MUSIM PANCAROBA : Waspada Ispa Saat Pancaroba

Bernadheta Dian Saraswati
Bernadheta Dian Saraswati Senin, 12 Oktober 2015 01:20 WIB
MUSIM PANCAROBA : Waspada Ispa Saat Pancaroba

Espos/Agoes Rudianto MUSIM PANCAROBA-Awan hitam menggantung di atas langit Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Solo, Kamis (22/4). Musim pancaroba saat ini, masyarakat perlu mewaspadai turunnya hujan lebat secara tiba-tiba dalam waktu singkat disertai angin kencang.

Musim pancaroba, anak-anak rawan penyakit ispa.

Harianjogja.com, SLEMAN-Musim pancaroba yang merupakan peralihan dari musim kemarau ke musim hujan rentan memunculkan penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA). Dalam kondisi tertentu penyakit ini bisa disertai dengan radang paru-paru atau yang dikenal dengan pneumonia.

Biasanya penyakit ini menyerang anak-anak. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman, Mafilindati Nuraini, mengatakan hingga Agustus 2015 sudah ada 509 kasus ISPA dengan pneumonia di Kabupaten Sleman. Sementara untuk ispa tanpa pneumonia ada sebanyak 16.750 kasus. Kasus tersebut paling banyak dari Kecamatan Godean dan Sleman.

"Indikasi pneumonia itu panas, batuk, pilek dan sesak nafas. Nafas normal dewasa itu 20 nafas setiap menitnya kalau anak 40," kata Linda, Minggu (11/10/2015).

Linda mengatakan, ISPA baik pneumonia maupun bukan pneumonia bisa berasal dari mana saja. Seperti saat bermain dengan teman yang sudah terjangkit ispa pneumonia. Kondisi tubuh yang sedang tidak fit akan mudah tertular. Selain itu dari polusi udara juga bisa menyebabkan penyakit ini muncul.

Oleh karena itu ia mengimbau bagi perokok dewasa untuk menjauhkan rokok dari jangkauan anak-anak. "Jangan merokok di dalam rumah. Lalu pakaikan anak masker ketika bepergian. Sering saya lihat anak-anak diboncengin pakai motor tapi tidak dikenakan alat perlengkapan berkendara," kata Linda.

Salah satu obat yang bisa diberikan jika terkena ISPA adalah antibiotik. Meski demikian masyarakat diminta tidak khawatir karena persediaan obat milik Dinkes Sleman dan puskesmas yang ada masih aman. "Pengobatan antibiotik sudah terpenuhi. Dengan e-katalog sudah tidak ada kekosongan obat," ujarnya.

Masa pancaroba akan berlangsung selama kurang lebih satu bulan. Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jogjakarta, Tony Agus Wijaya, memperkirakan musim hujan di Sleman terlambat dua minggu dari jadwal yang biasanya terjadi.

"Untuk tahun ini Sleman baru hujan sekitar November pertengahan. Harusnya Oktober akhir Sleman sudah hujan," kata dia. Akhir-akhir ini sudah kerap terlihat awan mendung tetapi karena pola angin tidak memungkinkan awan tersebut menjadi hujan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online