83.757 Warga Gunungkidul Alami Kekeringan, Target Bantuan Air Menyusut
Target droping air bersih BPBD Gunungkidul turun menjadi 800 tangki akibat efisiensi anggaran dan kenaikan BBM non-subsidi.
Ilustrasi sapi./IST
Harianjogja.com, Bantul--Penyembelihan sapi betina di wilayah Bantul masih terjadi. Hal ini berdasarkan temuan pencegahan penyembelihan sapi betina di Unit Pelaksana Teknis (UPT) Rumah Pemotongan Hewan Bantul.
Data dari Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan Bantul, hingga Selasa (10/4/2018), UPT RPH telah mencegah penyembelihan sapi betina produktif sebanyak sepuluh ekor. Upaya pencegahan pun terus dijalankan karena setiap bulan ada 30-an sapi betina akan disembelih.
Kepala Disperpautkan Bantul Pulung Haryadi mengatakan potensi penyembelihan sapi betina produktif masih ada. Menurut dia, potensi ini terlihat dari pencegahan penyembelihan yang dilakukan oleh UPT RPH.
“Kalau ada yang dicegah berarti yang mau disembelih ada,” kata Pulung kepada wartawan, Rabu (10/4/2018).
Dia menjelaskan setiap bulan ada sekitar 30 sapi betina yang akan disembelih. Namun upaya tersebut berhasil dicegah oleh UPT RPH. Pencegahan dilakukan karena penyembelihan sapi betina produktif masuk ke ranah pidana. Hal ini diatur dalam Undang-Undang No.14/2014 tentang Peternakan dan Kesehatan, pasal 18 ayat 4. Di dalam pasal itu mengatur tentang larangan menyembelih ternak ruminansia betina produktif.
“Di dalam aturan ini termasuk sapi betina tidak boleh disembelih. Sebab, kalau melanggar bisa terancam pidana penjara maksimal tiga tahun dan denda sedikitnya Rp100 juta hingga paling banyak Rp300 juta,” ujarnya.
Adanya aturan ini, Pulung mengakui terus memyosialisasikan larangan menyembelih sapi betina produktif.
“Kalau sampai [ketahuan menyembelih sapi betina produktif] pemilik akan celaka dua kali karena sudah kehilangan sapi, juga terancam pidana. Jadi sebelum terjadi, kami terus lakukan sosialisasi,” katanya lagi.
Larangan penyembelihan sapi betina produktif untuk meningkatkan populisasi sapi. Hingga saat ini, jumlah sapi di Bantul mencapai 56.000 ekor.
“Agar populasi terus bertambah maka ada larangan menyembelih sapi betina produktif. Untuk tahun ini, kami menargetkan ada 34.000 ekor sapi wajib bunting sehingga jumlah populasi di Bantul bisa terus bertambah,” katanya.
Ketua Paguyuban Daging Sapi Segoroyoso (PDSS) Ilham Ahmadi mengatakan sosialisasi larangan menyembelih sapi betina produktif telah dilakukan oleh Diperpautkan Bantul maupun kepolisian.
“Sosialisasi sudah pernah diberikan yang intinya dilarang menyembelih sapi betina produktif karena bisa masuk kategori pidana,” kata Ilham.
Menurut dia, larangan ini menimbulkan dilema di pasaran karena membuat harga jual sapi betina jadi menurun. “Semua takut kalau terkena pidana. Mungkin agar lebih jelas, silakan cek ke pasar karena banyak masyarakat yang khawatir dengan adanya larangan tersebut,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Target droping air bersih BPBD Gunungkidul turun menjadi 800 tangki akibat efisiensi anggaran dan kenaikan BBM non-subsidi.
Revisi Perda KTR Jogja ditunda ke 2027. Reklame rokok direncanakan berjarak 200-300 meter dari fasilitas tertentu.
BNPB memperkuat penanganan karhutla di enam provinsi dengan mengerahkan helikopter patroli, OMC, dan water bombing.
DPRD Gunungkidul menargetkan pembahasan tiga raperda inisiatif rampung awal September, mencakup reklame dan perlindungan petani.
BYD, CATL, Geely hingga Gotion mengembangkan baterai solid-state yang ditargetkan diuji pada mobil listrik mulai 2027.
Pemain ketoprak meninggal saat pentas di Bantul. Polisi memastikan tidak ada tanda kekerasan dan korban meninggal akibat henti jantung.