Pemanfaatan Nuklir bagi Energi Listrik Belum Optimal

Sekar Langit Nariswari
Sekar Langit Nariswari Sabtu, 05 Agustus 2017 19:20 WIB
Pemanfaatan Nuklir bagi Energi Listrik Belum Optimal

Salah satu adegan dalam simulasi bencana di Kompleks Batan, Babarsari Sleman, Sabtu (10/9/2016). (Yudho Priambodo/JIBI/Harian Jogja)

Pemanfaatan yang optimal dinilai akan bisa menjawab kebutuhan energi terbarukan dalam negeri khususnya listrik

Harianjogja.com, SLEMAN-Indonesia dinyatakan memiliki sumber daya penghasil nuklir yang cukup banyak. Pemanfaatan yang optimal dinilai akan bisa menjawab kebutuhan energi terbarukan dalam negeri khususnya listrik.

Dirjen Sumber Daya Iptek Kemenristek Dikti, Ali Ghufron mengatakan pengembangan masih sangat kurang karena minimnya upaya dan salah persepsi. “Kita pabrik bahan energi nuklir tapi sampai sekarang belum berkembang,” ujarnya kepada wartawan dalam jumpa media di Kantor Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) di Depok, Jumat (4/8/2017).

Ia meenyebutkan Prancis sudah memasok 70% energi listriknya dari reaktor nuklir sementara negara Eropa lainya sudah berkisar 50%. Sejumlah negara tetangga juga dinyatakan sudah mulai mengembangkan nuklir untuk kebutuhan listrik seperti Malaysia dan Vietnam.

Untuk Sumber Daya Manusia (SDM) juga dijelaskan sebenarnya sudah sangat memadai. Terlebih lagi, Indonesia saat ini sangat kekurangan energi listrik sementara cadangan energi yang tersedia tidak diketahui akan bertahan berapa lama.

Jika listrik menjadi energi yang murah, ia menilai Indonesia bisa menjadi lebih komptetif di dunia internasional. Listrik yang dihasilkan dari nuklir menjadi energi terbantukan yang tak lagi bergantung pada fosil. Dampak positifnya juga tak hanya bagi listrik namun juga bagi ketersediaan pangan.

Ali mengatakan sebenarnya sudah ada jenis beras yang dihasilkan dari penggunaan nuklir. Beras jenis itu memiliki kualitas baik meski masyarakat tak banyak yang paham akan penggunan nuklirnya.

Kepala Batan, Djarot Sulistiyo Wisnubroto mengatakan terdapat 3 reaktor riset yang dimiliki Indonesia. Fasilitas itu terdapat di Jogja, Bandung, dan Serpong. Ketiga sudah beroperasi sejak 1965 tanpa insiden apapun dalam pelaksanannya.

Hanya saja, ia mengakui ketiganya hanya terbatas reaktor penghasil neutron dan bukan listrik. “Indonesia belum punya reaktor penghasil listrik, adanya yang penghasil neutron,” tambahnya.

Reaktor riset di Bandung dan Serpong dimanfaatkan untuk penghasil isotop yang manfaatnya termasuk bagi kesehatan dan analisis polusi udara. Sedangkan reaktor Jogja kerap digunakan untuk studi. Karena itu, utilisasinya memang harus terus dikembangkan untuk berbagai bidang termasuk industrilisasi.

Terlebih lagi, sejauh ini tidak ada protes dari masyarakat akan keberadaan reaktor tersebut. Djarot menilai hal itu sebagai kesempatan baik untuk mengembangkan penggunaan nuklir.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Nina Atmasari
Nina Atmasari Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online