Gubernur DIY Perintahkan DKP Cari Lahan untuk Kolam Garam

Arief Junianto
Arief Junianto Jum'at, 28 Juli 2017 08:20 WIB
Gubernur DIY Perintahkan DKP Cari Lahan untuk Kolam Garam

Area pertanian garam di Desa Kedungmalang, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah (Jateng), Kamis (20/7/2017), panen. Para petani garam pun tampak siat bekerja. Akibat cuaca yang tidak menentu produksi garam di wilayah itu turun hingga 40% dan menyebabkan pasokan berkurang. Harga kebutuhan pokok masyarakat itu pun naik hingga Rp 300.000/kuintal di tingkat petani. (JIBI/Solopos/Antara/Yusuf Nugroho)

Kelangkaan garam yang menyebabakan melonjaknya harga garam memaksa pemerintah DIY memutar otak untuk mencari solusi

Harianjogja.com, JOGJA--Kelangkaan garam yang menyebabakan melonjaknya harga garam memaksa pemerintah DIY memutar otak untuk mencari solusi. Lahan bekas produksi garam yang berada di sekitar Pantai Samas, Kecamatan Sanden dan Pantai Depok, Kecamatan Kretek diwacanakan akan kembali dioperasikan lagi.

Hal itu diakui sendiri oleh Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) DIY Sigit Sapto Raharjo. Kepada wartawan, dirinya mengaku mendapatkan instruksi khusus dari Gubernur DIY untuk melakukan survei di beberapa lokasi tersebut. "Di Samas, baknya kan masih ada. Jadi siap saja kalau dihidupkan lagi," katanya, Jumat (27/7/2017).

Sementara di Parangtritis, Kecamatan Kretek, ia menilai tak cukup layak untuk lahan produksi garam. Pasalnya, di kawasan tersebut, kontur geografisnya tidak mendukung. Dikatakannya, di kawasan tersebut, jika coba dicari lahan yang berjarak sekian meter dari bibir pantai ke sisi utara, akan berbenturan dengan bukit.

Sebenarnya, menurut Sigit, kualitas garam yang lebih baik ada di Pantai Sepanjang, Gunungkidul. Namun, produksi garam itu belum bersifat massal. Pihaknya pun pernah melakukan pelatihan kepada warga. Sayangnya, sekarang di sana lebih banyak yang berakhir profesi ke wisata. "Itulah sebabnya, ke depan, kami akan berupaya menghidupkan yang di Samas," ucapnya.

Selain itu, beberapa kendala juga dirasakan petani garam di area pantai selatan DIY. Angin yang bertiup kencang membuat pasir bercampur dengan garam yang tengah dikeringkan di lahan.

Tak hanya itu, untuk mengambil garam, petani harus melakukannya dari tengah laut. Pasalnya, lokasi kolam lebih dekat dengan muara sehingga kadar garamnya sangat rendah.

Terpisah, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X membenarkan bahwa pihaknya telah meminta pihak DKP DIY untuk mencari lahan di sisi utara pesisir selatan. Dengan begitu, ia berharap angin tidak lagi mengganggu produksi garam.

"Saya sudah perintahkan DKP untuk mengkaji. Saya juga minta mereka untuk mencari lahan. Nanti biar ditanggung pemerintah [DIY]," tegasnya.

Ia menambahkan, cuaca beberapa bulan terakhir memang membuat petani garam kesulitan dalam melakukan produksi. Itulah sebabnya, kelangkaan yang terjadi sekarang, ia rasa wajar terjadi.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Nina Atmasari
Nina Atmasari Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Artikel Penulis