BENCANA JOGJA : Sungai di Jogja Masih Rawan Meluap

Redaksi Solopos
Redaksi Solopos Minggu, 27 November 2016 09:20 WIB
BENCANA JOGJA : Sungai di Jogja Masih Rawan Meluap

JIBI/Desi Suryanto Warga melewati genganan yang membanjiri Kampung Klitren Lor, Gondokusuman, Yogyakarta, Rabu (11/12/13) petang. Tidak banyak yang bisa diperbuat warga saat menghadapi banjir musiman akibat meluapnya Kali Manunggal yang membelah perkampungan itu, sebagain besar warga telah mengantisipasi masuknya air banjir dengan membuat tanggul pada bagian pintu-pintu rumah.

Bencana Jogja masih rawan terjadi berupa sungai yang meluap

Harianjogja.com, JOGJA- Luapan air sungai di Kota Jogja ke permukiman warga di sepanjang bantaran berpotensi masih akan terjadi selama musim hujan sehingga warga diminta tetap waspada.

"Menghindari luapan air sungai saat musim hujan terlebih saat hujan turun dengan sangat lebat akan sulit dilakukan," kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja, Agus Winarto, Sabtu (26/11/2016).

Selain intensitas hujan yang sangat lebat, lanjut Agus, luapan air sungai bisa terjadi karena kondisi drainase permukiman warga yang biasanya lebih rendah dibanding muka air sungai.

"Akibatnya, air dari drainase akan kembali ke permukiman warga saat air sungai penuh. Meskipun demikian, di sebagian besar bantaran, luapan air sungai akan segera surut saat hujan reda," katanya, seperti dikutip dari Antara.

Berdasarkan data BPBD DIY periode 10 November hingga 22 November, di Kota Jogja terjadi tujuh kasus banjir yang semuanya terjadi di bantaran sungai, baik di Sungai Gajah Wong, Belik, Manunggal, Winongo, Code dan Buntung.

"Umur talud sungai yang tidak sama juga seringkali menimbulkan permasalahan. Ada saja talud yang ambrol akibat terjangan arus sungai yang deras saat hujan," katanya.

Oleh karena itu, Agus berharap agar instansi terkait dapat menganggarkan dana lebih banyak untuk pembangunan atau perbaikan talud karena kejadian serupa terus terulang setiap kali musim hujan.

Sedangkan untuk kesiap-siagaan peralatan penanggulangan bencana, BPBD Kota Jogja membutuhkan peralatan penerangan dengan kapasitas 45.000 kilovolt untuk membantu evakuasi saat malam hari.

"Kami hanya memiliki lampu portabel dengan daya 100 watt. Penerangan yang dihasilkan saat malam hari kurang maksimal, apalagi saat listrik padam," katanya.

Sebelumnya, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta memperkirakan, intensitas hujan akan terus meningkat hingga Januari 2017.

BMKG Yogyakarta memperkirakan intensitas hujan pada November hingga Januari 2017 berkisar antara 301 hingga 500 mimimeter dengan puncak musim hujan pada Januari hingga Februari 2017.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Nina Atmasari
Nina Atmasari Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online