Pedagang Pantai Baron Gelar Sedekah Laut, Nelayan Tak Ikut

I Ketut Sawitra Mustika
I Ketut Sawitra Mustika Jum'at, 22 September 2017 08:20 WIB
Pedagang Pantai Baron Gelar Sedekah Laut, Nelayan Tak Ikut

SEDEKAH LAUT PANTAI BARON Sejumlah nelayan bersama warga pesisir pantai Baron menggunakan kapal untuk membawa beragam sesaji yang ditempatkan dalam tandu berbentuk miniatur rumah joglo ke tengah lautan berjarak 2 Mil dari bibir pantai dalam upacara tradisi Sedekah Laut di Kemadang, Tanjungsari, Gunungkidul, DI. Yogyakarta, Kamis (29/08/2013). Sedekah laut yang menjadi tradisi jelang musim panen besar ikan itu menjadi wujud rasa syukur para nelayan atas kelimpahan tangkapan ikan dan keselamatan selama mengar

Masyarakat Desa Kemadang, Gunungkidul, menggelar sedekah laut atau labuhan, Rabu (20/9/2017)

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL--Masyarakat Desa Kemadang, Gunungkidul, menggelar sedekah laut atau labuhan, Rabu (20/9/2017). Ritual ini dilakukan sebagai bentuk persembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkah yang telah dilimpahkan selama setahun terakhir.

Salah satu sesepuh Desa Kemadang, Ngatno mengatakan sedekah laut adalah ritual rutin yang digelar setiap tahun. Tepatnya sehari sebelum tanggal satu Muharram atau tahun baru Islam. “Labuhan ini dilakukan oleh para pedagang yang berjualan di Pantai Baron sebagai rasa syukur,” jelasnya seusai ritual.

Ia menambahkan, sedekah laut periode sebelum-sebelumnya selalu melibatkan nelayan. Tapi karena nasib nelayan tahun lalu kurang baik seiring dengan minimnya tangkapan, maka dengan terpaksa para pelaut tersebut urung berpartisipasi pada sedekah laut tahun ini.

Ritual sedekah laut ini diawali dengan proses kenduri yang dilaksanakan di balai yang terletak beberapa meter dari bibir pantai. Setelah itu sesaji yang terdiri dari ayam hidup, ikan, buah-buahan, jarit (selendang), kepala kambing dan lain-lain diarak menuju ke laut.

Sesaji tersebut ditempatkan ke dalam jodang atau kotak kayu panjang yang masing-masing dipikul oleh empat orang laki-laki berpakaian adat Jawa. Di belakang rombongan pembawa sesaji, berbagai kesenian tradisional seperti jathilan, reog dengan setia mengikuti.

Sedangkan di bagian paling depan, berjalan terlebih dahulu beberapa wanita yang membawa bunga tujuh rupa untuk kemudian ditebarkan di sepanjang pantai. Kemudian, setelah bunga ditaburkan, satu per satu jodang diangkut menggunakan perahu dan dilarung di lautan lepas.

Ngatno mengatakan ritual sedekah laut selain sebagai bentuk rasa syukur sebenarnya juga bisa dijadikan sebagai atraksi wisata yang potensial untuk menarik minat para pelancong. Buktinya, sambung Ngatno, setiap kali sedekah laut dilaksanakan, masyarakat sekitar dan wisatawan selalu antusias menonton.

“Bisa disaksikan sendiri yang hadir menyaksikkan tidak hanya satu dua, tapi ratusan. Kami berharap pemerintah bisa memanfaatkan momen yang bagus ini untuk semakin meningkatkan kunjungan wisatawan ke Pantai Baron,” ujar Ngatno.

Hari itu, panasnya matahari memang tidak membuat masyarakat maupun wisatawan kehilangan semangat untuk menyaksikkan ritual tersebut. Salah satu yang datang menonton hari itu bernama Dedi, warga Karangmojo. Ia mengaku selalu menyempatkan diri untuk menyaksikan sedekah laut.

“Saya memang menyempatkan diri ke Pantai Baron untuk melihat labuhan, sekaligus membeli ikan segar, karena saat ini sedang panen ikan layur," ungkapnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Nina Atmasari
Nina Atmasari Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online