Harga Beras Rendah, Petani Bantul Pilih Simpan Hasil Panen
Tambak udang Kulonprogo menghadapi masalah serangan virus
Harianjogja.com, KULONPROGO- Limbah tambak udang yang disebabkan karena sistem pembuangan kotorannya yang tak sempurna membuat berkembangnya penyakit di kolam-kolam tambak.
Akibatnya, udang yang dikembangbiakkan sulit mencapai ukuran yang ideal untuk diekspor.
Yudi Sunarto, pemilik tambak udang di Dusun Pasir Mendhit, Desa Jangkaran, Kecamatan Temon menjelaskan bahwa sudah sejak dua tahun terakhir ini udang-udangnya terserang virus myo. Virus ini menyebabkan nafsu makan udang menurun sehingga sulit bertambah besar.
“Penyakitnya jadi tidak bisa besar, tidak doyan makan,” ujarnya pada Senin (28/3/2016). Selain itu, penyakit white feces disease (WFD) atau berak putih juga seringkali terjadi di daerah tambak udang sekitarnya.
Menurutnya virus tersebut disebabkan karena sistem pembuangan kolam tambak yang tidak sempurna dan kolam yang kotor. Pada masa pembibitan udang sebelumnya, Yudi menjelaskan bahwa untuk membasmi tersebut maka ia menggunakan probiotik secara rutin.
Probiotik ini kemudian dicampurkan ke pakan udang tersebut dan diberikan setelah udang berusia minimal 30 hari. Saat ini, Yudi menyebutkan bahwa udang-udangnya sudah memasuki usia 49 hari dan belum terserang virus tersebut.
Ia memaparkan bahwa udang hasil tambak di daerah sekitarnya biasanya dipasok kepada pabrik-pabrik untuk diekspor. Karena itu, sejumlah panenannya ini akan disortir berdasarkan ukuran yang sesuai dengan persyaratan ekspor tersebut. Karena itu, Yudi menyebutkan bahwa virus yang menyerang udang budidayanya cukup merugikan.
Pasalnya, untuk mencapai ukuran yang diperlukan kini udangnya membutuhkan waktu pembiakan yang lebih lama yakni antara 70-80 hari. Padahal biasanya udang cukup dibiakkan selama 60 hari untuk mencapai ukuran yang dibutuhkan.
Meski demikian, ia tidak memilih memanen udangnya lebih awal guna mempretahankan kualitas dan ukuran udang meski beresiko terserang virus.
Di sisi lain, tingkat produktivitas tambak udang juga ikut menurun karena serangan virus tersebut. Dari total 5 petak tambak berukuran 6000 meter yang ada di daerah tersebut biasanya mampu menghasilkan 2-2,25 ton.
Namun, karena adanya virus tersebut maka panennya menurun hingga 1,9 ton. Selain itu, harga jual udang juga kini sedang menurun di pasaran sehingga hanya mencapaiRp50.000 per kilogram dari biasanya Rp60.000.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Honor dikabarkan menyiapkan HP lipat layar lebar 7,6 inci dengan chipset 2nm Snapdragon 8 Elite Gen 6. Siap meluncur 2027.
Sindikat penipuan online modus asmara dan kripto palsu di Jateng raup Rp41 miliar. Polisi tetapkan 38 tersangka, 133 korban.
Kasus korupsi kredit fiktif di bank BUMN Banjarmasin rugikan negara Rp4,7 miliar. Tiga terdakwa dituntut 4,5 tahun penjara.
DPP Kota Jogja periksa 1.718 hewan kurban jelang Iduladha 2026. Semua dinyatakan sehat dan layak dijual di pasar tiban.
Rektor menekankan pentingnya kolaborasi dan kemampuan bekerja sama dalam menghadapi kompleksitas dunia modern. Keberhasilan lahir dari kerja tim, jejaring.