Kendala Gawai dan Jaringan Hambat Aktivasi IKD di Gunungkidul
Aktivasi Identitas Kependudukan Digital di Gunungkidul baru mencapai 6,4 persen. Disdukcapil memperluas layanan jemput bola untuk mengejar target 20 persen pada
Siswa SMP Negeri 2 Sewon saat mengerjakan soal UNBK di hari pertama ujian, Senin (23/4/2018)./Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, BANTUL -- Tiga siswa SMP di Bantul terpaksa mengerjakan soal ujian dengan menggunakan kertas. Kebijakan ini dilakukan karena ketiganya merupakan anak berkebutuhan khusus yang takut dengan komputer.
Kepala SMP Negeri 2 Sewon Harjiman mengatakan ketiga siswa yang tidak menggunakan komputer telah mendapatkan izin khusus untuk mengerjakan soal menggunakan kertas. Kebijakan ini dilakukan karena ketiganya takut dengan komputer sehingga tidak bisa mengerjakan soal UNBK.
"Nanti dalam tes akan ada keterangan bahwa siswa tidak bisa menggunakan komputer karena jika menggunakan perangkat itu ketiganya akan takut dan drop mentalnya. Oleh karenanya kami minta dispensasi khusus ke dinas kabupaten maupun provinsi," kata Harjiman kepada wartawan, Senin (23/4/2018).
Dia menjelaskan teknis pelaksnaan ujian bagi ketiga siswa, sekolah mengunduh soal UNBK kemudian dikerjakan secara manual. Selain itu, ketiganya juga akan tetap mendapatkan pendamping khusus dari guru Sekolah Luar Biasa. "Sebenarnya di tempat kami [SMP Negeri 2 Sewon] ada lima siswa berkebutuhan khusus, tapi yang dua bisa mengerjakan seperti siswa normal sehingga bisa mengerjakan dengan komputer," katanya.
Kepala Disdikpora Bantul Didik Warsito membenarkan ada tiga siswa yang mengerjakan soal dengan menggunakan kertas. Menurut dia, hal tersebut bukan menjadi masalah dikarenakan keterbatasan para siswa.
"Mereka adalah siswa anak berkebutuhan khusus, jadi tidak masalah mengerjakan soal dengan kertas. Apalagi sudah mendapatkan izin khusus," kata Didik.
Terkait pelaksanaan UNBK di hari pertama, dia mengaku belum ada masalah dan secara umum berjalan Lanjar. Meski demikian, ia mendapatkan laporan ada siswa yang harus menginap di sekolah karnea masalah kesehatan.
"Siswa yang menginap ada di SMP Negeri 1 Banguntapan. Sedang satu siswa di SMP Negeri 4 Pandak juga sakit tapi bisa datang mengerjakan soal," katanya.
Bupati Bantul Suharsono saat sidak ke SMP Negeri 2 Sewon meminta kepada jajarannya untuk benar-benar memperhatikan kelancaran ujian. Ia mencontohkan saat ada siswa yang sakit harus bisa diberikan fasilitas sehingga dapat melaksanakan ujian dengan baik. "Sudah saya instruksikan agar dibantu sehingga mereka yang mendapatkan halangan tetap bisa melaksanakan ujian ," kata Suharsono.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Aktivasi Identitas Kependudukan Digital di Gunungkidul baru mencapai 6,4 persen. Disdukcapil memperluas layanan jemput bola untuk mengejar target 20 persen pada
Mahasiswa perlu mendapatkan pemahaman SNI dan mendorong lulusan memiliki sertifikat kompetensi agar siap bersaing di dunia kerja.
Kimaya Sudirman Yogyakarta by HARRIS kembali menghadirkan berbagai penawaran spesial bagi pasangan yang ingin mewujudkan pernikahan impian.
Said Iqbal mengusulkan penghapusan pajak JHT, THR, dana pensiun, dan pesangon kepada Menteri Keuangan demi meningkatkan kesejahteraan buruh.
PM India Narendra Modi berjanji kembali ke Indonesia sebelum 2029 untuk meresmikan Candi Prambanan setelah restorasi bersama rampung.
Pemkab Kulonprogo menggabungkan Disdag dan DisperinkopUKM mulai Januari 2027 demi meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelayanan.