Mengenal Tiga Karakter Utama Anak Muda Indonesia di Era Digital
Simak tiga tipologi utama anak muda Indonesia di era digital hasil riset Alvara. Dari tipe Si Digital hingga Si Santuy, mana karakter Anda. Cek di sini.
Pentas seni pedagang pasar di Kota Jogja berlangsung meriah
Harianjogja.com, JOGJA-Suara gending terdengar lirih mengalun. Dua lelaki dengan busana prajurit perlahan keluar dari belakang panggung, mengusung properti menyerupai bebatuan. Mereka menyusun bebatuan itu sebagai sebuah bangunan.
Setelah batu terakhir diletakkan di tumpukan paling atas dan ditempeli papan bertulisan “Giwangan”, barulah penonton bisa menyimpulkan bahwa bangunan itu melambangkan sebuah pasar.
Alur cerita menanjak dengan munculnya beberapa pelakon dari arah belakang penonton. Beriring-iringan mereka memasuki arena pentas dengan melantunkan kalimat-kalimat bernada mistis. Para wanita membopong keranjang berisi sayur dan buah buahan. Sementara lelaki yang berjalan paling depan, memimpin iring-iringan dengan membaca mantra dari buku besar yang dibawanya.
Adegan itu merupakan pembuka dari lakon Greget Sengguh Ambangun Pasar yang dipentaskan Paguyuban Pedagang Pasar Giwangan Barat, Selasa (29/3/2016) malam. Giwangan Barat adalah peserta ketiga yang terdaftar dalam Lomba Pentas Seni Antar Paguyuban Pedagang Pasar Kota Yogyakarta Tahun 2016.
Setelah Giwangan Barat, pada Rabu (30/3/2016), Pasar Sentul mendapat giliran mementaskan minidrama di hadapan juri lomba.
Rangkaian lomba pentas seni yang dimulai sejak Selasa (22/3/2016) rencananya diikuti oleh 23 paguyuban pedagang pasar tradisional se-Kota Yogyakarta. Lomba ini diselenggarakan sebagai rangkaian Gebyar Pasar Tradisional 2016.
Berbagai kegiatan diselenggarakan oleh Dinas Pengelolaan Pasar Kota Yogyakarta. Selain lomba pentas seni, juga diadakan Promo Belanja Berhadiah, Lomba Blusukan Pasar, Pemandu Pasar, Saresehan Pedagang, sampai Kirab Pedagang Pasar yang dilakukan pada bulan Oktober, menutup rangkaian event Gebyar Pasar.
Lurah Pasar Giwangan Barat, Jawadi, yang ditemui di sela pementasan mengatakan, dalam pentas kali ini paguyuban lebih banyak melibatkan para buruh gendong sebagai pemain. “Sebagian besar pemain adalah para buruh gendong. Saya sangat senang karena mereka sangat antusias mendukung paguyuban dengan ikut bermain dalam pentas ini,” kata Jawadi.
Sementara, para pemain musiknya, adalah anak-anak dari pedagang. Mereka bisa dengan apik memainkan gamelan lengkap dengan rebab dan juga sindennya. Dalam Lomba Pentas Seni tahun sebelumnya, Paguyuban Pasar Giwangan berhasil menyabet gelar juara II, setelah juara I-nya direbut oleh Pasar Pasthy. Sedangkan juara III, diraih oleh Pasar Pathuk.
Dalam lomba kali ini, Dinlopas Kota Yogya menggandeng praktisi seni sebagai pengamat. Mereka adalah Nano Asmorodono, Krisno “Lik Slenco” Irianto, Toelis Semero, serta pemusik tradisi Fajar Agung Pambudi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Simak tiga tipologi utama anak muda Indonesia di era digital hasil riset Alvara. Dari tipe Si Digital hingga Si Santuy, mana karakter Anda. Cek di sini.
DPAD DIY mengedukasi masyarakat pentingnya arsip sebagai aset berharga dan bukti hukum melalui kampanye sadar arsip sejak dini.
Jadwal KRL Solo–Jogja 25 Mei 2026 lengkap dari Palur hingga Tugu. Tarif Rp8.000, keberangkatan padat dari pagi hingga malam.
Timnas Iran memindahkan markas ke Meksiko jelang Piala Dunia 2026 demi mengatasi masalah visa dan keamanan.
Kepuasan pelanggan KAI Daop 6 Jogja terus meningkat hingga 4,55 pada 2025. Layanan makin nyaman, aman, dan ramah lingkungan.
BNPB mengimbau masyarakat waspada cuaca ekstrem usai BMKG memprediksi hujan lebat disertai angin kencang di sejumlah wilayah Indonesia.