Harga Beras Rendah, Petani Bantul Pilih Simpan Hasil Panen
Wisuda sarjana - Ilustrasi (JIBI/Solopos/dok)
Masyarakat Ekonomi ASEAN disikapi perguruan tinggi swasta DIY dengan menyusun kurikulum yang sesuai MEA
Harianjogja.com, KULONPROGO- Perguruan tinggi swasta (PTS) seluruh DIY siap hadapi persaingan pasar bebas. Berbagai persiapan telah dilakukan salah satunya dengan penyesuaian kurikulum.
Bermulanya masyarakat ekonomi Asean (MEA) dianggap beresiko mempersempit lahan pekerjaan bagi sarjana di Indonesia. Menanggapi hal tersebut, sejumlah PTS di DIY menyatakan diri sudah siap menghadapi persaingan yang semakin sempit bagi lulusannya.
Bahkan, lulusan PTS DIY paling siap hadapi MEA dibandingkan lulusan PTS kota lainnya. Hal ini diungkapkan oleh Koordinator Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) wilayah V DIY, Bambang Supriyadi. “Lulusan kita jelas yang paling bersaing dengan kota lainnya,” ujarnya.
Meski demikian, menurut dia, dibutuhkan standar kualifikasi yang sama di tingkat ASEAN untuk para sarjana. “Sudah disusun standar ASEAN seperti KKNI [Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia] sebelum MEA tapi hasilnya belum disebarluaskan,” ujar Bambang.
Ia menjelaskan jika sejauh ini kompetensi lulusan perguruan tinggi Indonesia dan Malaysia sudah setaraf. Selain itu, juga dibutuhkan pemahaman pasar yang jelas untuk membuat lulusan PTS ini mampu bersaing di luar negeri.
Namun, ia menegaskan lulusan PTS untuk tetap meningkatkan kualitas diri. “Jangan sampai kita cuma jadi penonton, padahal lahan pekerjaan saja sudah sempit,” tambahnya.
Karena itu para lulusan PTS yang ingin masuk dunia kerja ASEAN harus memiliki level yang jelas. Berdasarkan data Kopertis, lulusan PTS DIY sudah memiliki kompetensi yang memadai hanya saja masih terganjal dengan permasalahan penguasaan bahasa.
Bambang juga menyarankan berbagai PTS untuk meningkatkan kerja sama internasional antar universitas, proses pendidikan, kemampuan komunikasi dan penyesuaian kurikulum.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Imigrasi memperketat pengawasan WNA di Bantul lewat APOA. Hotel, homestay, dan vila diwajibkan melaporkan tamu asing secara berkala.
Hanung Bramantyo mengadaptasi Children of Heaven berlatar SD Muhammadiyah dengan pesan kuat tentang pendidikan karakter anak.
KPAID Kota Jogja mendorong penerapan pasal lebih berat dalam kasus dugaan kekerasan anak di Daycare Little Aresha
Pemerintah memangkas anggaran MBG 2026 menjadi Rp268 triliun demi efisiensi program Makan Bergizi Gratis.
DPRD DIY memastikan tidak ada kebijakan pemutusan kerja terhadap tenaga pendidik non-aparatur sipil negara tersebut di Daerah Istimewa Yogyakarta