Tiang PJU Jogja Diusulkan Jadi Smart Pole, Ini Manfaatnya
DPRD Jogja mendorong tiang PJU dimanfaatkan untuk fiber optik dan smart pole guna menata kabel serta meningkatkan PAD.
Caption: Anak-anak mengikuti CKG dengan active case finding Tuberkulosis di Kelurahan Wirogunan pada Rabu (26/8/2026). Harian Jogja-Stefani Yulindriani
Harianjogja.com, JOGJA—Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja memadukan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) dengan Active Case Finding (ACF) Tuberkulosis (TB) untuk memperluas penemuan kasus secara dini. Sasaran pemeriksaan mencakup kelompok rentan, termasuk anak-anak dengan kondisi tertentu, kontak erat pasien TB, serta warga yang memiliki gejala yang mengarah pada TB.
Kepala Seksi Pelayanan Kesehatan Primer dan Tradisional Komplementer Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Jogja, drg. Arumi Wulansari, mengatakan integrasi CKG dan ACF TB dilakukan agar pemeriksaan kesehatan masyarakat dapat berjalan lebih menyeluruh.
“Kalau dulu ACF TB berjalan sendiri, CKG juga jalan sendiri. Sekarang case finding untuk TB ini dibarengkan dengan CKG. Harapannya lebih banyak, dua-duanya saling melengkapi,” ujarnya, Rabu (26/8/2026).
Menurut Arumi, melalui integrasi tersebut, masyarakat yang memiliki faktor risiko TB dapat sekaligus memperoleh pemeriksaan kesehatan lainnya. Dalam pelaksanaan CKG, warga juga diarahkan mengenali gejala yang berpotensi mengarah pada TB.
CKG Bisa Temukan Penyakit Tanpa Gejala
Arumi menjelaskan CKG merupakan program nasional yang menyasar seluruh kelompok usia. Pemeriksaan tersebut ditujukan untuk mendeteksi penyakit sejak dini, termasuk penyakit yang belum menimbulkan gejala.
“Bisa saja seseorang merasa tidak sakit, tidak ada gejalanya, tetapi ketika diskrining ternyata tensinya tinggi, gula darahnya tinggi, atau sudah batuk lebih dari dua minggu dan mengalami penurunan berat badan,” katanya.
Hasil CKG di Kota Jogja hingga pertengahan 2026 menunjukkan penyakit tidak menular, terutama hipertensi dan diabetes, menjadi temuan yang banyak ditemukan pada kelompok dewasa.
Melalui deteksi dini, masyarakat yang memiliki risiko penyakit dapat segera memperoleh edukasi, melakukan perubahan pola hidup, maupun mendapatkan pengobatan apabila sudah membutuhkan penanganan medis.
Anak Rentan TB Jadi Perhatian
Untuk skrining TB, Dinas Kesehatan Kota Jogja memberikan perhatian khusus kepada kelompok dengan risiko lebih tinggi. Sasaran tersebut antara lain kontak erat pasien TB, balita stunting dan wasting, warga yang memiliki gejala TB, serta kelompok dengan kondisi tertentu yang meningkatkan risiko TB.
Programer TB Puskesmas Mergangsan, Susi Wulandari, mengatakan anak-anak menjadi salah satu kelompok yang perlu mendapat perhatian karena gejala TB pada anak tidak selalu mudah dikenali.
Anak yang memenuhi kriteria skrining dapat menjalani pemeriksaan Mantoux. Hasil pemeriksaan tersebut dibaca minimal 2x24 jam setelah penyuntikan.
“Kalau Mantoux positif dan ada gejala TB, nanti dirujuk untuk rontgen. Untuk rontgen gratis dari Kota, kami menggunakan fasilitas di Rumah Sakit Pratama,” katanya saat skrining TB di Kelurahan Wirogunan.
Susi menjelaskan diagnosis TB pada anak memiliki pendekatan berbeda dibandingkan pasien dewasa. Anak cenderung kesulitan mengeluarkan dahak sehingga pemeriksaan tidak hanya mengandalkan pemeriksaan dahak, tetapi juga mempertimbangkan kondisi klinis, hasil Mantoux, rontgen, dan sistem skoring.
Apabila hasil pemeriksaan menunjukkan TB anak, pengobatan dilakukan di puskesmas. Lama pengobatan TB pada anak umumnya membutuhkan waktu sekitar enam bulan sehingga dukungan orang tua diperlukan agar pengobatan tidak terputus.
Keluarga Pasien TB Juga Diskrining
Skrining juga menyasar keluarga yang memiliki anggota dengan TB. Jika terdapat pasien TB dalam satu rumah, anggota keluarga lainnya perlu diperiksa karena berpotensi menjadi kontak erat.
Bagi mereka yang belum menunjukkan TB aktif tetapi memiliki risiko akibat paparan, dapat diberikan terapi pencegahan TB untuk mencegah berkembangnya penyakit.
“Kalau satu keluarga ada yang kena TB, yang satu rumah itu dilakukan skrining. Kalau tidak ada gejala tetapi kontak dengan pasien TB, ada yang namanya terapi pencegahan TB selama tiga bulan untuk mencegah supaya dia tidak kena TB,” jelas Susi.
Untuk mendukung diagnosis, Puskesmas Mergangsan juga memanfaatkan layanan rontgen gratis yang disediakan Pemkot Jogja. Pasien yang membutuhkan pemeriksaan lanjutan mendapatkan pengantar dari puskesmas dan dapat langsung menjalani pemeriksaan rontgen tanpa harus masuk ke poli terlebih dahulu.
Target CKG Jogja Capai 46% Populasi
Arumi mengatakan target CKG secara umum di Kota Jogja tahun ini mencapai 46% dari total populasi. Hingga pertengahan 2026, capaian pemeriksaan telah melampaui separuh dari sasaran tersebut.
“Kalau target CKG secara umum, kita 46% dari total populasi. Sampai pertengahan tahun ini kita sudah lebih dari 50% dari sasaran CKG dan akan kita tingkatkan sampai akhir tahun,” ujarnya.
CKG menyasar seluruh kelompok usia, mulai bayi, balita, anak usia sekolah, remaja, dewasa hingga lansia.
Sementara itu, sasaran ACF TB ditentukan berdasarkan faktor risiko. Dinkes Kota Jogja menyiapkan sejumlah lokus pemeriksaan yang tersebar di wilayah kota. Setiap kegiatan CKG TB ditargetkan diikuti sekitar 100 peserta.
Arumi mengatakan tingginya temuan TB tidak selalu menunjukkan jumlah penderita meningkat. Temuan kasus dapat bertambah karena pemerintah semakin aktif mencari kasus di tengah masyarakat.
“Angka tinggi ini bisa jadi sebuah pencapaian kalau kita melihatnya karena kita mencari. Namanya saja active case finding, kita aktif mencari. Kita tidak menunggu di puskesmas atau rumah sakit orang datang periksa TB,” katanya.
Orang Tua Pilih Skrining untuk Deteksi Dini
Salah satu peserta skrining, Amaira, balita berusia 2 tahun 2 bulan asal Surakarta, mengikuti pemeriksaan setelah mendapat undangan dari puskesmas.
Orang tua Amaira mengatakan anaknya tidak memiliki riwayat TB maupun gejala yang mengarah pada penyakit tersebut. Pemeriksaan diikuti untuk memastikan kondisi kesehatan dan tumbuh kembang anak dapat dipantau sejak dini.
“Sangat penting, karena sekarang zamannya lebih tahu sebelum ada penyakit bisa dicegah jauh dari awal,” ujarnya.
Ia berharap pemeriksaan dapat memastikan kondisi kesehatan anak sekaligus mencegah penyakit yang berpotensi mengganggu pertumbuhan dan perkembangan apabila terlambat diketahui.
Arumi menegaskan deteksi dini menjadi kunci dalam penanganan TB maupun penyakit lainnya. Khusus pada anak, pemeriksaan dan penanganan lebih awal diperlukan untuk mencegah penyakit berkembang dan menimbulkan komplikasi.
“Untuk anak-anak jelas, karena anak-anak tumbuh kembang. Kalau TB nanti juga akan berpengaruh ke kesehatan secara umum,” katanya.
Ia menambahkan TB merupakan penyakit menular yang membutuhkan pengobatan dalam waktu panjang. Karena itu, penemuan kasus sedini mungkin, pemeriksaan kontak erat, serta kepatuhan menjalani pengobatan menjadi bagian penting dalam upaya menekan penularan TB di Kota Jogja.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
DPRD Jogja mendorong tiang PJU dimanfaatkan untuk fiber optik dan smart pole guna menata kabel serta meningkatkan PAD.
Tiga tersangka kasus pembubaran ibadah GMS di Bantul belum ditahan. Polda DIY menyebut ketiganya kooperatif selama penyidikan.
Komdigi menjelaskan aturan reseller internet dan kerja sama dengan ISP setelah mencuatnya kasus penjualan kembali layanan Starlink di Mentawai.
PSIM Jogja akan meluncurkan tim musim 2026/27 di Stadion Sultan Agung Bantul dengan tema Njaga Marwah, Ngrumat Sejarah dan #HonorTheLegacy.
Jadwal bola malam ini menghadirkan final Piala AFF 2026 Vietnam vs Thailand serta Real Madrid vs Real Sociedad di Liga Spanyol.
Timnas voli putri Indonesia melaju ke perempat final AVC Women's Continental 2026 setelah mengalahkan Australia 3-0 dan akan menghadapi Iran.