Jembatan Kretek Dua Bakal Diimbangi Pengembangan Wisata
Tiang listrik di depan Pasar Sentolo dipindah (Sekar Langit Nariswari/JIBI/Harian Jogja)
PLN Kulonprogo menjawab permintaan warga setempat.
Harianjogja.com, KULONPROGO-Supervisor PLN Rayon Wates, Suryanta menyatakan jika pemindahan tiang listrik tersebut merupakan permintaan pemkab Kulonprogo sejak Januari 2015 lalu.
Tiang listrik yang ada di tengah jalan di depan Pasar Sentolo tersebut digeser sejauh 5 meter ke arah timur hingga ke tepi jalan. Sebelumnya, tiang listrik ini berada tepat di tengah jalan sehingga mengganggu kendaraan yang lalu lalang. Ini merupakan efek dari pelebaran jalan yang dilakukan oleh Pemkab Kulonprogo pada 2015 lalu.
“Sudah dari tahun lalu permintaanya, tapi baru ada kesempatan sekarang,” ujar Suryanta saat dihubungi Harianjogja.com, Senin (11/1/2016)
Disinggung mengenai pemadaman listrik untuk konsumen listrik sekitar, Suryanta mengaku sudah memberi pemberitahuaan. Namun, pemberitahuaan langsung hanya dilakukan sebatas pada konsumen listrik dengan daya yang besar. Sedangkan untuk konsumen rumahan atau dengan daya yang kecil diberitahukan melalui siaran radio sehari sebelumnya.
“Bukan bermaksud mengecilkan pelanggan, hanya saja jumlahnya[pelanggan rumah] banyak jadi kami sebarkan lewat Radio Binangun saja,” ujar Suryanta. Ia sendiri menjamin jika pekerjaan pemindahan tersebut akan selesai dalam sehari dan meminta warga untuk memaklumi ketidaknyamanan yang terjadi karenanya.
Susilo, warga sekitar yang memiliki usaha depot air minum menyatakan jika ia tidak tahu menahu mengenai pemadaman ini. Pemadaman yang berlangsung sejak pukul 10.30 ini berimbas pada usahanya. Untuk usahanya, ia mengandalkan mesin air minum yang dioperasikan dengan listrik. Sejak siang, ia hanya sebatas mengandalkan persediaan air galonan yang telah diisi sebelumnya. Sedangkan beberapa galon kosong lainnya masih harus menunggu hingga listrik menyala untuk diisi.
Hal serupa juga dinyatakan oleh Ningsih, pekerja salah satu usaha laundry. Ia mengaku tidak tahu mendapatkan pemberitahuan mengenai pemadaman listrik hingga diberi tahu oleh salah satu tetangganya. “Tadi anak tetangga lihat internet jadi tahu kalo ada pemadaman,” ujar Ningsih. Ia juga mengakui jika pemadaman ini cukup mengganggu pekerjaannya yang mengandalkan listrik untuk mengoperasikan mesin cuci dan setrika.
“Iya, jadinya gak bisa nyuci nyetrika,” ujar Ningsih. Terlebih lagi, di musim penghujan ini ia juga mengandalkan mesin pengering untuk mengeringkan pakaian pelanggannya. Meski mengeluh, Ningsih menyatakan bahwa selama pemadaman itu benar-benar hanya seperlunya maka hal tersebut masih bisa dimaklumi.
“Besok tinggal minta pengertian ke pelanggan daripada tiang listriknya di tengah jalan, aneh,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Imigrasi memperketat pengawasan WNA di Bantul lewat APOA. Hotel, homestay, dan vila diwajibkan melaporkan tamu asing secara berkala.
Hanung Bramantyo mengadaptasi Children of Heaven berlatar SD Muhammadiyah dengan pesan kuat tentang pendidikan karakter anak.
KPAID Kota Jogja mendorong penerapan pasal lebih berat dalam kasus dugaan kekerasan anak di Daycare Little Aresha
Pemerintah memangkas anggaran MBG 2026 menjadi Rp268 triliun demi efisiensi program Makan Bergizi Gratis.
DPRD DIY memastikan tidak ada kebijakan pemutusan kerja terhadap tenaga pendidik non-aparatur sipil negara tersebut di Daerah Istimewa Yogyakarta