SABDA RAJA JOGJA : JNM Curigai Ada Kelompok Pendorong Peniadaan Mataram dan Islam

Senin, 18 Mei 2015 10:20 WIB
SABDA RAJA JOGJA : JNM Curigai Ada Kelompok Pendorong Peniadaan Mataram dan Islam

HarianJOgja/Gigih M. Hanafi Puluhan warga dari jamaah Nahdliyin Mataram melakukan doa serta tahlil di Bangsal Pengapit Ler komplek makam Kotagede, Jogja, Minggu (10/5). Kegiatan ini sebagai bentuk keprihatinan mereka terhadap Sabdaraja yang dikeluarkan Sri Sultan Hamengku Buwono X, mengenai penghapusan gelar Ngabdurrahman Sayidin Panatagama Kalifatullah.

Sabda Raja Jogja, JNM mencurigai ada maksud lain dari kelompok tertentu.

Harianjogja.com, JOGJA-Berdasarkan data yang diperoleh saat ini, Koordinator Jamaah Nahdliyin Mataram (JNM). Muhammad Alfuniam melihat ada indikasi sistematis kelompok-kelompok lain yang mendorong peniadaaan keterkaitan Mataram dan Islam. Sayangnya, ia enggan menjelaskan secara rinci data yang dimaksud.

“Masih belum dapat kami sampaikan sekarang,” tuturnya di sela-sela aksi meruwat bumi Mataram dan mendoakan Sri Sultan HB X di Tugu Jogja, Minggu (17/5/2015).

Dijelaskannya, aksi yang dilakukan puluhan JNM kali ini merupakan aksi kedua setelah minggu lalu mengadakan pisowanan ke Kotagede. Serupa dengan kegiatan sebelumnya, JNM juga mengadakan acara doa bersama, tumpengan, serta pembacaan pernyataan sikap. Isi pernyataan sikap tersebut, meliputi, ajakan kepada rakyat Mataram di dalam dan luar Jogja untuk senantiasa mendoakan Sri Sultan HB X supaya diberi kesehatan, kekuatan, dan rahmat supaya dapat mengambil keputusan dengan bijak, seruan kepada pewaris Islam Jawa umtuk berdoa kepada Allah dan meruwat bumi Mataram dari unsur-unsur negatif yang ingin menghancurleburkan bangunan dan basis Mataram Islam Jawa, serta mengajak kelompok jaringan tertentu yang ingin mengubah pondasi Islam Jawa untuk kembali ke jalan yang benar sesuai dengan dunia batin dan sejarah Kraton Mataram.

Solahuddin, salah satu anggota JNM sekaligus orator dalam aksi tersebut, mengungkapkan, jika Islam tercabut dari akarnya, maka tidak menutup kemungkinan masyarakat akan melihat Islam seperti di Timur Tengah.

“Kami tidak ingin seperti itu, Islam yang kami inginkan seperti saat ini, yang akulturatif, yang lembut,” tegasnya.

Ia menambahkan, jika Mataram dipisahkan dari Islam dapat menimbulkan gejolak di masyarakat seperti larangan kegiatan keagamaan, orang beribadah digrebeg, dan sebagainya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online