HARGA KEBUTUHAN POKOK : Sudah Ada Operasi Pasar, Harga Daging Sapi Masih Tinggi
Panijem, penjual daging sapi di Pasar Beringharjo sedang menunggu dagangannya, Jumat (25/7/2014). Harga komoditas daging sapi hingga H-3 masih belum beranjak, dijual Rp105.000 perkg. (Abdul Hamied Razak/JIBI/Harian Jogja).
Harga kebutuhan pokok untuk komoditas daging sapi masih tinggi padahal operasi pasar sudah dilakukan
Harianjogja.com, JOGJA-Operasi pasar yang dilakukan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) sejak pekan lalu belum membuahkan hasil. Hingga Rabu (15/6/2016), harga daging sapi masih melenggang di level Rp115.000 per kilogram (kg).
Pedagang daging sapi di Pasar Kranggan Supri mengatakan, ia sama sekali belum mengubah harga daging sapi. “Belum [ada perubahan]. Kualitas satu masih Rp115.000,” kata dia, Rabu.
Menurutnya operasi pasar daging sapi yang telah dilakukan di Pasar Kranggan sebanyak tiga kali tersebut belum berhasil menekan harga di pasaran. “Yang ada kita ini malah turun omzetnya,” katanya.
Supri mengaku sejak dilakukan operasi pasar, konsumennya menurun. Konsumen yang biasa membeli di tempatnya kini beralih membeli daging yang disediakan TPID. Kebanyakan, mereka adalah kalangan pengusaha warung makan. Ia memperkirakan penurunan omzet mencapai 30%.
Agar tidak banyak menanggung rugi, Supri mengurangi jumlah daging sapi yang dijual. “Biasanya jual 110 kilo, sekarang mau saya kurangi jadi 70 kilo saja,” ujar dia.
Kondisi yang sama juga terjadi untuk komoditas gula pasir. Operasi pasar yang diselenggarakan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY bersama PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) (Persero) dan Dinas Pengelolaan Pasar Kota Jogja, belum mampu menurunkan harga gula di pasar. Saat ini gula pasir kristal putih masih bertahan Rp15.000-Rp15.500 per kg.
Wagiman, salah satu pedagang gula pasir di Pasar Beringharjo yang mengkoordinir penyaluran operasi pasar tersebut mengatakan, saat gula pasir dari PT PPI seharga Rp13.000 turun ke pasar, konsumen berbondong-bondong membeli gula tersebut. Sementara gula yang dijual Rp15.000-an kurang laku.
“Kadang ada aksi borong. Ini yang sangat menyedot gula [PPI],” kata Wagiman.
Aksi borong ini dilakukan oleh konsumen pembeli terakhir. Kebijakan membeli maksimal 5 kg pun dikeluarkan pedagang untuk membatasi pembelian.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Share