PENATAAN BANTUL : Setelah Gumuk Pasir, Cepuri Juga Ditertibkan dari Prostitusi

Irwan A Syambudi
Irwan A Syambudi Rabu, 14 September 2016 02:20 WIB
PENATAAN BANTUL : Setelah Gumuk Pasir, Cepuri Juga Ditertibkan dari Prostitusi

JIBI/Harian Jogja/Desi Suryanto Warga menjemur tanaman enceng gondok (Eichhornia crassipes) di gumuk pasir Dusun Waru, Poncosari, Srandakan kabupaten Bantul, Bantul, Kamis (2/8). Potensi kerajinan berbahan baku enceng gondok dikembangkan di pesisir pantai selatan Bantul, tepatnya di Patehan, Gadingsari, Kecamatan Sanden. Produk seperti Loundry Box, Tikar, Bantal Duduk, dan kursi kombinasi anyaman telah mampu menembus ke pasar Amerika Serikat, Belgia dan Australia.

Penataan Bantul akan dilakukan di gumuk pasir kemudian di Taman Cepuri

Harianjogja.com, BANTUL--Pemda Bantul berencana menertibkan kawasan Taman Cepuri, Desa Parangtritis, Kretek, Bantul dari aktifitas lain termasuk prostitusi yang dianggap sudah mengganggu kawasan itu.

Satuan Polisi Pamong Praja  (Satpol PP) Kabupaten Bantul akan memasang spanduk himbauan dan menempatkan personel untuk menjaga kawasan tersebut.

Kepala Satpol PP Kabupaten Bantul, Hermawan Setiaji mengatakan demi menjauhkan praktek bisnis prostitusi di kawasan Cepuri yang selama ini diaggap tempat sakral.

Satpol PP bekerja sama dengan Dinas Kebudaayan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Bantul akan memasang Spanduk bertulisakan zona bebas maksiat. “Setalah di pasang baliho nanti akan ada personel kami yang siap menjaga kawasan Cepuri,” ujarnya, Senin (12/9).

Menurut Hermawan Taman Cepuri selama ini masih dijadikan tempat bisnis esek-esek oleh sebagian orang. Setiap malam, lokasi yang sebetulnya tempat ziarah itu difungsikan oleh puluhan bahkan ratusan Pekerja Seks Komersial (PSK) untuk mengais rejeki dari para lelaki hidung belang.

Kata Hermawan, setelah proses penertiban gumuk pasir rampung, dia bakal menertibkan kawasan Taman Cepuri, Parangkusumo.

Hermawan memaparkan, penertiban tersebut bertujuan untuk menjaga nilai-nilai religius dan budaya yang berada di Taman Cepuri. ”Transaksi seks di sekitar tempat ibadah, ini kan ironis. Belum lagi penyebaran penyakit HIV-AIDS. Di sana tercatat banyak yang sudah terinfeksi penyakit tersebut,” tambahnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Nina Atmasari
Nina Atmasari Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online