Usaha Kecil Jadi Pasar Potensial untuk Koperasi Syariah

Sekar Langit Nariswari
Sekar Langit Nariswari Kamis, 09 Maret 2017 18:55 WIB
Usaha Kecil Jadi Pasar Potensial untuk Koperasi Syariah

Ilustrasi uang tunai rupiah. (Nurul Hidayat/JIBI/Bisnis)

Pelaku usaha mikro masih banyak yang luput dari perhatian perbankan konvensional sehingga pinjaman rentenir

Harianjogja.com, KULONPROGO- Pelaku usaha mikro masih banyak yang luput dari perhatian perbankan konvensional sehingga pinjaman rentenir. Selain itu, masih banyak pula pelaku usaha mikro yang belum bisa melakukan administrasi keuangan meski dengan taraf sederhana.

Hal tersebut disampaikan oleh Muhammad Ridwan, Ketua Pusat Koperasi Syariah (Puskopsyah) DIY usai Rapat Anggota Tahunan (RAT) di Dharmais, Pengasih pada Rabu (8/3/2017).

Padahal, pinjaman dari rentenir biasanya disertai bunganya yang cukup besar sehingga merugikan. “Hal inilah yang menjadi fokus dari koperasi syariah berupa BMT [baitul maal], memberantas rentenir,” ujarnya.

Diakuinya, banyak hal yang menyulitan dalam proses tersebut khususnya pelaku usaha yang tidak memiliki aset untuk dijadikan agunan. Kalangan inilah yang sebenarnya potensial namun tidak terjangkau pihak perbankan konvensional.

Ridwan mengatakan pihaknya juga melakukan pendampingan usaha kepada pelaku usaha tersebut agar bisa mengembangkan bisnisnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Puskopsyah, Afifah Noor Hayati, menerangkan pendampingan yang dilakukan juga termasuk mengajari menyusun pembukuan sederhana.

Pembukuan yang dimaksud berupa catatan modal serta transaksi yang dilakukan. Harapannya, pelaku mikro bisa membedakan dana yang bisa dimanfaatkan untuk perputaran usaha dan dana bagi kebutuhan pribadi.

Adapun, Puskopsyah DIY saat ini terdiri dari 93 BMT di 4 kabupaten dan 1 kota. Kulonprogo sendiri menjadi daerah dengan keanggotaan paling sedikit yakni hanya 7 BMT.

Bukhori Burhanudin, sekretaris Puskokpsyah yang merupakan warga Kulonprogo mengatakan hal ini disebabkan masih terbatasnya perkembangan perekonomian di Kulonprogo selama ini. Selain itu, komunikasi antar tiap elemennya juga masih minim.

Namun, hal ini diharapkan berubah dengan adanya sejumlah program pembangunan di Kulonprogo. Bukhori menyebutkan pihak koperasi syariah di Kulonprogo saat ini telah menampung dana sekitar Rp3miliar dari warga terdampak bandara yang menerima ganti rugi. Adapula rencana untuk ikut terlibat dalam rencana pembangunan bandara dengan sistem gabungan sejumlah koperasi.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Nina Atmasari
Nina Atmasari Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Artikel Penulis