TANAH LONGSOR : Longsor Tebing Kali Kuning Merusak Pipa Air Bersih

Sabtu, 05 Maret 2016 14:21 WIB
TANAH LONGSOR : Longsor Tebing Kali Kuning Merusak Pipa Air Bersih

Sejumlah warga menangani korban longsor dalam simulasi bencana yang digelar di Taman Tebing Breksi, Sambirejo, Prambanan, Kamis (3/3/2016). (Abdul Hamied Razak/JIBI/Harian Jogja)

Tanah longsor di tebing Kali Kuning merusak pipa air bersih yang menyalurkan air ke rumah warga

Harianjogja.com, SLEMAN- Sebuah tebing di Kali Kuning bersebelahan dengan Jembatan Plunyon, Umbulharjo, Cangkringan Sleman, longsor pada Kamis (3/3/2016) petang. Tidak ada korban jiwa dari peristiwa tersebut.

Meski begitu, longsor pada tebing setinggi 15 meter dengan luas area 30 meter itu merusak jaringan pipa air bersih milik warga rusak. Longsor juga sempat merusak jaringan pipa air Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Sleman dan Kota Jogja pecah.

Kerusakan jaringan pipa air bersih tersebut dikhawatirkan mengganggu kebutuhan air bersih warga dan pelanggan PDAM di dua wilayah tersebut. Saat ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), PDAM Sleman, Dinas Sumber Daya Alam Energi dan Mineral (SDAEM) dan Organisasi Pengelola Pemakai Air (OPPA) Kecamatan Cangkringan terus memperbaiki jaringan pipa di lokasi longsor agar kebutuhan air bersih tidak menimbulkan persoalan.

Kepala BPBD Sleman Julisetiono Dwi Wasito menjelaskan, saat terjadi longsor sebenarnya kondisi di wilayah tersebut tidak hujan. Diduga, longsor terjadi akibat tanah di sekitar tidak kuat menahan beban di atasnya. Dia menjelaskan, pascakejadian longsor tim langsung melakukan perbaikan dan penyambungan pipa.

Hal itu dilakukan agar kebutuhan air bersih warga tidak terganggu. Dia menyebut, di lokasi kejadian terdapat banyak pipa penyambung air bersih. "Masyarakat mengandalkan air bersih dengan jaringan pipa itu untuk. Kami akan selesaikan perbaikan secepatnya. Selain itu kami akan dilakukan penguatan talut di sekitar lokasi agar kejadian serupa tidak terulang," kata Setiono, Jumat (4/3/2016).

Camat Cangkringan Edi Harmana menuturkan, longsornya tebing tersebut berdekatan dengan umbul temanten atau umbul lanang dan wadon. Air dari umbul tersebut memang biasa dimanfaatkan warga sekitar untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Warga biasa menyalurkannya menggunakan pipa-pipa kecil.

"Di Cangkringan ada dua desa yang biasa memanfaatkan air bersih dari umbul itu. Desa Umbulharjo dan Kepuharjo. Jumlahnya ribuan jiwa. Kebutuhan air bersihnya sedikit tersendat. Termasuk pengelola golf di Cangkringan juga biasa mengambil air dari sana," katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Nina Atmasari
Nina Atmasari Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online