Toko Berjejaring Terus Berkembang, Ritel Lokal Ini Perluas Pasar
Bisnis ritel berjejaring di DIY terus berkembang, bahkan jaringan lokal pun semakin memperkuat dan memperluas pasarnya.
Teater Gandrik mempersembahkan sebuah pementasan teater berjudul Tangis karya Heru Kesawa Murti di Pusat Kebudayaan Koesnadi Harjasoemantri, Kampus Universitas Gadjah Mada (UGM), Bulaksumur, Yogyakarta, Selasa (9/12/2014) malam. Pementasan dramatic reading atau pementasan dengan membaca teks itu merupakan bagian dari peringatan Hari Antikorupsi Sedunia, yang jatuh setiap tanggal 9 Desember. (Desi Suryanto/JIBI/Harian Jogja)
Kesenian Bantul kali ini berupa pentas teater kolosal.
Harianjogja.com, BANTUL-Sukses menggelar pentas teater kolosal di Graha Sabha Pramana Universitas Gadjah Mada (UGM) 2014 silam, tahun ini giliran Bantul yang menjadi tuan rumah digelarnya pentas yang diinisiatori oleh Dinas Kebudayaan DIY itu. Pentas bertajuk Pentas Teater Kolosal yang rencananya digelar di Lapangan Paseban, Sabtu (24/10/2015) malam itu mengambil lakon berjudul Rebutan Cupumanik Hasthagina.
Produser pertunjukan tersebut, Suharmono menjelaskan, pentas itu dijanjikannya akan ditampilkan jauh lebih megah dari pertunjukan sebelumnya. Meski masih mengadopsi konsep multimedia dan lintas genre, ia menegaskan pentas tersebut akan jauh lebih menghibur.
“Karena kami menampilkan lakon ini dengan pemain yang mayoritas anak muda. Bahkan anak-anak,” katanya saat menggelar jumpa pers di RM Aldan, Bantul, Rabu (21/10/2015) siang.
Dituturkannya, dari total 250 orang yang terlibat dalam pertunjukan itu, pihaknya memang sengaja menambah porsi pemain dari kalangan remaja dan anak-anak. Sedangkan untuk para seniman senior, ia memposisikan mereka lebih banyak pada posisi supervisi pertunjukan saja.
Itulah sebabnya, pentas itu nantinya akan menampilkan dialog-dialog yang tidak sepenuhnya berbahasa Jawa, melainkan akan dicampurinya dengan dialog dan slang-slang yang sudah populer di kalangan remaja. Selain itu, ia juga meminta kepada seluruh pemain untuk tak segan-segan membumbui dialog dengan humor-humor yang menghibur.
Tak hanya itu, pihaknya juga menampilkan iringan musik yang lebih kaya. Tidak hanya diiringi musik karawitan saja, lakon itu nantinya juga akan diiringi oleh iringan musik combo dan string. “Setidaknya ada 40 musisi yang terlibat,” imbuhnya.
Terpisah, Sutradara pertunjukan Ahmad Hasfi Asmaralaya menjelaskan, itu memang bercerita tentang kisah tiga bersaudara, yakni Sugriwa-Subali-Anjani yang saling berebut pusaka bernama cupumanik. Pusaka itu merupakan buah dari hasil perselingkuhan ibunya dan Bathara Surya.
Dikatakannya, pesan moral yang hendak disampaikannya dalam pentas lakon itu memang bersifat universal. Ia ingin menyampaikan bahwa kera yang merupakan wujud dari ketiga tokoh tersebut adalah simbol karakter yang selalu berambisi untuk saling berebut sesuatu yang bukan menjadi haknya. “[Pentas] Ini menyindir pihak-pihak yang selalu serakah berebut kekuasaan,” tegasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Bareskrim Polri menangkap 71 orang dari aktivitas judi casino di Sukoharjo. Sebanyak 30 orang ditetapkan sebagai tersangka.
Monyet ekor panjang berkeliaran di permukiman Grojokan, Bantul selama 2 pekan. Warga resah dan BKSDA akan memasang perangkap.
Sultan menyoroti warga miskin yang desilnya naik hingga kehilangan bantuan. Pemda DIY dan BPS membahas persoalan tersebut.
Astra melalui Nurani Astra membangun 7 posko bantuan gempa NTT. Sebanyak 35.726 penerima manfaat telah mendapat dukungan.
Eling Priswanto resmi memimpin Dinas Pariwisata DIY. Ia menyoroti aktivasi Bandara YIA hingga peluang direct flight.