Jogja Cultural Festival 2026 Padukan Budaya dengan Teknologi dan AI

Newswire
Newswire Kamis, 17 September 2026 21:27 WIB
Jogja Cultural Festival 2026 Padukan Budaya dengan Teknologi dan AI

Pembahasan terkait pelaksanaan Jogja Cultural Festival 2026 memadukan budaya Jogja dengan teknologi dan AI serta menyasar generasi Z dan Alpha. /Istimewa.

Harianjogja.com, JOGJA—Pelestarian kebudayaan lokal di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dinilai tidak cukup hanya mengandalkan satu pihak. Kolaborasi lintas elemen masyarakat diperlukan agar nilai-nilai keistimewaan Jogja tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Gagasan tersebut salah satunya diwujudkan melalui Jogja Cultural Festival (JCF) 2026 yang akan digelar dalam rangka mendukung HUT ke-270 Kota Jogja. Festival ini dirancang dengan memadukan warisan budaya atau heritage khas Jogja dengan perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Wakil Yayasan Kalimasada Nusantara Syahdana Hardjo mengatakan JCF 2026 diarahkan sebagai kampanye budaya yang menyasar generasi muda, khususnya generasi Z dan generasi Alpha. Festival tersebut diharapkan dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan sekaligus mendekatkan budaya kepada generasi muda.

Menurut Syahdana, penguatan akar budaya perlu dimulai dari ruang interaksi sosial yang dekat dengan masyarakat. Pemahaman terhadap budaya, kata dia, bukan hanya berkaitan dengan menjaga tradisi secara fisik, tetapi juga mempertahankan nilai-nilai luhur dalam kehidupan sehari-hari.

"Nilai kebudayaan yang ada di Jogja ini sangat kaya. Kita perlu terus mengedukasi generasi muda agar tidak kehilangan pijakan tradisi dan tetap bangga dengan identitas daerahnya," ujar Syahdana, Kamis (17/9/2026).

Keistimewaan DIY Perlu Dijaga Bersama

Ketua Sekretariat Bersama (Sekber) Keistimewaan DIY Widihasto Wasana Putra menilai implementasi keistimewaan DIY membutuhkan sinergi antara komunitas lokal, yayasan, dan pemerintah. Menurut dia, lembaga swadaya maupun yayasan kebudayaan memiliki peran penting dalam mendukung keberlangsungan budaya daerah.

"Keistimewaan DIY bukan sekadar regulasi formal, melainkan kesadaran kolektif untuk menjaga nilai sosial, sejarah, dan kebudayaan. Peran komunitas serta yayasan seperti Kalimasada sangat vital untuk menjaga denyut kebudayaan tersebut tetap hidup," tegas Widihasto.

Ia menilai Jogja Culture Festival menjadi salah satu gagasan yang dapat menggerakkan ekonomi kreatif berbasis anak muda. Pendekatan yang digunakan mencakup budaya, olahraga, seni, serta berbagai bidang lainnya.

"Tetapi memiliki esensi untuk orang itu mencintai budaya, orang itu tetap menyadari sejarah, dan terus membangun rasa kebersamaan antar satu dengan yang lain. Saya kira di situ Jogja Culture Festival ini mendapatkan tempatnya," ujarnya.

Budaya dan Teknologi untuk Generasi Muda

Ketua Dewan Pakar PWI Pusat sekaligus Pimpinan Redaksi RayaTimes Dhimam Abror Djuraid mengatakan perpaduan budaya dan teknologi dalam Jogja Cultural Festival 2026 diharapkan membuka ruang bagi generasi muda untuk lebih mengenal kebudayaan Jogja.

Festival tersebut juga diharapkan mendorong generasi muda tidak hanya mencintai budaya, tetapi turut mengembangkan kebudayaan agar tetap hidup dan relevan menghadapi perubahan zaman.

"Melalui sinergi antarlembaga ini, diharapkan berbagai program pelestarian budaya dapat menjangkau lapisan masyarakat yang lebih luas serta memperkokoh posisi Jogja sebagai pusat kebudayaan di Indonesia," katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online