Dito Ariotedjo Ungkap Raja Arab Saudi Tawarkan Tambahan Kuota Haji
Dito Ariotedjo mengungkap Raja Arab Saudi menawarkan tambahan kuota haji untuk Indonesia saat pertemuan dengan Jokowi pada akhir 2023.
Spanduk penolakan warga yang dipasang di dekat lokasi tanah yang akan disewakan untuk pembangunan tower. Foto diambil kamis (10/3/2016). (Yudho Priambodo/JIBI/Harian Jogja)
Warga tolak menara seluler di Banguntapan, namun ada pula yang apatis
Harianjogja.com, BANTUL- Warga RT 09 dan RT 10 Dusun Bodon, Desa Jagalan, Kelurahan Jagalan, Kecamatan Banguntapan melakukan penolakan pembangunan menara seluler yang direncanakan akan dibangun di wilayah tersebut. Sebagian warga menyerukan aksinya tersebut dengan memasang spanduk penolakan didekat lahan tersebut.
Lurah Jagalan Eko Purwanto mengatakan warga memang ada yang pro dan kontra dengan rencana pembangunan tower seluler tersebut. Pihaknya diminta untuk fasilitator dalam sosialisasi antara perusahaan dan warga.
“Awal bulan Februari kemarin diadakan sosialisasi oleh perusahaan kami dari pejabat wilayah sebagai fasilitator saja. Dari sosialisasi tahap satu tersebut ternyata warga sudah banyak yang pro dan kontra,” kata Eko, Kamis (10/3/2016).
Warga yang tidak setuju lebih memperhitungkan bahwa lingkungan yang akan di bangun tower tersebut termasuk lingkungan padat penduduk, imbas atau efek yang terjadi dalam jangka pendek dan jangka panjang semakin memberatkan mereka. Sedangkan warga yang setuju menganggap bahwa tower tersebut dibangun di atas tanah pribadi dan ada konsekuensi yang akan dibayar oleh pihak perusahaan.
Eko juga menambahkan warga yang tidak setuju kemudian secara spontan membuat spanduk bertuliskan penolakan terhadap pembangunan tower tersebut dan dipasang di dekat lokasi tanah yang akan disewa tersebut. “Itu spontan dari warga, ya mungkin mereka masih banyak yang merasa keberatan,” tambah Eko.
Setelah sosialisasi tahap pertama yang dilakukan awal Februari lalu, diakui Eko bahwa komunikasi antara pihak perusahaan, warga, dan pejabat kelurahan jadi tidak intens.
“Saya kurang tahu semenjak sosialisasi tahap pertama tersebut komunikasi pihak perusahaan dengan kami semakin berkurang, kurang tau juga alasan jelasnya tapi memang hampir belum memberikan kabar apapun,” imbuh Eko.
Dusun Bodon yang masih termasuk kawasan herritage juga masih dalam kajian. Apakah memang boleh bangunan seperti tower tersebut didirikan di kawasan cagar budaya seperti dusun tersebut.
“Diharapkan setelah kajian tersebut selesai baru dapat diketahui jika bangunan apa saja yang boleh didirikan di kawasan cagar budaya. Agar warga juga semakin paham dan perusahaan serupa juga sudah dapat memperhitungkan sejak dini sekali,” kata Eko.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Dito Ariotedjo mengungkap Raja Arab Saudi menawarkan tambahan kuota haji untuk Indonesia saat pertemuan dengan Jokowi pada akhir 2023.
Jogja Cultural Festival 2026 memadukan budaya Jogja dengan teknologi dan AI serta menyasar generasi Z dan Alpha.
Presiden Prabowo Subianto memimpin rapat DEN 2026 untuk mengamankan stok BBM nasional, mengejar target E50, dan membahas RUU Migas.
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Gunungkidul menggelar Festival Literasi 2026 selama lima hari untuk memacu budaya membaca dan berkarya di masyarakat.
Kepala BGN Sudaryono ungkap bahan baku hewani rusak jadi penyebab keracunan MBG. Ribuan dapur kini diinvestigasi dan terancam ditutup.
KPK menyisir tiga ruangan dirjen di Kementerian ATR/BPN terkait pengusutan kasus dugaan suap HGB PT Summarecon Agung Tbk di Kabupaten Bogor.