GUNUNG MERAPI : Tetenger Erupsi 2010, Saksi Keganasan Segitiga Merapi

Bernadheta Dian Saraswati
Bernadheta Dian Saraswati Kamis, 05 November 2015 14:20 WIB
GUNUNG MERAPI : Tetenger Erupsi 2010, Saksi Keganasan Segitiga Merapi

Seorang warga meletakkan umbul-umbul di dekat desain Monumen Peringatan Erupsi Merapi 2010 di Dusun Bakalan, Desa Argomulyo, Kecamatan Cangkringan, Rabu (4/11/2015). (Harian Jogja/Bernadheta Dian Saraswati)

Gunung Merapi yang mengalami erupsi tahun 2010, dikenang dengan pembangunan Tetenger Erupsi 2010

Harianjogja.com, SLEMAN-Ganasnya awan panas Gunung Merapi 2010 yang sampai menerjang Dusun Bakalan, Desa Argomulyo, Kecamatan Cangkringan sungguh di luar dugaan. Warga tak mengira jika tempat tinggal yang mereka duduki selama ini akan hilang dalam sekejap.

Saat itu mereka yakin bahwa dengan jarak 14 kilometer dari puncak Merapi, Bakalan tak akan sampai dilintasi awan panas Merapi. Namun keyakinan itu sirna setelah lelehan erupsi meluluh-lantahkan seluruh kehidupan di perkampungan mereka.

Tepatnya 5 November 2010 dini hari, rumah, harta benda, hewan ternak, hingga lahan pertanian, berubah jadi hamparan lumpur panas bercampur asap belerang.

"Sungguh tidak menyangka [awan panas] akan sampai dusun kami. Sepanjang erupsi Merapi dampaknya sampai Bakalan baru erupsi 2010," ungkap Kepala Dusun Bakalan, Eko Bejo Subekti, saat ditemui dalam acara peletakan batu pertama Monumen Merapi 2010 di Dusun Bakalan, Rabu (4/11/2015).

Kenangan masa genting itu masih terpapar jelas dalam ingatannya. Semakin miris lagi ketika ia ingat ada tiga warganya yang ditemukan meninggal terkena lahar panas saat akan mengambil televisi yang masih tertinggal.

Memori itu membuat Eko dan warga lainnya tak ingin menghapusnya. Sisa erupsi seperti material vulkanik dan bangkai rumah sengaja tak dibersihkan tapi justru dibiarkan terbengkalai sebagai saksi bisu dahsyatnya erupsi.

Dibangunnya Monumen Peringatan Erupsi Merapi 2010 seakan menjadi kabar bahagia bagi warga karena mereka bisa semakin dekat dengan jejak kenangan itu. "Ada tetenger [monumen] ini warga senang. Kalau bisa jadi aset," ucap Eko.

Tetenger itu seperti melengkapi kesiap-siagaan warga Bakalan dalam mitigasi bencana. "Kami desa siaga bencana. Sudah siap dan kami sudah terlatih [mitigasi bencana]," tandasnya.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman bersama Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) sengaja memilih Dusun Bakalan sebagai lokasi pembangunan monumen karena sebagai kawasan terdampak erupsi, Bakalan masih dilestarikan sesuai kondisinya di tahun 2010.

Pembangunannya menggunakan sisa dana Konferensi Internasional Cities on Volcanoes (CoV) 8 yang pernah digelar antara PVMBG bersama Pemda DIY, Pemkab Sleman dan Universitas Gadjah Mada (UGM).

"Pakai dana Rp150 juta sisa CoV-8," jelas Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Gerakan Tanah PVMBG, Subandrio.

Monumen yang akan dibangun di lahan seluas 400 meter milik tanah kas desa itu, akan didesain minimalis namun menyiratkan makna mendalam tentang keaktifan Gunung Merapi. Dilihat dari desainnya, sebuah bangunan segitiga akan berdiri dengan penyangga tonggak merah yang bercabang pada ujung atasnya.

Subandrio menjelaskan, segitiga membawa arti bentuk Gunung Merapi itu sendiri. Tonggak berwarna merah bermakna aliran magma di dalam perut bumi sementara cabang dua adalah penanda adanya ketidakpastian arah magma.

Monumen itu juga dilengkapi sengkalan surya Sirno Jalmo Lenaning Paningal yang berarti 2010. Sengkalan tersebut membawa makna jatuhnya kurban dalam erupsi Merapi disebabkan kelalaian manusia dalam mengamati tanda alam melalui pendekatan empirik dan spiritual. "Jika kita lengah memantau Merapi karena pengetahuan tidak cukup maka bisa lena ing paningal [kecolongan]," kata Subandrio menjelaskan.

Menurutnya, apa yang tersisa dari erupsi perlu dikonservasi. Material yang dimuntahkan Merapi juga jangan dilihat nilai galian C-nya saja tapi maknanya untuk keseimbangan lingkungan. Setiap kejadian butuh jejaknya. Dan hadirnya monumen ini setidaknya memunculkan jejak Erupsi Merapi 2010 yang tak hanya sebagai tetenger namun juga minat khusus di bidang wisata dan pendidikan.

"Pembelajaran yang baik adalah menyaksikan langsung sisa-sisanya. Erupsi 2010 adalah KLB [kejadian luar biasa] karena telah memakan 500 jiwa dan 500 ribu warga mengungsi. Tentu sulit memanajemen orang sebanyak itu," ungkapnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Nina Atmasari
Nina Atmasari Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online