IDULADHA 2015 : Sapi Kurban Tembus Rp55 Juta
Rumah Contoh: Rumah contoh Risha yang dibangun di halaman Wisma PU, Sleman, Senin (21/9/2015). (JIBI/Harian Jogja/ Kusnul Isti Qomah)
Iduladha 2015 yang tinggal sepekan mendongkrak harga jual sapi.
Harianjogja.com, BANTUL- Harga sapi kurban yang diperdagangkan jelang hari raya Idul Adha mencapai hingga Rp55 juta per ekor. Harga sapi melonjak seiring tingginya permintaan ternak.
Ketua Paguyuban Pengusaha Daging Sapi Segoroyoso (PPDSS) Pleret, Bantul Ilham Akhmadi mengatakan, harga sapi naik hingga 20% menjelang hari raya kurban.
"Dari semula hanya Rp16 juta per ekor sekarang Rp18 juta lebih," ungkap Ilham Akhmadi, Senin (21/9/2015).
Harga sapi paling mahal adalah jenis Simental, dibanderol seharga Rp55 juta per ekor. Di luar momen kurban, harga sapi berwana coklat itu hanya dijual Rp50 juta. Tingginya harga sapi Simental menurut Ilham sebanding dengan bobot tubuhnya yang mencapai satu ton per ekor.
Ilham menambahkan, kenaikan harga dipicu tingginya permintaan kurban jelang Idul Adha. Ia sendiri dalam sebulan terakhir telah menjual 100 ekor sapi untuk dikurbankan. Mulai dari harga Rp15 juta hingga Rp55 juta per ekor. "Sebenarnya dibanding tahun lalu jumlah sapi yang dijual turun. Tahun lalu sampai 150 ekor," papar dia.
Ia khawatir, tingginya permintaan sapi jelang hari raya kurban turut mengorbankan sapi bakalan atau sapi muda yang belum cukup umur untuk dipotong. Pemotongan sapi bakalan bakal mengancam krisis daging sapi di waktu-waktu mendatang.
"Sapi bakalan itu masanya untuk penggemukan. Kalau masih kecil sudah dipotong, nanti Bantul kekurangan pasokan sapi, itu yang akan menyebabkan harga naik," jelasnya. Ia berharap pemerintah tidak lengah mengawasi sapi bakalan.
Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Bantul, Partogi Dame Pakpahan mengatakan, lembaganya telah mengantisipasi penyembelihan sapi bakalan, melalui dokter hewan. Dokter hewan bertugas memantau 1.866 titik penjualan dan pemotongan sapi di Bantul. Mereka tidak hanya memeriksa sapi sakit namun juga sapi bakalan.
"Enggak mungkinlah sapi bakalan dipotong. Pemeriksaan dokter hewan salah satunya juga sapi bakalan itu," ujar Partogi. Selain itu, petugas juga memantau jangan sampai sapi betina yang masih produktif turut disembelih untuk keperluan konsumsi. Populasi sapi betina sangat dijaga karena akan menentukan pasokan sapi di daerah ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Share