Kemenkeu Kaji Skema Whoosh, Layanan Harus Tetap Berjalan
Kemenkeu masih mengkaji Whoosh untuk menjaga keberlanjutan layanan sekaligus mencari cara meminimalkan dampaknya terhadap beban fiskal.
Hanindiyo menunjukkan pupuk cair alami yang terbuat dari bahan lombah biogas, Jumat (10/6/2016). (Yudho Priambodo/JIBI/Harian Jogja)
Pertanian Bantul terus dilakukan inovasi
Harianjogja.com, BANTUL- Kelompok Ternak Sapi Pandan Mulyo, Ngentak, Poncosari, Srandakan, Bantul mampu memanfaatkan limbah biogas yang selama ini tidak termanfaatkan menjadi produk inovasi pupuk cair alami yang sangat bermaanfaat bagi industri pertanian.
Ketua kelompok Ternak Sapi Pandan Mulyo, Hanindiyo mengatakan pupuk cair hasil fermentasi limbah biogas yang dicampur dengan bahan-bahan alami lainnya ini belum banyak diketahui oleh masyarakat umum dan para petani.
“Pupuk cair alami ini sudah beberapa kali diambil sampelnya untuk diteliti, manfaatnya tidak kalah dengan pupuk yang ada dijual di pasaran,” katanya, Jumat (10/6/2016).
Ia menjelaskan, pupuk cair yang diberi nama ‘Vittan’ ini memang tidak seluruhnya terbuat dari limbah biogas. Ada bahan lain yang digunakan sebagai campuran dalam pembuatan pupuk cair ini yaitu air tembakau, empon-empon, dan molase em4.
“Proses pembuatan pupuk juga sangat mudah, hanya mencampurkan 50 liter limbah biogas dengan satu liter em4 molase kemudian untuk campuran air tembakau dan empon-empon menyesuaikan dengan kebutuhan,” katanya.
Hanin mengatakan pupuk cair ini bisa digunakan untuk berbagai jenis tanaman seperti tanaman kacang, bawang merah, cabai, dan juga padi. Penggunaan pupuk cair ini juga sangat irit, pasalnya dengan satu tangki alat penyemprot pupuk hanya perlu campuran pupuk cair ini sebanyak satu atau dua tutup botol air mineral.
“Dalam penggunaan pupuk ini juga sangat irit, satu botol pupuk bisa dicampurkan hingga 200 liter air. Oleh kelompok tani pupuk cair dalam kemasan botol 1,6 liter dijual dengan harga Rp16.000, harganya sangat murah jadi jika para petani mampu memanfaatkan ini secara maksimal maka akan sangat menghemat biaya perawatan tanaman,” katanya.
Menurutnya, dengan apa yang telah dilakukan oleh kelompok ternak ini bisa dijadikan contoh bagi kelompok ternak lainnya yang mengelola limbah biogas. Agar limbah yang biasanya hanya dibuang ke sungai tersebut bisa dimanfaatkan menjadi produk yang lebih bermanfaat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kemenkeu masih mengkaji Whoosh untuk menjaga keberlanjutan layanan sekaligus mencari cara meminimalkan dampaknya terhadap beban fiskal.
BPPTKG menguji sirine EWS Kali Talang dan aplikasi Smart di Balerante, Klaten, untuk mendukung peringatan dini dan simulasi evakuasi Merapi.
Persib dan Persija mengecam penyerangan rombongan Persib EPA U-18 di Rest Area KM 360 Batang. Kedua klub meminta kasus diusut tuntas.
Davide Tardozzi mengakui keunggulan Aprilia usai MotoGP Mandalika. Ducati menatap Phillip Island di tengah persaingan gelar yang ketat.
Komisi IV DPRD Kulonprogo memantau pelaksanaan kebijakan disabilitas, ketenagakerjaan, dan pariwisata. Sebanyak 90% karyawan PT Indonesia Plafon Semesta berasal
Apple mengonfirmasi acara rumah pintar 13 Oktober. MacBook Pro OLED, iMac M6, dan iPad Mini baru dirumorkan hadir pada akhir bulan.