Jembatan Kretek Dua Bakal Diimbangi Pengembangan Wisata
Wakil Bupati Kuloprogo menikmati keindahan pemandangan di Puncak Gunung Lanang, Dusun Sibolong, Desa Jatimulyo, Kecamatan Girimulyo, pada Senin (15/6/2015) pekan lalu. (JIBI/Harian Jogja/Rima Sekarani I.N.)
Investasi Kulonprogo di bagian utara masih sulit menjaring investor
Harianjogja.com, KULONPROGO- Meski telah ditawarkan kepada sejumlah investor, pengembangan kawasan Kulonprogo utara masih sulit diwujudkan. Pasalnya, hal ini masih terhambat minimnya infrastruktur yang ada di daerah tersebut.
Kepala Badan Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu (BPMPT) Kabupaten Kulonprogo, Agung Kurniawan menjelaskan pihaknya telah menawarkan pengembangan kawasan utara kepada para investor.
“Investor mencari infromasi akan wilayah selatan tapi kami tawarkan daerah utara juga,”ujarnya pada Jumat (18/3/2016).
Mski sudah tertarik akan konsep yang akan dikembangkan, Agung menyebutkan hingga saat ini belum ada satupun investor yang merespon.
Ia menguraikan bahwa umumnya investor masih terkendala dengan infrastruktur daerah tersebut yang masih minim, khususnya jalan. Karena itu, nantinya akan dilakukan sosialisasi kembali kepada para investor setelah konsep kawasan sudah lebih matang dan mendetail.
Selain itu, belum lama ini salah satu jaringan hotel nasional juga sudah melakukan pendekatan mengenai konsep pembangunan infrastruktur yang akan dilakukan di daerah Samigaluh dan sekitarnya.
Pengembangan kawasan utara ini merupakan suatu rencana besar yang melibatkan pengembangan Samigaluh sebagai kota satelit, program Bedah Menoreh, serta menarik wisatawan asing yang berkunjung ke kawasan Borobudur.
Agung memaparkan bahwa ini akan menjadi salah satu destinasi wisata yang selaras dengan pembangunan bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kecamatan Temon.
Hal tersebut dilatarbelakangi potensi alam di daerah utara yang sesuai sebagai tujuan wisata. Terlebih lagi, daerah tersebut belum memiliki kepadatan yang tinggi sehingga masih minim polusi dan cocok sebagai kawasan wisata pegunungan.
Melalui Bedah Menoreh, nantinya wisatawan yang berkunjung ke Borobudur akan memiliki akses langsung untuk menuju daerah Samigaluh dan Kalibawang ini. Agung menguraikan bahwa nantinya juga akan akses jalan dari Kecamatan Temon menuju Samigaluh.
Rencana ini menjadi suatu cara agar bandara yang direncanakan untuk menyokong pariwisata DIY ini juga akan memberi keuntungan bagi pariwisata Kulonprogo sendiri. Ketua Komisi III DPRD Kulonprogo, Hamam Cahyadi menyebutkan bahwa ada tiga infrastruktur dasar yang harus dipenuhi untuk pengembangan suatu kawasan. Ketiganya yaitu jalan, listrik, dan air.
Mengingat selama ini kawasan Menoreh seringkali masih kekurangan air dan listrik maka Hamam menganjurkan agar dilakukan rekayasa teknis yang bisa mencukupi kebutuhan warganya.
Selain itu, jika ditujukan sebagai suatu kawasan wisata maka diperlukan pula pembangunan bila, hotel dan aspek pendukung pariwisata lainnya. Fokus pembangunan sebaiknya juga diberikan kepada pembangunan desa wisata budaya dan fasilitas umum untuk pariwisata.
Hamam mengakui bahwa daerah utara sangat memungkinkan dikembangkan menjadi suatu destinasi wisata tersendiri. Ia mencontohkan Kota Batu yang terletak di Malang, Jawa Tengah sebagai salah satu pengembangan kota wisata yang sukses.
Apalagi selama ini Samigaluh juga memiliki udara pegunungan yang sejuk dan mulai banyak dilalui warga yang ingin berwisata ke kebun teh maupun Puncak Suroloyo. “Nanti bisa jadi wisata pegunungan bagi warga Jogja yang penat dengan suasan perkotaan,”tutupnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Perguruan Tinggi (PPKPT) UPN Veteran Yogyakarta mengungkapkan ada tujuh dosen yang diduga terlibat kasus kekerasan se
Turnamen padel internasional FIP Bronze di Jogja diserbu lebih dari 200 peserta dan dorong sport tourism DIY.
Jadwal bola malam ini 22–23 Mei 2026: Arema vs PSIM, final Jepang U-17 vs China, hingga laga Eropa.
Di tengah tantangan ekonomi dan perubahan tren fesyen modern, kelestarian kain wastra Nusantara justru menemukan napas baru lewat tangan-tangan kreatif
Debut Janice Tjen di Roland Garros langsung berat, menghadapi Emma Navarro di babak awal Grand Slam Paris.