Kehancuran Ekologi RI di Balik Transisi Energi Disuarakan di COP30
Nasib banyak Masyarakat Adat justru kian terancam oleh ambisi transisi energi global.
Deklarasi antiradikalisme
Aksi Kebangsaan Perguruan Tinggi Melawan Radikalisme Akan Dilaksanakan 28 Oktober.
Harianjogja, JOGJA-- Aksi Kebangsaan Perguruan Tinggi Melawan Radikalisme akan diselenggarakan secara serentak di seluruh provinsi di Indonesia, termasuk DIY, pada 28 Oktober 2017. Pada acara tersebut, rencananya Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X akan membawakan orasi ilmiah tentang penguatan paham kebangsaan dan anti radikalisme.
“Kami sowan Ngarso Dalem minta dukungan. Beliau sangat mendukung dan kami juga mohon kesedian beliau untuk memberikan orasi. Jadi nanti ada tiga orasi,” kata Rektor Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, Pardimin ketika ditemui di Kompleks Kepatihan, Rabu (18/10/2017).
Sebagai informasi, Aksi Kebangsaan Perguruan Tinggi Melawan Radikalisme merupakan lanjutan dari Aksi Kebangsaan Melawan Radikalisme yang dihelat pada 25-26 September 2017 di Nusa Dua, Bali. Kegiatan tersebut dihadiri oleh para pimpinan berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Salah satu hal yang disepakati dalam hajatan itu adalah digelarnya acara serupa secara serentak di seluruh provinsi di Indonesia supaya ada kesinambungan kegiatan pasca acara di Bali.
Pardimin melanjutkan, selain Sri Sultan HB X, tokoh yang akan berorasi adalah seorang menteri di Kabinet Kerja yang hingga saat ini belum ditentukan siapa serta Rektor UIN Sunan Kalijaga Profesor Yudian Wahyudi.
Orasi ilmiah yang akan dibawakan bermaterikan tentang penguatan faham kebangsaan dan anti radikalisme yang meliputi Pancasila, Nasionalisme, Persatuan, Kebhinnekaan dan Penolakan terhadap radikalisme dan intoleransi.
Pardimin yang juga merupakan Koordinator Steering Committee (SC) wilayah DIY menambahkan, dalam pertemuan tersebut, Sri Sultan HB X sempat menyuarakan ide brilian yang akan segera ditindaklanjuti oleh penyelenggara.
“Ngarso Dalem juga ada saran yang sangat bagus sekali dan kami tindaklanjutui. Sarannya adalah penandatangan bersama, nota kesepahaman [melawan radikalisme] antara pimpinan Perguruan Tinggi seluruh DIY, Pemda DIY dalam hal ini gubernur, Kapolda, Danrem dan Kejaksanaan Tinggi,” ucapnya.
Pardimin mengatakan tujuan Aksi Kebangsaan Perguruan Tinggi Melawan Radikalisme adalah untuk mempertegas sikap perguruan tinggi bersama civitas akademika di masing-masing kampus untuk melawan radikalisme, intoleransi, serta menjadi benteng bagi Pancasilan, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Menurutnya, hal tersebut terus perlu dilakukan sebagai upaya untuk menjaga Indonesia, karena jika tidak terus dipelihara, ada kemungkinan Indonesia masa depan akan tercerai berai. Pardimin mencontohkan Uni Soviet, negara adikuasa pada zamannya yang kemudian terpecah-pecah menjadi beberapa negara.
“Uni Soviet siapa yang mengira akan hancur. Kalau Indonesia tidak kita pelihara kemungkinan besar akan tinggal kenangan,” tegasnya.
Terpisah, Rektor Universitas Kristen Duta Wacana, Henry Feriadi mengatakan Aksi Kebangsaan Perguruan Tinggi Melawan Radikalisme akan diselenggarakan di Stadion Mandal Krida Pukul 15.00 WIB. Ia menyatakan rencananya acara akan dihadiri 25.000 peserta.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Nasib banyak Masyarakat Adat justru kian terancam oleh ambisi transisi energi global.
76 Indonesian Downhill 2026 di Bantul hadir dengan track ekstrem. Seeding run panas, final diprediksi makin sengit!
Presiden Kelima RI yang juga Ketua Umum DPP PDI Perjuangan (PDIP), Prof. Dr. Megawati Soekarnoputri, menghadiri resepsi pernikahan Ignatius Windu Hastomo (Igo)
DPD DIY dorong percepatan pengesahan RUU Masyarakat Adat demi kepastian hukum dan perlindungan hak masyarakat adat.
Penelitian terbaru ungkap pola tulisan tangan bisa jadi indikator awal penurunan fungsi kognitif pada lansia.
Rupiah melemah ke Rp17.800, DPR tegaskan kondisi bukan krisis 1998. Sektor perbankan dinilai masih stabil.