Disdag Jogja Belum Punya Sistem Memadai untuk Hitung Perputaran Uang Pasar Rakyat

Andreas Yuda Pramono
Andreas Yuda Pramono Senin, 12 Oktober 2026 21:17 WIB
Disdag Jogja Belum Punya Sistem Memadai untuk Hitung Perputaran Uang Pasar Rakyat

Foto ilustrasi uang - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA — Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Jogja belum memiliki sistem yang memadai untuk menghitung perputaran uang secara terperinci di pasar-pasar rakyat. Selama ini, gambaran aktivitas ekonomi pasar diperoleh melalui transaksi nontunai dalam festival belanja dan kajian omzet pedagang yang dilakukan pihak ketiga.

Kepala Bidang Pasar Rakyat Disdag Kota Jogja, Gunawan Nugroho Utomo, mengatakan kegiatan seperti Gemati Pasar, Beringharjo Great Sale, dan Beringharjo Muslim Fest dapat memberikan gambaran awal mengenai aktivitas transaksi di pasar tradisional.

“Kalau secara detail kami belum memiliki sistem yang memadai untuk menghitung perputaran uang di pasar-pasar tradisional. Namun, kami mencoba melalui beberapa event atau festival belanja, di mana informasi transaksi belanja nontunainya sedikit banyak memberikan gambaran kecil terkait perputaran uang,” kata Gunawan saat dihubungi, Senin (12/10/2026).

Selain memanfaatkan data transaksi nontunai dari berbagai kegiatan, Disdag mengandalkan kajian omzet pedagang yang dikerjakan pihak ketiga. Kajian tersebut menjadi salah satu sumber untuk memperoleh gambaran mengenai aktivitas ekonomi di pasar rakyat.

Meski demikian, data dari festival belanja dan kajian omzet tersebut perlu dibedakan dari penghitungan transaksi secara menyeluruh di seluruh pasar rakyat Kota Jogja.

Di sisi lain, Disdag masih berupaya memperkuat aktivitas perdagangan di Pasar Terban setelah revitalisasi. Pengelolaan pasar itu dibagi berdasarkan lantai. Disdag bersama UPT 1 menangani lantai satu yang sebagian besar ditempati pedagang ayam, sedangkan lantai dua dan tiga dikelola BLUD UPT Pusat Bisnis Disdag Kota Jogja.

Gunawan mengatakan sebagian besar pedagang ayam tetap melanjutkan aktivitas perdagangan setelah kembali ke Pasar Terban dari lokasi penampungan sementara. Sementara itu, aktivitas perdagangan di lantai dua dan tiga masih membutuhkan penguatan.

Penataan kedua lantai tersebut menjadi bagian dari penataan kawasan Jalan C. Simanjuntak, Jalan Cik Di Tiro, hingga area depan SMA Negeri 6 Jogja.

“Untuk pedagang di lantai dua dan tiga memang perlu ada penguatan komitmen, kekompakan, dan kebersamaan agar aktivitas perdagangan di pasar rakyat dapat berkembang,” ujarnya.

Disdag juga mendorong pedagang memanfaatkan pemasaran digital. Menurut Gunawan, sejumlah pedagang telah mulai berjualan secara daring dan diharapkan dapat menginspirasi pedagang lainnya.

“Beberapa pedagang sudah aktif untuk online. Semoga nanti bisa mengedukasi dan menginspirasi teman-teman pedagang yang lain,” katanya.

Untuk perbaikan fisik pasar pada 2026, Disdag menyesuaikan pekerjaan dengan kemampuan anggaran. Sejumlah pekerjaan berskala kecil disiapkan di Pasar Giwangan, Pasar Ngasem, dan Pasar Lempuyangan, antara lain perbaikan paving, pagar pengaman, serta fasilitas lainnya.

Sementara itu, Anggota Komisi B DPRD Kota Jogja, Oleg Yohan, menyebut Pasar Kranggan menjadi salah satu pasar rakyat yang direncanakan mendapat perbaikan pada 2027. Namun, dia belum memastikan besaran anggaran untuk rencana tersebut.

“Saya perlu memeriksa dokumen pelaksanaan anggaran lagi,” kata Oleg.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online