap dugaan penggunaan model AI OpenAI dan Anthropic untuk melatih sistem AI lokal yang dikembangkan institusi berafiliasi militer Chi
Jembatan Trisik di Kulonprogo resmi dibuka setelah penantian 15 tahun. Bus pariwisata kini bisa melintas, kunjungan wisata meningkat hingga 60 persen.
MPR RI dan UII mengevaluasi implementasi UUD 1945, otonomi daerah, serta pengelolaan SDA untuk memperkuat kebijakan nasional.
Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menegaskan ASN harus dijaga dari judi online dan pinjaman online ilegal demi menjaga integritas pemerintahan.
Tingkatkan Layanan Masyarakat, Anggota DPR RI Vita Ervina Desak BPJS Tepat Waktu Bayar Klaim Rumah Sakit dan Fasilitas Kesehatan