Kadin dan UGM Jalin Kerja Sama
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menjalin sinergi dengan Perguruan Tinggi.
Kegiatan Yogya Semesta Masuk Desa seri 106, di Balai Desa Ngalang, Gedangsari, Jumat (6/4/2018)./Harian Jogja-Herlambang Jati Kusumo
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL-Dinas Sosial (Dinsos) DIY bersama Kecamatan Gedangsari selenggarakan kegiatan Yogya Semesta Masuk Desa seri 106, di Balai Desa Ngalang, Gedangsari, Jumat (6/4/2018). Topik yang dibahas dalam kegiatan tersebut, pelurusan data kemiskinan DIY upaya penyadaran martabat manusia.
Kepala Dinsos DIY Untung Sukaryadi mengatakan, Dinsos memilik ranah di bidang penyuluhan. “Penyuluhan ini diharapkan informasi-informasi dapat mengubah perilaku tata kelola masyarakat semakin baik lagi, yang dimana Gedangsari masih menjadi satu dari 16 masyarakat termiskin,” ucapnya.
Dia mengatakan, problem pengentasan permasalahan sosial yang kurang tuntas, yaitu permasalahan data. Data tersebut kurang akurat menurut Untung karena data perlu akurasi dan informasi dari bawah yang benar-benar akurat, yang terkadang masih salah.
Untung mengatakan, data tersebut perlu akurasi dan informasi dari bawah, agar dapat memberikan data Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) secara akurat. Agar program-program pengentasan permasalahan tersebut tepat sasaran dan bermanfaat.
“Data kan dinamis, sekarang miskin sebulan lagi kaya bisa, begitupun sebaliknya. Hal ini perlu verifikasi data setiap bulan. Nanti dalam kegiatan ini juga ada pementasan wayang cakruk, karena problem masyarakat itu biasanya diskusinya di gardu. Di situlah muncul permasalahan dan solusi, nanti dalang akan menyampaikan,” ucapnya.
Dia mengatakan saat ini juga Dinsos terus berupaya menekan angka permasalahan sosial dengan berbagai upaya mulai dari pemberdayaan, perlindungan jaminan social, dan rehabilitasi.
“Kalau ada orang yang banyak masalah harus diberi solusi orang yang bisa memberikan pemecahan masalah itu. Kami ada penyuluh sosial juga baik formal, informal, ketugasan, maupun sukarela. Wayang cakruk nanti juga sebagai salah satu media seni penyuluhan,” ucapnya.
Salah satu narasumber, yang juga merupkan Staf pengajar STIE-YKPN, Bidang Keahlian Statistik, Wing Wahyu Winarno mengatakan, saat ini data kemiskinan masing-masing instansi berbeda. Hhal itu disebabkan setiap instansi memiliki kriteria yang berbeda.
“Mereka punya rumus sendiri-sendiri jadi hasilnya juga beda. Oleh karena itu, kalau kita ingin menggunakan data kemiskinan ini tergantung untuk apa. Kalau untuk hubungan Dinsos, ya ikut Dinsos, kalau dengan Dinas Kesehatan ya beda lagi. Jika mau disamakan rumusnya, syarat-syaratnya harus sama, misal lantai masih tanah belum ubin. Tetapi problemnya lantai masih tanah tapi punya truk lima, ini sebenarnya tidak miskin,” ujarnya.
Menurutnya hal tersebut dapat disamakan, tetapi memang cukup sulit, karena setiap instansi memiliki kriteria sendiri. Menurutnya jika memang akan disamakan semua lembaga harus duduk bersama dan diskusi bersama. “Solusi dinas maupun kementerian dapat membuat rumusan terkait kriteria rakyat miskin,” ucapnya.
Dalang dalam wayang cakruk yang dipentaskan dalam acara tersebut, Waluyo mengatakan, ia mengangkat cerita Gedangsari bangkit. “Karena Kecamatan Gedangsari, tentang Dinsos pelurusan data. Sampai rastra, PKH dikira pusat salah, padahal harus dilihat dari bawah juga itu. Hal tersebut perlu dilakukan penyuluhan, karena dirasa saat ini masih ada orang mampu yang mendapatkan bantuan,” ucapnya.
Camat Gedangsari, Imam santosa menyambut baik kegiatan diskusi tersebut. “Harapannya ke depan ada perubahan signifikan khususnya angka data kemiskinan di Gedangsari, mungkin saat ini masih ada yang salah,”ucapnya.
Dia juga berharap dengan kegiatan itu jika ada bantuan lebih tepat sasaran ke masayarakat yang membutuhkan . Sehingga kesejahteraan masyarakat meningkat. Menurutnya saat ini Gedangsari memiliki potensi wisata juga yang dapat mendongkrak kesejahteraan.
Dia mengatakan, walau daerahnya dinilai masuk daerah yang masih miskin, tetapi menurutnya untuk kebutuhan pokok masyarakat sehari-harinya sudah cukup terpenuhi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menjalin sinergi dengan Perguruan Tinggi.
Menkeu Purbaya memastikan pembiayaan MBG dan pengadaan alutsista tetap aman dengan defisit APBN dijaga di bawah 3 persen.
Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta kembali menggelar EduCareer Connect 2026 bertajuk “From Campus to Career: Connecting Education, Opportunities
Penataan sempadan Sungai Lowanu Jogja dipercepat untuk mencegah longsor sekaligus mendukung wisata kuliner yang aman.
Gempa Sukabumi Magnitudo 4,5 mengguncang Jawa Barat akibat aktivitas sesar aktif bawah laut, BMKG pastikan belum ada gempa susulan.
DPAD DIY mengakuisisi untuk mengelola arsip termasuk arsip pribadi, seniman, budayawan dan arsip-arsip yang menyimpan memori kolektif.