BULE MENGAJAR : Siswa SMP N 4 Wates Belajar Chigiri-e Bersama Mahasiswa Jepang

Rima Sekarani
Rima Sekarani Minggu, 04 September 2016 07:20 WIB
BULE MENGAJAR : Siswa SMP N 4 Wates Belajar Chigiri-e Bersama Mahasiswa Jepang

Mahasiswa asal Jepang menjadi pemateri dalam kegiatan Komunitas Bule Mengajar di SMP Negeri 4 Wates, Kulonprogo, Jumat (2/9/2016). (Rima Sekarani I.N/JIBI/Harian Jogja)

Bule mengajar digelar di  SMP N 4 Wates Kulonprogo

Harianjogja.com, KULONPROGO- Sebanyak 10 mahasiswa asal Jepang mengisi kegiatan Komunitas Bule Mengajar di SMP Negeri 4 Wates, Kulonprogo, Jumat (2/9/2016). Mereka memperkenalkan beberapa kesenian dan kebudayaan asal negeri sakura.

Puluhan siswa kelas VIII D SMP Negeri 4 Wates tampak asik bermain dengan potongan kertas warna-warni dan lem. Mereka berusaha menciptakan sebuah gambar dengan menempelkan potongan kertas pada gambar pola yang dibuat di selembar kertas HVS masing-masing.

“Kayak anak kecil tapi asik kok,” kata salah satu siswa bernama Dian.

Dian ingin membentuk gambar seekor kupu-kupu dengan kertas berwarna hijau dan ungu. Jari telunjuk kanannya sudah terasa lengket karena sering dipakai untuk mencolek lem kertas.

Namun, dia terlihat antusias. Sesekali dia juga tampak bercanda dengan teman di sekitarnya. Saat seseorang berpakaian yukata menghampiri meja Dian, hanya senyuman yang bisa dia berikan karena tidak tahu harus berkata apa. Jangankan Bahasa Jepang, Dian pun tidak cukup percaya diri untuk berbicara dengan Bahasa Inggris.

Pagi itu, dua perempuan berpakaian yukata masuk ke kelas VIII D. Mereka bernama Ayane Kikuchi dan Emi Takahashi. Keduanya diundang Komunitas Bule Mengajar untuk berbagi budaya dengan anak-anak Kulonprogo.

Setelah mengenalkan diri, mereka memenuhi papan tulis di depan kelas dengan deretan huruf hiragana. Anak-anak diajak belajar bersama, setidaknya sampai bisa menulis nama panggilan masing-masing dengan hiragana.

Bersambung halaman 2

Anak-anak kemudian diperkenalkan dengan salah satu seni kerajinan khas Jepang yang disebut chigiri-e, yaitu membuat gambar tertentu dengan menggunakan robekan atau potongan kertas warna. Sekilas bentuknya menyerupai seni kaligrafi. “I hope the kids enjoy it,” kata Ayane.

Kegiatan serupa sudah sering diselenggarakan Komunitas Bule Mengajar di Kulonprogo sejak 2014 lalu. Setidaknya sudah ada 90 warga asing dari 22 negara berbeda yang diajak berpartisipasi. Mereka memperkenalkan dan mengajarkan kebudayaan dari negara asal masing-masing. Sebaliknya, mereka juga akan diperkenalkan dengan kekayaan budaya dan seni Indonesia, seperti musik dan tari tradisional.

“Ini sudah ketiga kali dilaksanakan di SMP Negeri 4 Wates. Hari ini sasarannya dua kelas VIII dan tiga kelas IX,” ujar perintis Komunitas Bule Mengajar, Lia Andarina Grasia.

Lia mengaku, proses pertukaran budaya sering tidak berjalan mulus karena terkendala perbedaan bahasa. Hal itu karena tidak semua warga asing fasih menggunakan Bahasa Inggris, misalnya mereka yang berasal dari wilayah Asia Timur. Itulah mengapa komunitasnya mesti menyediakan tenaga penerjemah sebagai pendamping.

“Kadang siswa juga tidak memahami kalau mereka terlalu cepat saat bicara dengan Bahasa Inggris,” ucap Lia.

Usai berkarya dengan chigiri-e, para mahasiswa Jepang diajak untuk menyaksikan sejumlah pertunjukan seni dari perwakilan siswa SMP Negeri 4 Wates. Mereka menyanyikan lagu tradisional, be rmain angklung, dan membawakan tarian jaran kepang. Sekolah juga menyuguhkan berbagai makanan tradisional yang bisa langsung dinikmati, seperti geblek, klepon, dan pisang rebus.

“Kami sangat senang karena punya juga kesempatan untuk menyampaikan informasi terkait kebudayaan Indonesia, khususnya Jawa,” ungkap Kepala SMP Negeri 4 Wates, Guryadi.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Nina Atmasari
Nina Atmasari Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Artikel Penulis