AI Masuk E-Katalog, Luhut Klaim Anggaran Bisa Hemat 30 Perse
Luhut menyebut integrasi AI dalam E-Katalog dapat menghemat anggaran 20%-30% serta meningkatkan transparansi pengadaan pemerintah.
Salah seorang petugas PMI menunjukkan stok darah di lemari penyimpanan. Stok darah di PMI Kabupaten Gunungkidul dinyatakan masih mencukupi untuk menangani lonjakan kasus DBD, Selasa (23/2/2016). (Mayang Nova Lestari/JIBI/Harian Jogja).
Demam berdarah Gunungkidul untuk lonjakan pasien dilayani dengan ketersediaan stok darah.
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL-- Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Gunungkidul sudah mempersiapkan stok darah untuk menghadapi lonjakan jumlah warga yang terjangkit DBD di Gunungkidul.
Sekretaris PMI Gunungkidul, CB Supriyanto mengungkapkan pihaknya masih dapat menangani permintaan darah. Apabila terjadi kekurangan stok darah, PMI masih dapat mengatasinya dengan mencari ke Unit Transfusi Darah (UTD) di wilayah lain.
"Sampai hari ini cukup. Kami juga sudah mengadakan MOU dengan UTD Kota apabila kekurangan stok darah," katanya, Selasa (23/2/2016).
Ia melanjutkan jumlah stok untuk golongan darah masih mencukupi, terutama untuk golongan O. Sementara itu untuk golongan B sebanyak 18 kantong, darah A terdapat 10 kantong, sedangkan darah O terdapat 52 kantong, serta darah AB masih 1 kantong.
PMI terus melakukan upaya untuk meningkatkan stok darah antara lain dengan mengadakan MOU (Memorandum of Understanding) dengan Badan Pertanahan Nasional (BPN) untuk mempertahankan masyarakat agar selalu aktif mendonorkan darahnya secara sukarela. MOU tersebut berupa kesempatan untuk melakukan kepengurusan Tanah.
"Bagi pendonor yang sudah mendonorkan darahnya sebanyak 50 kali akan mendapatkan sertifikasi tanah atas nama pendonor secara gratis di seluruh Indonesia," kata dia.
Sementara itu Kepala Bidang Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul, Sumitro menambahkan bahwa kasus DBD pada bulan Januari memang mengalami peningkatan dibanding 2015 lalu. Ia mengungkapkan bahwa penanganan pasien DBD dibedakan dalam beberapa tingkatan derajat yang nantinya akan menentukan tempat penanganan DBD dan ketersediaan stok darah.
"DBD derajat I dan II dilayani di puskesmas atau klinik, sedang DBD derajat III dan IV ditangani di rumah sakit," terangnya.
CB Supriyanto lebih jauh melanjutkan bahwa permintaan darah selalu dapat dilayani terkait dengan jumlah kasus DBD yang terus meningkat. Hal tersebut dipermudah dengan wacana tersedianya layanan bank darah di rumah sakit untuk mensuplai darah. Namun ia mengatakan wacana tersebut masih dalam proses menunggu peningkatan status rumah sakit. Tidak semua rumah sakit memiliki bank darah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Luhut menyebut integrasi AI dalam E-Katalog dapat menghemat anggaran 20%-30% serta meningkatkan transparansi pengadaan pemerintah.
Pimpinan ponpes di Lombok Tengah divonis 14 tahun penjara dalam kasus kekerasan seksual dan diwajibkan membayar restitusi Rp111,44 juta.
Pabrik BYD di Subang berkapasitas 150.000 unit per tahun dan berpotensi menyerap lebih dari 20.000 tenaga kerja lokal.
Prabowo mendorong Danantara dan RDIF membiayai proyek investasi Indonesia-Rusia serta meminta I-EAEU FTA segera berlaku.
DPRD Bantul menyoroti izin kolam koi di Villa Banguntapan setelah warga mengeluhkan rembesan air, kolam jebol, hingga dugaan pencemaran.
Sebanyak 170 pelajar di Jombang dan Nganjuk diduga mengalami keracunan setelah menyantap menu MBG. Penyebabnya masih diselidiki.